TV dan Sensor Rokok

Agak mengejutkan untuk saya. P3SPS yang diterbitkan tahun ini memuat satu aturan yang untuk saya aneh. Tidak hanya aneh, tapi tidak masuk akal juga. Yang membuat saya menganggap ini tidak masuk akal adalah karena jika dihubungkan dengan upaya pemerintah dengan hasil yang diharapkan, rasanya justru akan berkebalikan.

Di P3SPS 2012 ini, ada satu aturan: penyensoran adegan merokok/rokok/yang berhubungan dengan rokok yang ditampilkan di TV. Sejujurnya saya bingung dengan aturan ini. Saya tahu tujuannya baik, seperti yang sudah dilakukan dengan gencar oleh pemerintah melalui berbagai peraturan dari berbagai tingkat, terutama yang terbanyak melalui perda atau peraturan daerah yang mengatur kawasan bebas rokok. Namun tujuan pemerintah untuk menyehatkan negara ini dengan mengurangi perokok aktif melalui penyensoran rokok/orang yang merokok/sejenisnya, efektifkah?

Kalau dibilang agar anak kecil tidak merokok atau mengurangi remaja/yang lebih muda dari remaja menjadi perokok, saya berpendapat hal ini akan memicu anak kecil yang rasa keingintahuannya tinggi itu untuk mencari tahu lebih dalam dan bahkan lebih ekstremnya, mencoba merokok sekalian. Saya yang sekarang sudah berumur 18 tahun saja bingung kenapa tangan si bapak penjual gorengan itu tiba-tiba menjadi buram, sampai akhirnya saya mengetahui dari gerakan tangannya yang mendekat ke mulutnya, bahwa si penjual gorengan itu merokok. Nah, bagaimana kalau anak kecil yang menonton acara yang kebetulan jam tayangnya itu bisa dijangkau oleh anak kecil (pagi hari) bertanya kepada orang tuanya, “itu kenapa tangannya kok buram?”

Mungkin orang tuanya akan menjawab dengan santai. “Merokok.” Dan mungkin anak ini akan diam, terutama jika orang tuanya tidak terlalu dekat dengannya. Si anak ini akan menyimpan berbagai pertanyaan seperti apa itu merokok? Bagaimana cara melakukannya? Contohnya seperti apa? Dan mungkin beberapa lagi. Masalahnya anak kecil belum menjadi orang yang kritis, atau tingkat kekritisannya masih belum setinggi kita yang dewasa. Kebanyakan anak kecil tidak memikirkan dampak. Lihat saja anak kecil yang suka bermain “sembarangan” di jalanan kampung atau di tempat-tempat yang kita anggap berbahaya. Mereka belum mengenal dampak atau bahaya. Yang mereka kenal adalah coba dan senang, karena dunia mereka adalah dunia bermain yang menyenangkan dan ingin tahu segalanya, belum memikirkan dampak.

Jadi, alih-alih mengurangi, ini akan membuat anak kecil semakin penasaran untuk mencari rokok dan mencari tahu cara menggunakannya. Untuk saya, satu-satunya cara yang paling efektif di media televisi untuk upaya mengurangi jumlah perokok adalah dengan mengurangi atau sekaligus menghapuskan yang bernada dukungan terhadap rokok. Iklan atau sponsor misalnya. Pemerintah terdahulu sudah menerapkan aturan yang bagus, dari yang sebelumnya iklan rokok boleh tayang di jam berapapun juga, sekarang hanya menjadi 21.30-05.00 waktu lokal (yang artinya kalau TVnya TV nasional maka di Papua dan wilayah lain yang berwaktu Indonesia Timur mendekati jam 07.00 masih ada iklan rokok). Aturan bahwa rokok dan adegan merokok tidak boleh diperagakan dalam iklan produk rokok juga sudah cukup baik. Tapi kalau mau ditegaskan sekalian, larang saja rokok memasang iklan di TV. Untuk adegan merokok, biarkan saja tetap tayang, karena realitanya keuangan negara ini juga terbantu dengan orang-orang yang merokok ini, malah bukan terbantu lagi, tapi sangat membantu.

Dan jika adegan merokok tetap tayang, untuk saya bukan TVnya yang disensor, tapi orang tua sebagai yang paling bisa mengawasi tontonan anaknya lah yang perlu diedukasi. Pemerintah harus aktif mengingatkan kepada orang tua (terutama yang tidak merokok) untuk memberikan pemahaman yang tepat kepada anak-anaknya untuk tidak merokok juga. Contoh bahwa orang tua tidak merokok sebetulnya sudah sangat efektif untuk mencegah anak-anak merokok. Namun contoh saja tidak cukup. Harus (lagi-lagi) diberi pengertian agar tidak merokok. Perkara melarang atau tidak, terserah orang tuanya. Yang terpenting anak sudah diberi pengertian untuk tidak merokok. Dan satu lagi yang perlu di-pengertian-kan, anak ini (jika memang orang tua ingin anaknya tidak merokok) diajarkan untuk tidak membenci perokok. Mungkin sama seperti ketika kita memberi pengertian melalui slogan “Jauhi virusnya, bukan orangnya.” Untuk perokok, mungkin kita bisa membuat slogan “jauhi rokok dan asapnya, bukan perokoknya.”

5 thoughts on “TV dan Sensor Rokok

  1. Iklan rokok tayang di TV itu mulai pukul 21.30 sampai tengah malam. Bisa aja sampai jam 05.00, tapi itu berlaku selama Ramadhan (:p.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s