Pro Kontra Resepsi Pernikahan Anang – Ashanty yang Disiarkan Langsung di TV

20 Mei 2012 merupakan hari yang bersejarah untuk Anang Hermansyah dan Ashanty karena mereka menyelenggarakan resepsi pernikahan yang besar di Jakarta. Dalam acara resepsi itu mereka selain mengundang rekan sesama artis dan lainnya, mereka juga mengundang seluruh masyarakat Indonesia untuk “datang” ke resepsi pernikahan mereka di kelas yang sering saya sebut sebagai TVIP, kelas di mana kita ikut menjadi saksi sebuah acara melalui televisi, dalam hal resepsi pernikahan Anang – Ashanty ini adalah RCTI yang menyiarkannya secara langsung dan eksklusif.

Saya pikir tidak akan ada yang protes dengan tayangan ini. Secara pribadi, saya tidak mempermasalahkan adanya penayangan acara pernikahan atau resepsi pernikahan dari siapapun. Setidaknya dari acara itu saya bisa belajar bagaimana sebaiknya menghadiri sebuah resepsi pernikahan pada kelas yang seperti itu (atau kita sebut sajalah sebagai kelas atas, namanya saja artis). Saya juga merasa terhibur dengan adanya tayangan ini karena memberikan sebuah suguhan program yang berbeda dan jarang juga kita tonton.

Tapi memang tidak lengkap hidup di Indonesia jika tidak ada pro kontra. Saya bukan orang yang pro ataupun yang kontra, karena saya sedikit banyak sepaham juga dengan mereka yang kontra. Beberapa dari mereka yang kontra mengatakan bahwa seharusnya frekwensi publik seperti yang digunakan RCTI mestinya digunakan untuk melayani kepentingan publik dan seharusnya digunakan untuk sesuatu yang lebih penting untuk publik. Ya, ini juga benar. Kalau melihat acara Anang – Ashanty, ini sebenarnya juga bukan acara yang publik publik amat.

Kontra lainnya, mengatakan bahwa tidak seharusnya acara seperti ini tayang di TV karena masih banyak masyarakat kita yang kehidupannya di bawah garis kehidupan layak. Kasarnya, orang miskin diberi gambar si kaya dan bikin sakit hati si miskin. Menurut saya, ini pernyataan kontra yang sedikit aneh. Kenapa? Coba kita perhatikan sinetron. Walaupun saya cenderung menghindari sinetron sebagai tayangan utama, tapi kalau saya sedang menonton beberapa episode sinetron saya juga sering melihat tentang keluarga kaya dan keluarga miskin yang parahnya menurut saya kadang-kadang seperti dibandingkan dan kadang seakan harus ada perang antara keluarga kaya dan miskin dengan kebanyakan cerita si kaya memusuhi si miskin, walaupun tidak selamanya sinetron menawarkan cerita seperti itu, ada juga sinteron yang jalan ceritanya bagus. Tapi seringnya kita melihat dalam episode sinetron tentang perayaan yang dilakukan keluarga si kaya, misalnya. Memang ini cuma akting, tapi apa bedanya dengan kehidupan nyata? Fiktif memang, tapi juga ada di kehidupan nyata. Jadi untuk saya tidak ada bedanya antara perayaan orang kaya di sinetron dengan resepsi pernikahan. Kalaupun ada bedanya, mungkin di durasi dan teknisnya saja, yang sinetron cenderung singkat dan rekaman, serta akting. Yang satu lagi memang panjang (3 jam) dan langsung, serta nyata.

Tapi untuk tanggal 20 Mei 2012 saya rasa kita sedang tidak memiliki agenda yang penting juga. Kalaupun memang perayaan 104 tahun Kebangkitan Nasional, saya juga tidak melihat ada suatu program dari pemerintah yang membuat perayaan ini lebih penting dari sekadar sebuah resepsi pernikahan. Kalau memang Kebangkitan Nasional lebih penting maka seharusnya pemerintah membuat suatu acara yang membuat kita ingat bahwa kita sedang memperingati perjuangan para pahlawan negara ini untuk merdeka dari penjajah, yang pada 20 Mei 1908 perjuangan organisasional-nasional kita dimulai dengan berdirinya Boedi Oetomo, setelah sebelumnya perjuangan kita selalu setingkat kedaerahan saja. Tidak harus besar dan mewah seperti ketika 100 tahun Kebangkitan Nasional pada tahun 2008 lalu, tapi seharusnya pemerintah bisa membuat acara yang setidaknya bisa “mengimbangi” acara pernikahan ini dan membuat televisi hadir di dua tempat, perayaan Kebangkitan Nasional dan Pernikahan Anang – Ashanty.

Jadi, secara umum, untuk saya tayangan ini tidak bermasalah karena kita sedang tidak memiliki agenda penting atau yang lebih penting daripada pernikahan ini pada hari itu. Durasi yang sekitar 3 jam saya rasa juga tidak berlebihan (walaupun saya memang tidak menonton secara utuh acara ini). Acara yang berlangsung di pernikahan tersebut juga cukup wajar untuk saya, tidak ada yang berlebihan.

Sedikit tambahan saja, siaran ini mengingatkan saya pada resepsi pernikahan Khalid Mohammad Jiwa dan Siti Nurhaliza yang pada saat itu juga ditayangkan secara langsung dan eksklusif oleh TV3 Malaysia ke seluruh negeri. Jika saya tidak salah, acara pernikahan Datuk K dan Siti Nurhaliza pada saat itu durasinya lebih panjang, sekitar 4 jam. Mohon koreksinya jika saya salah mengingat durasinya.

12 thoughts on “Pro Kontra Resepsi Pernikahan Anang – Ashanty yang Disiarkan Langsung di TV

  1. Ya sebenarnya sih gak apa-apa juga ya, namanya juga berbagi kebahagiaan. Tapi mungkin pesta yang mewah banget itu agak-agak gimana ya. Kesannya gak prihatin sama keadaan sekitar, jadi citra mereka dimata orang mungkin jadi jelek. Aku liat di Twitter, banyak banget yang nyindir kaya begitu

    • Iya itu masuk akal juga. Tapi kebetulan 2009 kan juga ada acara yang diprotes dengan alasan yang sama tuh, deklarasi capres-cawapres yang terlalu mewah tanpa memperhatikan kondisi sekitar (dan kebetulan sekarang menjabat sih). Dulu protesnya langsung ke partai pengusungnya. Nah yang ini, kenapa TVnya dibawa-bawa juga? Maksudku sih protesnya kalo ke empunya acara mungkin oke, tapi ini TVnya juga ikutan diprotes sama masyarakat hehe
      Tapi ini alasan yang paling banyak dikemukakan juga emang. Masalah sosial ekonomi di negara ini masih sensitif. Iya ngga sih? Hehehe

      • Bener juga, dulu kan kayanya protesnya besar-besaran bgt. Dan kalo protes harusnya ya mungkin ke mempelai yang berbahagia itu *ea. Tapi, mungkin mereka protes ke tv karena ‘kenapa mau sih nerima tayangin acara kaya gini? sampe berjam-jam pula?’

        Iya, masalah sosial ekonomi gak bisa disinggung hoho

      • Ya mestinya ke mempelai dulu hihi. Masalahnya TV swasta kan orientasinya bisnis. Kalo bisa memberi keuntungan pasti diambil lah. Cuma memang seharusnya dipikirin juga sih dampaknya kalo mau nayangin hehe. Tapi aku juga ga menduga lho kalo ternyata ada dampak yang kayak gini

  2. Kalau gitu, kenapa gak diprotes dari dulu pas masih acara Jodohku itu? Itu kan diceritain semua, mulai dari kehidupan mereka sampai persiapan pernikahan
    BTW, pernikahan Siti Nurhaliza itu tahun berapa ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s