Tenggelam dalam Panji KOMPAS “TV”

In English: http://davenirvana1english.wordpress.com/2012/09/21/sinks-under-the-name-of-kompas-tv

Di awal kehadiran KOMPAS “TV” terus terang saya merasa senang. Saya senang karena dari website dan preview program yang
tayang di TV lokal, saya merasa ada yang berbeda dengan program-program yang telah tayang di TV-TV nasional yang cukup “mainstream.” Saya merasa TV7 hadir kembali dengan konsep yang lebih matang walaupun tayangan olahraganya hilang. Kita ingat TV7 merupakan official broadcaster untuk Liga Inggris selama beberapa tahun di awal kemunculannya dan menghilang ketika TV7 diambil oleh TRANS Corp dan dijadikan TRANS 7.

Ketika 2011 kemarin KOMPAS mulai kembali “bermain” di media “kotak ajaib” ini, saya menyambutnya dengan senang. Namun euphoria ini berakhir seketika ketika saya mengetahui KOMPAS yang katanya “TV” ini ternyata berjalan tanpa ijin sebagai TV. Padahal seingat saya KOMPAS telah berkonsultasi dengan KPI, sehingga saya pikir KOMPAS sudah mengurus ijin sebagai LPS Televisi. KPI juga mengapresiasi tayangan yang ditawarkan oleh KOMPAS. Tapi kenyataan berkata berbeda. KOMPAS melakukan teknik “ajaib” dengan menyebut lembaganya sebagai penyedia konten.

KPI akhirnya melarang KOMPAS menggunakan kata “TV” di logo dan apapun tayangan yang dibuatnya, dan saya mencoba untuk  “mengawasi” larangan dari KPI ini. Setidaknya di awal memang sudah dilakukan. Tapi kita saksikan saja. Akhir-akhir ini KOMPAS sering menggunakan kata “TV” dalam tayangannya. Terutama dalam program berita, kita bisa melihat newsticker yang menyatu dengan banner berita, selalu muncul tulisan “KOMPASTV.” Dalam narasi juga demikian, selalu disebut: “Tim liputan/KOMPASTV/Jakarta////////////” misalnya. Tapi, ada yang lebih saya sesalkan lagi.

Jika ada liputan dari luar wilayah Jakarta, selalu saja disebut “KOMPASTV.” Padahal, kita tahu, KOMPAS melakukan teknik berjaringan dengan TV lokal eksisting. Misalnya saja dengan atv Batu, bctv Surabaya, ktv Serang, dan beberapa TV lokal lainnya. Tapi, kita tidak pernah mendengar KOMPAS mengapresiasi TV lokal yang diajak “kerjasama” tersebut. Sebut saja ada liputan dari daerah Malang Raya, di akhir narasi pasti akan disebutkan “Tim liputan/KOMPASTV/Malang////////////.” Padahal kita tahu di daerah Malang tidak ada “KOMPASTV Malang,” yang ada adalah atv Batu. Berita yang sama juga tayang di program Agropolitan News, program berita atv yang sudah ada sejak awal atv berdiri. Hanya di Agropolitan News itulah narasi berita berbunyi “Tim liputan/atv/melaporkan////////////.”

Begitu juga jika ada narasumber dari luar Jakarta, pasti penyiar tidak akan menyebut nama TV lokal. Contohnya saja, jika ada narasumber dari Surabaya, pasti penyiar akan menyebut “dan telah bergabung bersama kita/bla bla bla/seorang bla bla bla/di studio KOMPASTV Surabaya//Selamat sore/” dan seterusnya. Kita tahu, tidak ada “KOMPASTV” di Surabaya, yang ada adalah bctv Surabaya.

Sejujurnya saya menyayangkan hal ini terjadi begitu saja. Tidak ada apresiasi dari KOMPAS kepada TV lokal yang diajak kerjasama. Padahal dari artikel yang saya baca dulu, pihak atv Batu mengatakan “ini akan menguntungkan kita, karena logo atv akan muncul secara nasional dan dapat membuat keberadaan TV lokal kita diketahui secara luas.” Tapi kenyatannya, bahkan disebut saja tidak, apa lagi logonya. Saya belum pernah melihat logo atv muncul secara nasional melalui KOMPAS, sekali lagi yang katanya “TV.” Kalau KOMPAS cetak, sekali dua kali pernah. Di koran Surya di Jawa Timur, logo bctv setiap hari muncul dalam bagian “Nonton apa hari ini?”

Harapan? Tentu saja ada. Pertama, saya berharap logo atv dan TV lokal lainnya yang logonya diganti seperti bctv Surabaya kembali ke logo awalnya, bukan logo yang digunakan sekarang, logo dari KOMPAS. Kedua, saya juga berharap, KOMPAS bisa mengapresiasi TV lokal yang diajak kerjasama, seperti dengan setidaknya menyebut nama TV lokal tersebut jika ada liputan dari TV lokal yang tayang secara nasional, atau jika narasumber berada di luar Jakarta dan hadir di studio daerah. Ketiga, jika ada live report yang berasal dari daerah yang ada TV lokalnya, saya berharap logo yang ada di mikrofon yang digunakan oleh reporter memunculkan logo TV lokal, kecuali jika tim KOMPAS sendiri yang turun langsung, bolehlah menggunakan logo KOMPAS. Begitu juga dengan seragam reporternya, sekali lagi kecuali jika tim KOMPAS sendiri yang turun di lapangan.

Apakah yang membuat harapan saya pupus adalah karena semua ini adalah bagian dari perjanjian yang sudah disepakati kedua belah pihak (KOMPAS dan TV-TV lokal yang diajak kerjasama)? Saya juga kurang tahu. Yang pasti, dari pencarian yang saya lakukan di beberapa jejaring sosial, beberapa karyawan TV lokal lebih bangga menyebut dirinya sebagai karyawan “KOMPAS TV” dan bukan karyawan TV lokal tempatnya berada. Kalau yang ini sebenarnya bukan ranah saya. Tapi sejujurnya saya merasa sedikit kecewa dengan sikap ini. Bukan berarti tidak ada, tapi hasil pencarian saya juga masih menemukan mereka yang dengan bangga menyebut dirinya sebagai karyawan TV lokal, bukan sebagai karyawan “KOMPAS TV.” Saya sangat mengapresiasi mereka yang bangga dengan identitas lokalnya ini.

Akhir-akhir ini KOMPAS mulai memunculkan kata “TV” lagi di logonya, setidaknya di bagian iklan. Ada setidaknya satu iklan baru yang menggunakan kata “TV” untuk logo di bagian akhir iklan, yaitu iklan sebuah series (jika tidak ingin disebut sinetron) yang akan segera tayang di KOMPAS. Narasinya juga menggunakan kata “TV” sehingga menjadi “KOMPASTV.” Saya tidak akan melaporkan ini ke KPI. Saya ingin tahu seberapa proaktif KPI mencegah hal ini terjadi, yang notabene merupakan aturan yang dikeluarkannya sendiri pada 7 September 2011 lalu. Sejujurnya saya juga gemas melihat KPI yang selalu menindak pelanggaran hanya jika sudah ada laporan dari masyarakat.

75 thoughts on “Tenggelam dalam Panji KOMPAS “TV”

  1. Dave. Coba km share tulisanmu ini k twitternya kompas TV biar dibaca sama mreka xD yah, aku jg melihat perkembangannya. Coba dave prhatikan d opening.nya kompas sblm mulai acara. Biasanya kan yang mukul gong itu lalu ada prempuan” dr berbagai daerah yg mengumpulkan bangun segitiga dan membentuk huruf “K”nya Kompas. Lalu d akhir kan lagunya “Kompas TV Inspirasi Indonesia”. Nah skarang udah hmpir gak pke itu lagi. Skarang cuma gambar kapal yang bertuliskan kompas, tapi yg d soroti d sini lagunya. Skarang lagunya hanya “Inspirasi Indonesia”. Bicara logo, aku liat d youtube klo bctv itu saat shooting acara lokal, logo bctv bgantian dg logo Kompas. Knapa atv nggak ya dave?

    • Terima kasih Rey apresiasinya🙂
      Untuk Station ID sekarang rata-rata pakai versi pendek, lirik lagunya cuma “Inspirasi Indonesia” tapi versi panjang dan versi yang lebih panjang lagi masih pakai “KOMPASTV Inspirasi Indonesia” seperti yang Rey sebut
      Kalau logo aku secara langsung juga pernah nonton. Logonya emang gantian bctv – ikon KOMPAS kalo lagi siaran lokal. Kalo atv Batu ngga gitu, mungkin karna Malang Raya dianggep “wilayah kecil” jadi logo KOMPAS ngga terlalu banyak dipasang. Di B CHANNEL juga sama. Di Surabaya, logo mntv sama B CHANNEL muncul bersamaan. Di Malang, logonya B CHANNEL ditumpuk iklan sama ndtv. Pasti ada alasan bisnis yang ruwet di balik itu hehehe

  2. Maaf klo aku reply.nya d sini. Soalnya aku OL via hp dan tidak bisa reply yg d atasnya. Iya. Sblm Kompas Malam ada yg versi full.nya. Iya sih. Malang kan cakupannya jga kcil. Beda sama surabaya yang cakupannya besar. Selain itu aku jga mperhatikan slogannya. Klo atv dlu kan Selalu di Hati, bctv Maju Bersama dll. Skarang dah d ganti jadi Inspirasi Malang Raya Inspirasi indonesia untuk atv dan Inspirasi Jawa Timur untuk bctv. Apa hal ini jga berpengaruh dalam trik KompasTV?

    • Wait dave. Tadi aku smpat liat sekilas pas iklan, pas akhir dari iklannya itu tulisannya KompasTV. Ada TV.nya. Tapi baru 1 iklan yg kulihat. G tau lg lainnya

    • Ga masalah, yang penting terbaca n nyambung sama yang sebelumnya🙂
      Kalo masalah slogan itu juga mestinya bisa slogan lokal, tapi ini sloganya ngga otonomi sama sekali
      Dalam bisnis, yang berhak “mengubah produk”nya perusahaan kan pemegang saham. Kalo sampe slogan sama logonya berubah, kita boleh “curiga” kalo yang dijalanin KOMPAS ini bukan cuma “kerjasama,” tapi beli saham. Jadi bukan trik, tapi memang itu haknya pemegang saham. Tapi kan ke publik bilangnya “kerjasama” padahal kalo mau dipikir lebih lanjut sebenernya yang dilakuin ini ngga mungkin sekedar “kerjasama” karna KOMPAS bisa “nyetir” perusahaan itu
      Kayak antv dulu kan logonya jadi ada STARnya karna STAR Corp beli sahamnya antv. Kalo STAR Corp ga beli saham, ga mungkin STAR berani ngeganti tampilannya antv. KOMPAS juga sama, ga mungkin KOMPAS bisa “ngutak-atik” TV lokal itu kalo ngga beli saham

      • iya juga ya. jadi inget jga dlu TRANS ngontrol TV7 untuk mengubah namanya jadi TRANS|7. kalau gitu SINDOTV jga? soalnya SINDOTV juga ganti logo IMTV bandung, MHTV Surabaya, TAZTV Tasikmalaya, dll.

        sampai saat ini yang aku liat memakai TV dalam iklannya yaitu pas iklan Film di KompasTV, dan yang terbaru adalah iklan F1 di KompasTV. bahkan mulai hari ini KompasTV logonya bergantian sama Logo F1
        Kompas TV aku rasa hebat juga bisa megang hak siar F1 di sisa musim ini.

      • Kalo SINDOTV sedikit “aman” soalnya mereka ga memunculkan logo secara nasional, jadi orang di daerah akan tetep nyebut nama TV lokalnya. Kebanyakan TV lokal SINDOTV sahamnya juga dibeli, dan MNC mengakui kalo beli, ga pake embel-embel kerjasama (walaupun sempet ada sedikit kasus di Deli TV Medan dulu). Beberapa juga didirikan sendiri sama MNC, terutama yang namanya SUN TV sama SINDO TV lokal (salah satunya Gorontalo kalo ngga salah)
        Kalo masalah F1, itu udah kedengeran kalo KOMPAS yang dapet setelah lepas dari GlobalTV. Cocok juga kalo KOMPAS yang dapet, soalnya F1 udah HD, n KOMPAS itu 1 dari 2 channel HD di Indonesia, jadi pas🙂

      • Coba googling, deh.
        Dalam penyelenggaraan kerja sama untuk TV berjaringan, jual beli kepemilikan/saham jadi salah satu syarat.
        dalam hal ini tv induk harus berbagi saham dengan tv lokal.
        jadi wajar kalo slogannya sampai berubah, karena ada regulasi tentang kepemilikan saham

      • Iya memang harus ada kepemilikan saham, tapi masalahnya KOMPAS ini bukan TV, coba googling pernyataan KPI bahwa KOMPAS dinyatakan bukan stasiun TV, tapi sekelas penyedia konten (content provider). Pernyataannya keluar sekira satu hari sebelum KOMPAS “TV” diluncurkan (dan harusnya masih berlaku sampai sekarang)
        Jadi mestinya KOMPAS tidak berhak mengubah apapun dari TV lokal yang diajak kerjasama, bahkan beli saja harusnya tidak boleh. Sampai sekarang penyedia konten yang menjalankan aturan dengan benar itu hanya tempotv dan ANTARATV. Kalau SINDOTV dan KOMPAS sebenarnya bermasalah, tapi SINDOTV masih lebih baik karena semua TV lokalnya dibiarkan pakai nama masing-masing, tidak harus menerima nama SINDOTV dari Jakarta. Praktisi penyiaran banyak yang mempermasalahkan sebenarnya walaupun SINDOTV tidak memaksakan namanya muncul di lokal. Tapi kebanyakan praktisi ini mempermasalahkan MNC yang menguasai 4 frekwensi sekaligus di beberapa wilayah (RCTI, MNC TV, Global TV, SINDOTV). Kalau KOMPAS ini kan semua TV lokalnya udah ngga punya nama lagi, parahnya bctv Surabaya malah diganti namanya jadi KOMPAS TV SURABAYA. Coba lihat, mayoritas orang sekarang lebih banyak menyebut KOMPAS “TV” daripada nama TV lokalnya. Kasihan TV lokalnya, ga punya nama lagi

  3. Station ID yang lengkap (3 menit) itu tayangnya sebelum Kompas Pagi, selain itu ya pakai yang singkat banget itu. Gak tahu kenapa bisa ganti ke yang singkat itu
    Iya nih, gak ada apa-apa, promo drama yang baru di akhirannya pakai kata TV. Kadang-kadang (tiap hari malah) presenter acaranya juga nyebut pakai “TV”

      • Tapi sebenarnya nama Kompas TV tuh udah melekat di masyarakat. Kalau cuma “Kompas” itu kan banyak artinya (bisa penunjuk arah mata angin, bisa koran cetak)
        Kadang-kadang kata orang “kalau yang bagus-bagus jangan dihalangin” hehe

      • Nah, ini masalahnya. Kan pemerintah kemarin ga mau masyarakat sampai nyebut “KOMPASTV” tapi udah terlanjur. Pemerintah pinginnya nama TV lokalnya yang berkibar supaya TV lokal itu makin eksis, tapi kenyataannya seperti judul tulisanku yang ini hehe
        Yang bagus memang jangan dihalangi, tapi kalo yang bagus itu hasil dari melanggar aturan, kalo aku tetep ga mau. Kalo masyarakat, terserah sih hehe. Ini kalo di dunia pendidikan ibaratnya jadi gini “kalo contekan bisa bikin nilai anak saya bagus, jangan dihalangi anak saya buat contekan” dan ini yang bikin Indonesia makin ga maju, segala aturan bisa “diakali,” atau bahasa halusnya “disiasati” hehe

  4. Oh…atv ya ? Hmm…saya rasa jika atv dikembalikan ke tv lokal lagi, tentu saja anda tidak dapat menyaksikan acara Kompas di atv. Itu konsekuensinya, Dave.

    Saya ambil contoh kasusnya di kota saya (Bandung), ada STV Bandung (Kompas) dan CTChannel (B Channel) yang mendadak hilang dari siaran bersama mereka, alasan KPI yang saya dapatkan adalah, hanya STV Bandung dan CTChannel yang masih menggunakan IPP Prinsip namun siarannya justru nasional, padahal peraturan yang benar adalah, IPP yang digunakan harus IPP Tetap, risikonya ya itu tadi, “Memulai dari nol siaran mereka selama 100 hari kedepan”

    Hanya STV bandung yang berhasil lolos dari “cobaan” itu….justru CTChannel yang masih terperangkap, banyak pemirsa yang kecewa atas tindakan tersebut, bahkan KPID di tempat saya berada dituding menerima dana “suap” oleh beberapa oknum televisi lokal setempat yang tidak setuju CTChannel mengantongi IPP Tetap.

    Kesimpulannya, gini, Dave : Permasalahan sebutan “Kompas” dengan “Kompas TV” itu jika dibahas lebih lanjut lagi, dampaknya akan terasa ke semuanya, yang kasihan itu ya mereka yang menyaksikan siaran Kompas melalui antenna biasa…jika ini ditindaklanjuti, maka bukan tidak mungkin, nasibnya akan berakhir tragis seperti TV lokal yang ada di kota saya. Sekian, dan terimakasih atas seluruh artikelnya yang bermanfaat, dave

    • Halo Mas Kaliandra🙂
      Saya justru lebih senang jika semua yang di bawah KOMPAS dikembalikan ke format awal, yaitu TV lokal, terutama atv Batu karena statusnya bukan LPSL TV, tapi LPPL TV. Saya lebih suka kalau TV lokal yang diajak “kerjasama” oleh KOMPAS itu berstatus LPSL TV yang ijinnya sudah ok, dan sudah mengajukan proposal perubahan isi siaran dari lokal ke nasional sebagai TV SSJ. Dengan begitu, semua berjalan sesuai UU, yang berarti tidak ada pelanggaran hukum. Saya rasa yang dilakukan KPID Jabar bisa diapresiasi. Kalau perlu semua KPID mengevaluasi TV lokal di wilayahnya, sesuai atau tidak dengan proposal awalnya

      • Kadang-kadang perusahaan harus membuat kalimat yang “wah” biar ga malu kalo bubar hehe
        Kasusnya kayak GNTV Malang, bilangnya “perbaikan teknis” tapi ga taunya bubar karna organisasi perusahaannya kacau

  5. Dave nonton gg F1 di Singapore kmaren?
    khusus tayangan F1, logo KompasTV yang d pojok berubah menjadi logo KOMPASHD, karena KompasTV merelay F1 dari espnHD.
    tapi selain F1, kmbali ke Kompas Biasa

    • Halo Mas Rio🙂
      Yang ngga full screen belum tentu HD. Logikanya seperti ini: “yang HD selalu 16:9, tapi yang 16:9 belum tentu HD”
      Di Inggris banyak siaran SD yang berformat 16:9. Di Indonesia semua masih 4:3, termasuk KOMPASSD, sebenarnya juga 4:3, tapi karena inputnya dari 16:9, jadinya ada letter box, alhasil gambar tidak penuh🙂

  6. Benar, saya juga agak heran… Coba perhatikan banner beritanya Kompas (TV), Pasti ada tulisan “KompasTV Dapat Disaksikan di kompas.tv/live
    Yang lebih heran lagi, cuma iklan dramanya saja yang pakai logo KompasTV saja. Yang lain hanya Kompas, tapi kemarin iklan promo F1 Night Race ada +TV. Kenapa gak sekalian semuanya aja…

    Tapi lebih baik kalau acara lokal daerah itu pakai logo TV lokal saja, tidak pakai logo Kompas. Biar lebih kuat lokalnya (Sebenarnya sdh lumayan dengan closing yang menggunakan logo Ktv di tulisan Produksi 2012). Lebih baiknya lagi jangkauan siarannya Ktv diperluas sampai Bekasi, di Bekasi agak susah Ktv karena belum terlalu jernih jadi susah deh nonton Kompas TV

    • Halo Mas Indra🙂
      Kalo sekalian semuanya makin ngelanggar dong hehe
      Khusus untuk Ktv memang siaran lokalnya relay KOMPAS, bisa dianggep karna “sesama Jakarta” tapi ya mestinya tetep pisah seperti atv Batu. Kalau bctv Surabaya ngga bisa dijadikan contoh karna di siaran lokalnya, logo bctv muncul gantian sama ikon logo KOMPAS
      Kalo Ktv mungkin susah tembus ke Bekasi soalnya kan pemancarnya udah ngga di Tangerang mas hehe

      • Di websitenya Kompas TV, Sekarang pakai Kata “TV” lagi, padahal dulu hanya “Kompas” saja…
        Saya sih sebenarnya bingung juga dengan aturan Stasiun TV dari Kominfo, contohnya TempoTV (Masih satu perusahaan dengan Koran Tempo dan Majalah Tempo) yang mengatasnamakan Content Provider, tapi pakai kata “TV”.

      • Kalau KOMPAS dipaksa menghilangkan kata TV karena ga punya ijin sebagai TV tapi melakukan kegiatan seperti siaran stasiun TV SSJ dan programnya mendominasi siaran TV lokal, plus pingin logonya muncul secara nasional
        Kalo tempotv programnya cuma sebagai pelengkap, ngga mendominasi. Dan walaupun tempotv juga melakukan kegiatan seperti siaran stasiun TV di pay TV aora, tapi siaran ini ngga direlay TV lokal di jaringannya tempotv. Mangkannya tempotv diijinkan pake kata TV, karna masyarakat luas ga akan menyebut tempotv, tapi menyebut TV lokalnya. Kalo KOMPAS, semua TV lokalnya kan sekarang nyaris ngga dikenal, karna masyarakat cenderung nyebut “KOMPASTV” itu

      • Wah, mungkin ambil ancang-ancang balik lagi pakai kata TV?
        BTW, kalau lihat daftar logo TV lokal di bawah, logo TVB Banjarmasin berubah, dulunya cuma tvb, sekarang tvBorneo

      • Kelihatannya mau pake TV lagi memang. Mungkin karena peluang frekuensi digital udah terbuka. Ini sekedar spekulasi hehe
        Mungkin di-re-brand, untuk ngebedain tvb (TV Borobudur) Semarang sama tvb (TV Borneo) di Kalimantan

  7. TempoTV itu ada juga di TV-TV Lokal, di Jabodetabek di CB Channel (Depok) selain itu ada juga di JogjaTV, LTV, dll… Oh ya yang mau saya tanyakan kok TVN tidak muncul logonya di B Channel Jakarta?

    • Iya, tempotv kalau ngga salah kerjasama sama 48 TV lokal di Indonesia
      Logo B CHANNEL ngga muncul di tvn karena tvn yang atur kontennya B CHANNEL. Jadi tvn ambil konten yang ngga ada logonya, kemudian pasang logo tvn. Untuk satelit, tvn pasang logo B CHANNEL. Hasilnya di parabola kelihatan ada logo B CHANNEL. Di ndtv Malang logo B CHANNEL ngga nampak, karena ditutupi promo. Di Surabaya, logo B CHANNEL di pojok kiri atas, logo mntv Surabaya di pojok kanan atas

    • Kelihatannya sekedar urusan teknis. Mungkin KOMPAS pingin lebih memanjakan pemilik TV lebar, daripada ribet ngesetting gambarnya, akhirnya sama KOMPAS “ditarik” jadi fullscreen. Hasilnya kalo di TV lebar kan jadi kelihatan normal tanpa harus ngesetting layarnya

  8. kayaknya kompastv ‘numpang’ ke tv lokal dikarenakan:
    *sayang duit jika bangun pemancar dari sekarang karena akan ada siaran digital.
    *jika hanya jadi tv streaming atau channel khusus tv berbayar maka kompas kurang dikenal masyarakat yang menggunakan antena biasa.
    *jika menumpang lebih dini kompas akan mendapatkan banyak uang
    dari iklan karena pengiklan hanya berani mengiklan jika ratingnya tinggi
    *memberikan alternatif dari tv swasta lain yang banyak infotainmen.sinetron.dll sampah(y bagus jgn dibuang).

    • Halo Mas/Mbak? Dul🙂
      Yang pertama saya setujunya 50:50. Bisa jadi memang sayang duit, tapi kan wilayah yang ditarget KOMPAS semuanya sudah penuh frekuensinya, ngga mungkin diberi ijin untuk bikin pemancar lagi, jadi terpaksa “kerjasama” dengan TV lokal
      Yang kedua ini saya setuju, apa lagi KOMPAS memang serius ingin jadi TV, sampai peraturan dilanggar supaya cepat siaran, dan akhirnya oleh pemerintah dilarang siaran pakai logo yang mengandung kata “TV”
      Yang ketiga ini saya juga setuju. Investasi KOMPAS besar karena teknologinya HD. Kalo sampai ngga segera dapat uang, bisa rugi
      Yang keempat, mungkin ini visi misi KOMPAS. Ini juga visi misi B CHANNEL, dan acara unggulan B CHANNEL (demi menghindari infotainment, sinetron, dll itu) jika diperhatikan semuanya impor

  9. Ini juga ada di iklan bctv Surabaya, saat siaran lokal. Ada 2 iklan bctv yang menggunakan logo KOMPAS TV: Stasiun Komedi, & Rumah Tawa (hiburan). Color bar bctv Surabaya itu menggunakan letterbox, serta musik. Tapi, color bar bctv ini, menggunakan color bar dari KOMPAS (letterbox), dengan logonya ditengah, slogan, & Saluran 40 UHF (Surabaya Raya). Kalau di atv Batu, color barnya letterbox atau nggak? Serta, diselingi lagu tidak?

  10. Sejak, Senin 5-11-2012, bctv ganti nama KOMPAS TV Surabaya. Pas siaran KOMPAS HD, nggak ada logonya di kanan atas. Iklannya pun tulisan KOMPAS TV Surabaya. Kalau sign off, masih ada logo bctv. Di atv Batu, juga ikut berganti nama tidak?

  11. Ya. Dave, kalau atv Batu sign off, itu color bar diputar lagu atau tidak? Sign off di bctv Surabaya (KOMPAS TV Surabaya), logo bctv dipajang di tengah, dan diiringi lagu.

  12. Kenapa Kompas gak buat izinnya terlebih dulu ya? Saya lihat di situsnya Kompas Gramedia, Kompas TV itu sudah mulai dipersiapkan sejak 2009. Apa iya 3 tahun gak selesai izinnya?

    Jadi ‘Iri’ nih Saya dengan TV Lokal jaringan kompas lainnya, yang lain pada bening. Di tempat saya, Ktv jelek amat walaupun ketangkap siarannya… Jadi agak males nontonnya

  13. Maslaah yang TV digital: Ya, maksudnya bisa nangkap seluruh TV nasional tdk?
    Terus klo buat newsticker seperti yang ada di TV-TV itu pakai software apa ya Dave (Maksud saya nama softwarenya)? Agak penasaran saya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s