TVRI di Ujung Tanduk

Sepanjang 2013 ini banyak sekali perhatian kita diambil oleh TVRI. Mulai dari isu HD sampai masalah politik. Urusan HD, semuanya sepakat “itu cuma isu” walaupun belakangan di siaran terrestrial digital di Jakarta ada indikasi TVRI sudah mengujicoba HD.

Tapi isu yang paling menarik perhatian saya adalah isu akan terhentinya siaran TVRI karena DPR membintangi alokasi APBN untuk TVRI, artinya anggaran untuk TVRI tidak diberikan, kecuali untuk gaji karyawan TVRI. Artinya lagi, walaupun tidak bekerja, karyawan TVRI masih terjamin kesejahteraannya.

Jadi begini, kisruh dimulai ketika ada penayangan kegiatan politik dari suatu partai dalam durasi yang tidak wajar. Karena tayangan ini, TVRI mendapat peringatan dari KPI. Internal kisruh, saling tuduh siapa yang bertanggungjawab atas penyiaran itu. Semakin lama, kisruh semakin menjadi. Ada aksi pemecatan di internal TVRI, dan entah ada apa lagi di sana.

Kisruh di dalam TVRI membuat DPR RI menganggap TVRI tidak lagi ideal untuk beroperasi. Sebagai “hukuman”, DPR menghentikan alokasi dana operasional untuk TVRI di 2014. Alhasil, TVRI terancam tidak siaran di 2014.

Gertak sambal? Mungkin. Orang Indonesia ini dikenal sebagai orang yang suka mengancam, supaya maunya itu bisa jalan. Siapa cowok yang tidak pernah diancam ceweknya, supaya maunya si cewek itu bisa dipenuhi? (eh). Mungkin DPR ingin agar TVRI bisa kondusif kembali, caranya dengan membuat posisi TVRI menjadi terancam seperti sekarang ini. Tapi, idealkah dengan cara begini?

Masyarakat yang sudah cerdas sangat khawatir dengan kondisi media di Indonesia, khususnya televisi yang menguasai masyarakat Indonesia daripada media lainnya seperti radio atau koran. Semua mengkhawatirkan tayangan yang disuguhkan televisi, swasta terutama. Setidaknya 6 stasiun televisi telah terafiliasi secara langsung ke partai politik. Walaupun jarang dilirik (dilirik saja jarang apalagi ditonton), TVRI menjadi harapan masyarakat untuk mendapat tayangan yang berimbang. Ternyata, TVRI tetap kena “kasus politik”. Artinya, 7 televisi sudah diindikasi tidak berimbang dalam pemberitaan politik.

Dari 7 ini, kemudian ada beberapa pengamat komunikasi yang mempertanyakan “kenapa hanya TVRI?”

Saya kemudian jadi punya pendapat (atau pertanyaan) yang sama, kenapa hanya TVRI? Kenapa 6 TV swasta lainnya dibiarkan? Apakah karena swasta kemudian tidak ditegur? Padahal kan sama-sama pakai frekuensi publik.

Mungkin, karena 6 TV swasta ini dikuasai 3 partai, dan penontonnya ketika dijumlahkan jauh lebih banyak daripada 1 TVRI. Lihat saja “dewa rating & share” itu, kalau dijumlah kan memang jauh sekali, beberapa TV swasta itu ada di posisi atas, sementara TVRI ada di posisi juru kunci. Mungkin karena jumlah penontonlah, 6 TV swasta yang terafiliasi langsung itu tidak disentuh sama sekali oleh DPR. Padahal, masyarakat banyak yang menyuarakan kejengahannya dengan “TV Politik” itu, tapi DPR yang katanya perwakilan rakyat itu tidak mewakilkan suara masyarakat. Mungkin, kehilangan 1 TVRI tidak signifikan di 2014 nanti, karena hanya kehilangan sedikit penonton, daripada harus kehilangan lebih banyak penonton dari 6 TV swasta. Kalau 6 TV swasta ditindak, mereka jadi tidak punya media kampanye dong, ya kan?

Memang disayangkan TVRI harus terkena kasus politik seperti ini. Tapi lebih disayangkan lagi ada 6 yang kena politik. Belum lagi ternyata beberapa kalangan masyarakat menilai 4 sisanya “kurang mendidik”. Jadilah kesebelasan televisi Jakarta itu dianggap “tidak sehat”. Kalau sudah begini, mau nonton apa? Sepertinya kita hanya bisa berharap “stasiun televisi” yang baru muncul agar bisa memenuhi unsur mendidik dan berimbang, dan bisa bertahan dengan idealismenya, walaupun mungkin dalam memperjuangkan itu harus “berlumuran darah”, karena kebanyakan media yang ideal itu jarang dilirik penyuntik dana (baca: pengiklan).

6 thoughts on “TVRI di Ujung Tanduk

  1. Saya menayangkan sikap DPR (padahal mereka wakil kita) tapi kita sendiri menolak buat menutup TVRI karena programnya tidak terkena virus Stasiun TV Swasta saat ini…

    Beberapa waktu lalu di forum Kaskus, TVRI yang terancam tutup ini masuk menjadi Hot Thread. Ada beberapa user yang lupa kapan terakhir nonton TVRI.

  2. tvri hd jkt sudah mengudara ..tapi sampai comment ini ditulis kontennya masih sd dan aspek rationya masih 4:3 yang di tarik menjadi 16:9 sehingga gambarnya jadi terlihat gepeng..trus semenjak tvri jkt pindah dari dvb-t ke dvb-t2 gambarnya malah sering freeze..entah kenapa,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s