Selamat Tinggal B Channel!

Mmm, lama juga ya saya tidak menulis di blog. Tapi baiklah, mumpung sempat, saatnya menulis.

Di bulan Februari tanggal 5, UBTV akhirnya diluncurkan. Acara itu berlangsung di studio UBTV di dalam rektorat Universitas Brawijaya. Diluncurkan di kanal 51 UHF, katanya karena UB tahun ini berusia 51 tahun. Saat saya menulis ini, siarannya sudah berpindah ke 56 UHF.

Bulan Maret, tidak ada yang istimewa. Hanya antv yang berulang tahun di tanggal 1 Maret dan dirayakan tanggal 30 Maret. Nama acaranya Gala XXI, karena umurnya 21 tahun.

Nah, di bulan April ini, ada kejadian unik (bagi saya). News and Entertainment Television alias NET. memasang iklan di METRO TV. Sama menariknya dengan ketika KOMPAS TV mengiklankan peluncurannya di RCTI. Alasan menarik untuk saya ya hanya satu: karena antara pengiklan dan tempat iklannya tidak satu grup.

Selain itu, yang menjadi berita panas di bulan April 2014 ini adalah, ya judul artikel saya ini. Sebuah judul yang saya agak berat untuk menulisnya. “Selamat Tinggal B Channel!”

Di awal munculnya NDTV di Malang, saya sangat tertarik sekali dengan stasiun TV berjaringan yang satu ini. Tentu pada saat itu yang membuatnya menarik adalah karena NDTV adalah stasiun televisi baru. Sudah, itu saja alasannya. Setelah ada program dari TVN Cikarang, saya semakin tertarik dengan NDTV, karena deretan programnya yang sangat berbeda dari stasiun televisi Indonesia pada umumnya. Anti mainstream mungkin menjadi istilah yang cocok untuk menggambarkan deretan program yang ada di NDTV pada saat itu. Bahkan ketika ada sweeping siaran di Malang Desember 2008, NDTV menjadi satu dari tujuh TV yang tetap siaran karena izin siarannya sudah lengkap, sedangkan 6 TV Jakarta dan semua TV lokal di Malang pada saat itu harus turun dari udara dan menunggu kemurahan hati dari pemerintah yang pada akhirnya membolehkan semua TV itu siaran lagi di April 2009.

Semakin tahun, NDTV mulai menunjukkan jati dirinya, sebuah stasiun TV berjaringan. Programnya mendidik, berbeda dari TV lainnya. Iklan pun diisi kata-kata bijak dan produksi lainnya yang sangat nasionalis dan humanis. Saat itu saya sempat ragu, akankah jaringan ini bertahan tanpa iklan selama bertahun-tahun. Namun, toh pada akhirnya iklan masuk, walaupun tidak banyak.

Hingga akhirnya B CHANNEL mulai menunjukkan geliat “menasionalkan” diri. Beberapa kota di Indonesia tidak lagi menemukan nama lokal TV jaringan, dan berganti dengan nama B CHANNEL dan daerahnya. Sebut saja MNTV Surabaya yang menjadi B CHANNEL SURABAYA, dan menyusul beberapa kota lainnya. Saya termasuk yang berharap ndtv Malang menjadi B CHANNEL MALANG pada saat itu.

B CHANNEL yang dikenal sebagai TV yang tidak punya program berita, mulai memunculkan program soft news Galeri, dan kemudian ada hard news yang tayang di Ngopi (Ngobrol Pagi). B CHANNEL juga makin memperbanyak program in-house, setelah sebelumnya menjadi importir tayangan internasional dari Amerika, baik lawas maupun yang terhitung baru. Kemudian, B CHANNEL mulai tertular demam Korea, dan memunculkan beberapa program bertema Korea, setelah sebelumnya sudah pernah menayangkan beberapa drama Korea.

Belakangan ini, mendadak muncul sang “Langit Rajawali” di B CHANNEL. Menyusul kemudian perubahan susunan program di B CHANNEL. Program yang tak lazim muncul di B CHANNEL juga mendadak tayang. Ada apakah?

Ternyata, B CHANNEL akan segera undur diri dari layar televisi kita. Televisi biru muda-biru tua ini akan segera berganti dengan, mmm, mungkin sesuatu yang bernuansa ungu. Pergantian itu akan ditandai dengan sebuah program spesial yang menjadi “sejarah lahirnya televisi nasional baru”.

Hitung mundur hari menuju “Langit Rajawali” mulai muncul di layar sebelah kiri, agak ke bawah sedikit, menyesuaikan dengan logo TV lokal yang masih belum diubah namanya menjadi B CHANNEL (daerah). Promo mulai gencar dilakukan. Hingga akhirnya, tinggal kita tunggu saja B CHANNEL menghilang dari layar televisi kita di tanggal 3 Mei 2014.

Perubahan adalah sesuatu yang lumrah terjadi di dunia ini. Perubahan itu merupakan pilihan hidup. Termasuk B CHANNEL, yang memilih untuk banting setir, mengubah susunan program sampai nantinya kita akan tahu bagaimana wajah barunya. Semoga apapun yang menjadi pilihan stasiun televisi ini akan menjadi yang terbaik bagi semua pihak yang memiliki hubungan dengan televisi ini, baik itu pemilik modal, pengiklan, maupun pemirsanya.

Selamat tinggal, B CHANNEL! Selamat datang, RAJAWALI TV (atau RTV)!

*walaupun pemilihan nama ini agak aneh bagi saya karena mirip dengan nama stasiun televisi lokal dari Blitar. Kalaupun RTV, mirip juga dengan televisi lokal Riau

Selagi ada waktu, buatlah kenang-kenangan tentang B CHANNEL. Sila cek juga website rajawalitv.com atau rtv.co.id, juga fanpage Rajawali Televisi.

10 thoughts on “Selamat Tinggal B Channel!

  1. Mulai 3 Mei 2014, meskipun B Channel berganti nama menjadi Rajawali TV, tetapi tetap menjadi TV Kesukaanku. Karena sudah mulai mengidolakan B Channel sejak tahun 2009.

  2. Update : Mulai 28 April 2014, RCTI Jawa Timur hadir kembali di parabola setelah 3 tahun tidak mengudara via parabola.
    Di RCTI Adzan Maghribnya menggunakan Adzan Maghrib Lokal Surabaya.

  3. Iya, tapi sebetulnya kok namanya “rajawali”, seperti RCTI (yang singkatannya adalah Rajawali Citra Televisi Indonesia)?

    Btw, channel in-house TelkomVision sudah diganti ke channel in-house TransVision.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s