Siap-Siap Mendapat Tambahan Siaran Baru, Malang Raya!

Tahun 2015 digadang-gadang sebagai tahun analog switch-off Pulau Jawa, kalau saya tidak salah. Hal ini berkaitan dengan akan berjalan resminya siaran digital yang selama ini statusnya “gantung” karena regulasi yang belum juga selesai dibahas. Beberapa orang memutuskan untuk menjadi “early adopters” atau pengadopsi awal dari teknologi yang belum ada kepastian hukumnya ini.

Namun, di tengah perjalanan menuju transisi analog menuju digital, pemerinah melalui Kementrian Komunikasi dan Informatika justru kembali membuka kesempatan bagi siapapun untuk melakukan siaran di sistem analog. Hal ini terlihat pada keterangan pers yang ada di sini. Hal ini sedikit banyak menjadi sesuatu yang membingungkan, terutama bagi mereka para pengamat pertelevisian.

Kebingungan itu juga saya rasakan di Malang. Ketika kanal analog sudah begitu penuh, dan aktivitas digital di Malang juga sudah mulai berjalan, peluang itu dibuka lagi. Hal ini sungguh menjadi sesuatu yang seperti lagunya Chrisye, aneh tapi nyata. Apa lagi kemudian ternyata peluang penyiaran di sistem analog justru ditutup di Surabaya, Jember, dan Trenggalek, yang kanalnya tidak sepadat Malang.

Sebagai gambaran umum, siaran televisi terbanyak ada di Malang, dan yang kedua di Surabaya. Di Malang, ada 1 LPPN, 1 LPPL, 20 LPS (berjaringan maupun lokal), dan 2 LPK mengudara secara analog, dengan salah satu LPK di VHF-H. Artinya, ada 24 siaran televisi yang bisa ditangkap penduduk Malang Raya.

Sementara itu di Surabaya, ada 1 LPPN dan 20 LPS (berjaringan maupun lokal). Artinya, hanya ada 21 saluran televisi yang ada di Surabaya. Tetapi, kembali lagi, peluang LPS baru di Surabaya ditutup, sedangkan di Malang justru kembali dibuka.

Malang dan Surabaya sama-sama menggunakan angka frekwensi genap di UHF. Kedua wilayah ini sama-sama sudah penuh frekwensi genap UHFnya. Tapi bedanya, di Malang sudah ada satu kanal ganjil yang dipakai untuk analog, yaitu 55 UHF, yang sudah digunakan oleh METRO TV sejak 2003. Dengan kembali dibukanya peluang LPS analog di Malang, maka akan ada kanal ganjil yang dipakai untuk LPS baru, tentunya di luar frekwensi yang sudah ditetapkan akan dipakai oleh digital.

Adanya pembukaan peluang LPS ini membuat saya kemudian bertanya-tanya, akan ada berapa stasiun televisi baru yang diterima permohonannya oleh pemerintah untuk mengudara di Malang. Pertanyaan itu kemudian saya ajukan kepada contact person yang ada di keterangan pers dari Kemkominfo itu. Hasilnya, hingga saya terbitkan tulisan ini, jawaban itu belum muncul, belum ada jawaban dari pihak kementerian.

Ada beberapa persyaratan yang dibebankan pemerintah kepada LPS baru ini. Salah satunya adalah pernyataan kesiapan untuk migrasi dari analog ke digital. Pertanyaannya: kalau syaratnya begitu, kenapa tidak sekalian saja langsung digital? Saya rasa agak rugi juga kalau sekarang beli pemancar analog, tapi hanya dalam 2 atau 3 tahun, atau bahkan kurang dari satu tahun jika di Jawa, pemancar analog itu sudah tidak lagi dipakai karena analog switch-off. Tapi entahlah, mungkin para pelaku bisnis pertelevisian saat ini punya pertimbangan lain dan tertarik untuk segera mengudara di analog. Mungkin, secara operasional, mereka merasa tidak ada kerugian jika tetap mengudara di analog saat ini.

Pendaftaran ke Kemkominfo dibuka hingga 23 Februari 2015 ini. Artinya, kemungkinan pada bulan Maret atau April, jika prosesnya berlangsung dengan cepat, penduduk Malang Raya akan kembali mendapatkan tambahan saluran baru di televisi analog mereka. Berapa jumlahnya dan TV apa sajakah yang akan mengudara, serta menggunakan channel berapa, saya belum tahu. Tapi yang bisa dipastikan, untuk mereka, para pelaku bisnis televisi yang berminat mengudara di Malang Raya, sekarang ini sedang sibuk-sibuknya melengkapi persyaratan yang diajukan oleh pemerintah. Sebagai penonton, tentu Anda tinggal rajin-rajin saja melakukan scanning atau pemindaian atau pencarian saluran-saluran baru dalam beberapa waktu ke depan ini.

Kesimpulannya, tetap saja Malang Raya menjadi wilayah dengan saluran televisi terpadat di Jawa Timur, atau bahkan di Indonesia, setelah Jakarta (dan mungkin Bandung) tentunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s