UBTV Malang Resmi Pindah ke 57 UHF

Setelah sebelumnya sempat menginformasikan via running text, mulai 28 Juli 2015 stasiun televisi milik Universitas Brawijaya, UBTV, resmi berpindah ke 57 UHF analog.

Pantauan melalui antena di Kota Malang mendapati siaran UBTV yang terus dipancarkan selama 24 jam (walaupun tidak ada program alias color bar saja, karena program hanya disiarkan beberapa jam dari sore ke malam hari) sudah tidak lagi terdeteksi di 56 UHF analog. Siaran UBTV kini bersebelahan persis dengan NET. di 58 UHF analog setelah sebelumnya bersebelahan persis dengan METRO TV di 55 UHF analog.

Perpindahan ini merupakan perpindahan kali kedua bagi UBTV. Sebelumnya, UBTV sempat mengudara di 51 UHF analog, dan kemudian berpindah ke 56 UHF. Tidak lama berselang dari kepindahan pertama tersebut, MHTV Malang mulai mengudarakan siarannya di 52 UHF analog.

Akankah perpindahan kali ini mengisyaratkan hal yang sama: “adanya stasiun televisi baru di Malang Raya?” Hal ini belum dapat saya pastikan hingga saat ini.

Sementara itu di kawasan Oro-Oro Ombo, Kota Batu, belum ada perkembangan mengenai bangunan transmisi baru. Pun demikian dengan pembongkaran, juga tidak terjadi. Padahal, ada beberapa stasiun televisi yang defunct alias tidak lagi beroperasi di Malang Raya, sebut saja NAA TV, mahameru tv, FTV, dan sejumlah nama lainnya. Dari pantauan saat ini ada salah satu tower yang “rumah”nya (karena tidak dalam bentuk gedung transmisi) memiliki tanda berupa stiker NAA TV, dengan beberapa panel box masih menempel di towernya.

Adapun “rumah” lainnya yang dulu dipergunakan mahameru tv dan dulu sempat ditulis “dalam sengketa” hingga kini nampak kosong dengan tower yang tetap berdiri tinggi menjulang bersama beberapa panel box di ujungnya. Ketika beroperasi dulu, mahameru tv mengudara di 52 UHF analog, dan saat ini frekwensinya digunakan oleh MHTV Malang yang transmisinya berada di “rumah” yang lain, dekat gedung transmisi rtv-METRO TV dan NET.

Sementara itu di Griya Coban Rais milik Batu tv sempat tampak ada pengerjaan pemasangan panel box di towernya bulan puasa lalu, sehingga kini kedua tower Batu tv telah terpasang panel box berwarna merah, setelah sebelumnya hanya satu tower yang ada panel boxnya. Setelah pengerjaan tersebut nampak ada perbaikan kualitas sinyal di 48 UHF analog. Belum saya ketahui apakah kedua tower itu memang difungsikan untuk aktivitas siaran Batu tv atau ada penyewa baru di sana. Kalaupun memang ada penyewa baru, perkiraan saya penyewa tersebut adalah AREMA TV yang mungkin masih melakukan konfigurasi pada perangkat transmisinya, karena saat ini hanya AREMA TV yang terdeteksi sebagai siaran baru di Malang Raya.

Perkembangan lainnya, GAJAYANA TV di 28 UHF analog baru saja melakukan penguatan daya untuk siarannya sehingga sempat menghentikan program dan hanya menyiarkan color bar dan logo serta running text beberapa hari lalu. Sementara itu “tetangga terdekat”nya, AREMA TV, justru kembali menghilang setelah lebaran lalu. Hingga kini siaran AREMA TV yang menggunakan 27 UHF analog belum kembali terdeteksi.

India, Turki, dan Sekitarnya

Begitulah yang saya tangkap di televisi Jakarta akhir-akhir ini. Sejak antv menayangkan serial-serial India, dilanjutkan dengan beberapa tayangan impor dari Turki, stasiun TV tetangga mencoba “mencari kue” di sektor yang sama. Hasilnya, beberapa stasiun TV layarnya terasa mirip.

Tapi akhir-akhir ini saya memang mencoba kembali memerhatikan antv. Stasiun TV yang satu ini dari dulu membuat saya penasaran, entah apanya. Sejak mengudara kembali di Malang (sempat menghilang beberapa tahun, antv di Malang muncul lagi tahun 2003), stasiun TV ini dari masa ke masa memang mencuri perhatian saya, walaupun tidak untuk menjadikannya tontonan sehari-hari seperti ketika masih SD dulu. Dulu, waktu SD, saya suka menonton film kartun yang tayang pas di jam belajar juga (ketahuan deh waktu kecil ngga niat belajar). Sebut saja Scooby Doo, anime Webdiver, mmm, sudahlah, nanti kelihatan tua hehehe.

antv kembali mencuri perhatian saya ketika ada jalinan kerjasama dengan STAR TV. Jadilah saya suka nonton antv lagi, waktu itu ada Om Farhan, Taksi Selebriti, Super Deal 2 Miliar, TOPIK sebagai pengganti Cakrawala, dan banyak lagi yang lain. Logonya? Wah, jangan ditanya, saya suka sekali logo kombinasi antv dengan STAR TV itu.

Hal lain yang membuat saya dekat dengan antv adalah sepakbola. Almh nenek saya yang di Malang adalah penyuka sepakbola. Kalau ditanya sepakbola, pasti punya jawabannya, terutama sepakbola dalam negeri. Kalau sudah ada sepakbola Indonesia atau yang kemudian disebut ISL tayang di antv, wah, nenek saya tidak akan melewatkannya.

Tahun demi tahun berlalu, cukup lama saya tidak menonton antv. Tiba-tiba saja, perhatian saya dicuri lagi oleh antv ketika bersama tvOne menayangkan Piala Dunia 2014. Memang sudah cukup lama sejak antv tidak lagi menayangkan sepakbola gara-gara kisruh PSSI yang membuat antv kehilangan hak siar sepakbola yang dulu pernah saya dengar eksklusif untuk 10 tahun sejak 2009. Sajian sepakbola antv memang selalu berbeda, karena tampilannya jauh lebih modern ketimbang TV lain kalau menyiarkan sepakbola. Pilihan warna yang dipakai sebagai set studionya, baik yang augmented reality maupun yang hardstudio, selalu sama kerennya.

Akhir-akhir ini, antv mencuri perhatian publik lewat tayangan India. Menelusuri banyak tulisan di internet, ternyata awalnya antv ini “iseng” menayangkan serial India, sekedar pengisi jam tayang. Ternyata, respon baik bermunculan dan membuat antv yang selama ini stagnan di papan tengah, sesekali menyundul papan atas, kini jadi stabil, minimal di 4 besar, dengan rata-rata ada di posisi 3, terutama setelah “kejatuhan TRANS Corp” dari posisi atas rating sejak ditinggal direkturnya untuk membuat stasiun TV baru.

Mumpung libur lebaran, saya coba telusuri tayangan apa yang ditonton saudara saya. Benar saja, macam gayung bersambut, ternyata beberapa saudara, seperti budhe dan tetangga sekitar saudara saya itu, suka nonton serial-serial India dan/atau Turki itu. Alasannya ternyata sederhana. Tidak akan saya sampaikan secara riil tapi kira-kira akan saya ceritakan ulang dalam bentuk poin-poin seperti ini:

Pertama: kedekatan. Cerita-cerita India itu sebenarnya adalah cikal bakal cerita tradisional Jawa yang berkembang dalam bentuk pewayangan, sehingga cerita-cerita India itu terasa dekat bagi mereka.
Kedua: alur cerita dan pengemasan. Benang merah cerita itu kebanyakan orang juga sudah mengerti, tapi yang membuat ketertarikan untuk mengikuti serial India ini adalah pengemasannya, mulai dari teknik pengambilan gambar, editing (termasuk backsound-backsound), sampai ke masalah “siapa pemeran yang ganteng/cantik itu”.
Ketiga: ini berlaku untuk yang Turki atau serial fantasi India: alur ceritanya menarik. Cara menampilkan konflik cerita, nampaknya berhasil mencuri perhatian sebagian besar rakyat Indonesia.
Keempat: bosen lihat sinetron. Kalau yang ini mungkin secara pribadi saja, tapi rata-rata orang-orang di sekitar saya ini ternyata punya alasan yang sama kenapa kami jadi malas nonton sinetron buatan Indonesia: ceritanya banyak yang ngga masuk akal, apa lagi tentang “manusia binatang” yang entah sebenarnya terlalu niat berfantasi atau memang ngga punya ide saja sampai akhirnya membuat film barat menjadi cerita bersambung di TV dengan mengandalkan pemain yang (katanya) ganteng dan cantik. Tentang “manusia binatang” ini, mungkin pembaca mengerti sekarang masih ada dua sinetron yang menyatukan “manusia” dan “binatang” menjadi satu makhluk hidup, hehehe.

Masih ada beberapa hal lain, tapi empat itu sajalah yang kira-kira jadi alasan yang paling banyak disebut.

Serial India dan Turki kini seakan menguasai layar, apa lagi antv yang sempat dikritik karena porsi tayangan impornya melebihi yang ditentukan undang-undang. Tapi, selama masih disukai masyarakat, pasti stasiun TV tidak akan berhenti menayangkan cerita India dan Turki, dan sekitarnya mungkin, kalau ada negara lain yang juga punya serial yang laku kalau ditayangkan di sini, ya kan?

Intinya, dari tulisan saya yang berbelit-belit ini: kini antv berhasil mencuri perhatian saya, lagi. Bukan untuk menonton tentunya, tapi untuk mencari tahu kenapa kemudian tayangan India, Turki, dan sekitarnya yang tayang di antv itu berhasil, bahkan diikuti oleh TV lainnya macam SCTV, TRANS 7 yang sempat mencoba peruntungan tapi kurang beruntung, dan sekarang RCTI yang mau coba-coba. Entah dapat masukan dari mana juga tiba-tiba antv bisa menayangkan serial-serial India yang sekarang bisa sukses membawa antv naik dalam beberapa laporan rating dan share.

Saya sendiri beberapa hari terakhir tercuri perhatiannya oleh sebuah serial India yang tayang di antv. Ceritanya sih tujuannya untuk anak kecil, tapi saya sendiri tertarik mengikuti ceritanya beberapa hari terakhir ini. Tapi ya sudah lah, kalau saya mengikuti ceritanya, bisa-bisa ngga konsen kerja juga, masalahnya cerita fiksi anak-anak itu tayang di siang hari, dan belum tentu juga tayang pas saya istirahat. Iya kalau saya bisa istirahatnya on-time. Kalau tidak? Masa mau meninggalkan pekerjaan demi nonton TV?

Selamat antv, sudah berhasil mencuri perhatian saya lagi dengan strategi programming yang ternyata memang pas untuk diterapkan di masyarakat Indonesia pada umumnya sekarang ini ~

KOMPAS TV Perkuat Identitas sebagai TV Berita

Memasuki bulan Juli 2015, KOMPAS TV menunjukkan keseriusannya dalam memosisikan diri sebagai TV berita. Program-program yang berada di ranah hiburan mulai dikurangi porsinya. Bahkan, program sepakbola yang sebelumnya selalu diudarakan mulai pukul 00.30 WIB, kini sudah digusur.

Sejak Juni 2015, KOMPAS TV memperbaharui “on-air look” dengan launching tampilan baru Kompas News. Tidak sekedar tampilan baru, tapi juga studio baru, yang saya sebut sebagai “all-in-one studio”, karena semua program bisa disiarkan dari satu studio yang sama. Program-program di KOMPAS TV pada hari kerja kini sangat kuat porsi beritanya. Saya mengambil secara acak saja jadwal program di KOMPAS TV pada satu hari, dan kira-kira beginilah hasilnya:

00.00 Kilas Kompas (news)
00.30 Kompas Sport (news)
01.00 Kompas Malam (news)
02.00 … (entertainment)
03.00 Kilas Kompas (news)
03.30 Sebelas Duabelas (entertainment)
04.30 Kompas Pagi (news)
06.30 Kompas Sport (news)
07.00 Sapa Indonesia Pagi (news/information)
09.30 Ensikla (information/advertorial)
10.00 Cerita Hati (religi)
11.00 Kompas Siang (news)
13.00 Sapa Indonesia Siang (news/information)
15.00 … (entertainment/current affairs)
15.30 Megapolitan (local news)
16.00 … (current affairs)
16.30 Kompas Petang (news)
18.30 Kompas Sport (news)
19.00 … (entertainment/current affairs)
20.00 Kompasiana TV (current affairs)
21.00 Kompas Malam (news)
22.00 … (entertainment/current affairs)
22.30 … (entertainment/current affairs)
23.00 Sebelas Duabelas (entertainment)

Program pemberitaan di KOMPAS TV kini memiliki porsi yang sangat besar, setelah perpindahan dari 28 UHF ke 25 UHF di Jakarta. Kalaupun bukan berita, setidaknya masih ada current affairs, sedangkan program dari genre entertainment kini memiliki porsi yang bisa dibilang sangat kecil. KKG benar-benar memecah salurannya ke dua genre, dengan memfungsikan ktv di Jakarta sebagai “Televisi Referensi”, yang, walaupun saya belum pernah menyaksikan secara langsung, tapi saya rasa basis entertainmentnya cukup kuat, walaupun tetap pada benang merah Kelompok Kompas Gramedia sebagai penyedia informasi.

Di waktu lain, dalam hal ini akhir pekan alias Sabtu dan Minggu, KOMPAS TV tetap menayangkan program-program entertainment, sebagian lagi adalah science/documentary, dan ada juga slot untuk olahraga terutama dari sepakbola di bawah bendera “Soccer Zone”.

Cita-cita untuk membuat KOMPAS TV sebagai TV berita nampaknya benar-benar serius untuk diwujudkan. Saya teringat 4 tahun lalu ketika membaca koran Surya di awal September 2011, dituliskan (kurang lebih) bahwa “pendirian KOMPAS TV adalah untuk menjadi TV berita” yang kemudian setelah launching ternyata masih banyak program-program bersifat science/documentary, baik produksi sendiri maupun impor. Saat itu, sebagian orang menyebut KOMPAS TV adalah “Discovery Channel atau National Geographic” a la Indonesia, karena kualitas produksinya yang benar-benar berkelas internasional. Sekarang, cita-cita menjadi TV berita sudah mulai tercapai. Semoga bisa terus konsisten, dan salut dari saya untuk KOMPAS TV :)

Perkembangan Televisi Lokal di Malang Juli 2015

Belakangan, muncul stasiun TV baru yang berasal dari Malang, alias TV lokal. Namanya adalah AREMA TV. Stasiun televisi baru ini menempati frekwensi 27 UHF analog. Saat ini AREMA TV sedang dalam masa uji coba dalam jam siar yang terbatas.

Perkembangan lainnya, 50 UHF analog atau Malang TV memangkas jam siarannya. Stasiun TV pertama dari Kota Malang ini (walaupun ada Batu tv dan GNTV yang lebih awal, tapi perlu diingat bahwa kedua TV itu embrionya ada di Kota Batu) kini mengudara hanya 16 jam, dari jam 6 pagi sampai 10 malam. Hal ini membuat Malang TV kini memiliki jam mengudara yang sama dengan Batu tv. Sebelumnya, TV yang satu kelompok dengan Radio KDS 8 FM Malang ini mengudara 18 jam. Pemangkasan jam siar ini nampaknya sudah berlangsung sejak lama, tapi baru saya ketahui di bulan puasa lalu.

Informasi lainnya, UBTV, stasiun televisi milik Universitas Brawijaya, melalui running text, mengumumkan bahwa stasiun TV berstatus LPK itu akan kembali berubah frekwensi. Setelah di awal peluncurannya menempati 51 UHF analog dan kini menempati 56 UHF analog, ke depan stasiun TV ini akan bergeser ke 57 UHF analog. Belum diketahui pasti apakah yang membuat stasiun TV LPK ini kembali harus berpindah frekwensi. Namun, kalau saya ingin menduga-duga saja, boleh kan?

Dulu, jelang mengudaranya MHTV Malang di 52 UHF analog, UBTV berpindah frekwensi dari 51 ke 56. Kini, UBTV kembali harus bergeser dari 56 ke 57. Akankah ini menjadi pertanda bahwa akan kembali muncul satu pendatang baru setelah AREMA TV? Kita nantikan saja perkembangan di waktu-waktu mendatang. Mungkin akan butuh waktu yang cukup lama, melihat perkembangan di Semarang, Jawa Tengah pun butuh waktu lama sampai bisa menyaksikan stasiun TV baru, padahal izinnya sudah keluar beberapa bulan lalu.

Perkembangan lainnya akan ditulis segera ketika ada informasi baru yang saya terima. Untuk saat ini, Selamat Idul Fitri 1436 H, mohon maaf lahir dan batin :)

Selamat Datang, AREMA TV

Sebenarnya soal laporan ini sudah saya terima dari lama, tapi baru saya tulis sekarang, setelah saya memastikan sendiri. Terkuak sudah siapa pemilik color bar di channel 27 UHF analog Malang. Seperti yang saya tulis di judul, AREMA TV.

Menurut saya, yang paling urgent untuk dibahas di awal tulisan ini adalah: siapa pemilik stasiun TV ini? Sejak setahun lalu, mencuat kabar bahwa manajemen AREMA Cronus, tim sepakbola swasta di Malang, ingin memiliki media. Maksudnya tentu adalah media massa, tapi dalam konteks ini, televisi dan radio. Keinginan itu sempat pula didiskusikan dengan K-visiON, televisi berbayar satelit milik Kelompok Kompas Gramedia, tapi sepertinya tidak ditemukan titik temu dalam pembahasan itu.

Setahun berlalu, beredar informasi akan segera hadirnya stasiun TV baru di Malang. Bukan isu, karena memang pemerintah membuka jalur untuk siapapun memperebutkan IPP analog terakhir (katanya) yang dikeluarkan di berbagai daerah di Indonesia. Malang menjadi salah satu wilayah yang mendapat tambahan frekwensi, walaupun entah berapa jumlah frekwensi yang diberikan. Satu hal yang pasti, kini sudah dipakai satu frekwensi yang dulu pernah dipakai oleh STV alias Singosari TV. Channel itu adalah 27 UHF, dengan pemilik saat ini adalah AREMA TV.

Kembali soal pemilik, saya belum tahu pasti siapa sebenarnya pemilik stasiun TV ini, apakah AREMA Cronus yang tim sepakbola itu atau orang lain yang memakai nama AREMA untuk stasiun TV miliknya. Masalah nama perusahaan, yang saya tahu namanya adalah PT Arema Televisi Malang. Menurut penelusuran saya di internet, stasiun TV ini menjadi salah satu peserta EDP di KPID Jawa Timur. Sekedar info, EDP adalah salah satu tahapan untuk bisa mendapat izin siar dari pemerintah melalui KPI(D).

Stasiun TV ini memakai kepala singa sebagai logonya, yang menurut saya, kepala singa ini seperti mencium huruf A. Kepala singa ada di sebelah kanan, dengan ukuran yang lebih besar dari huruf A tersebut. Di bawahnya, ada tulisan AREMA TV. Peletakan logo sendiri ada di pojok kanan atas.

Video di YouTube menunjukkan bahwa AREMA TV sudah mampu memproduksi tayangan dengan rasio 16:9. Sayangnya, peletakan logo terlalu memojok, sehingga jelas logonya akan terpotong di layar televisi. Tapi, tampilan di layar kaca ternyata berbeda. AREMA TV masih bersiaran dengan format 4:3 seperti kebanyakan TV di Indonesia. Dalam siaran uji coba beberapa hari terakhir, logo AREMA TV belum terpasang, sehingga logo AREMA TV hanya tampil di ucapan selamat, seperti yang ada di YouTube.

Keberadaan AREMA TV sendiri sudah saya ketahui sejak pertengahan Mei 2015. Namun demikian, saya belum berani memastikan keberadaannya di layar kaca, sampai pada akhirnya saya menulis tulisan ini. Untuk lokasi kantor dan pemancar, masih saya telusuri lebih lanjut. Siaran uji coba AREMA TV, sejauh pengamatan saya, hanya memutar video clip classic rock dan beberapa video musik lainnya, dengan diselingi ucapan selamat dan Station ID AREMA TV. Kualitas suara masih belum stabil, dan kualitas gambar masih belum bersih seutuhnya. Untuk kualitas sinyal sudah cukup baik.

Tantangan bagi AREMA TV ke depannya, menurut saya, adalah, karena namanya yang mengandung unsur AREMA itu, maka tantangan terbesarnya adalah memenuhi keinginan masyarakat Malang untuk mendapat informasi sedetail-detailnya mengenai AREMA yang tim sepakbola itu. Bukan hal yang sulit jika memang TV ini dimiliki oleh AREMA, tapi jika ternyata TV ini dimiliki oleh swasta, maka si empunya TV haruslah menjaga hubungan baik dengan tim sepakbola itu.

Tantangan lainnya adalah, bagaimana posisi TV ini jika terjadi dualisme? Masalahnya, sepakbola Indonesia sedang kacau, dan bahkan AREMA sendiri sempat pecah jadi dua kubu, sederhananya dulu ada AREMA IPL dan AREMA ISL, bahkan kalau saya tidak salah ingat, AREMA sempat memasuki fase yang lebih parah dengan terpecah menjadi 3 kubu. Jika hal seperti ini terjadi di kemudian hari, posisi AREMA TV akan sangat krusial.

Hal lainnya yang perlu jadi perhatian adalah masalah standard, seperti masalah teknis, tampilan layar, dan lain sebagainya. AREMA TV harus mampu untuk menyaingi banyak TV lain yang sudah mengudara di Malang. Hal lain yang juga menarik perhatian saya adalah hadirnya kembali Citra Malang di frekwensi 105.7 MHz. Melalui twitter, radio ini menyatakan akan kembali dengan format baru. Sebelumnya, radio ini mengudara dengan format radio berita, dan banyak yang menyebut radio ini sebagai SS (Suara Surabaya)-nya Malang. Radio yang bermula sebagai programma 3 RRI Malang dengan nama Citra Pro-3 itu kini akan mengusung format yang lebih “Malangan”. Citra Malang juga menyebutkan bahwa radio ini juga akan banyak mengabarkan perkembangan seputar AREMA Cronus. Menariknya, twitter AREMA TV dan Citra Malang saling terhubung, setidaknya saling mengikuti. Sampai titik ini, saya memiliki asumsi bahwa keduanya (AREMA TV dan Citra Malang) dimiliki oleh seorang pengusaha besar di Malang yang memiliki Radio Citra Malang yang pernah berkantor di sebuah kompleks kantor pengembang PT Anugerah Citra Abadi (ACA) di Jalan Hasanudin 1A. Apakah hal ini benar (keduanya dalam satu pemilikan yang sama), saya belum dapat pastikan lebih lanjut, dan saya hanya bisa menunggu informasi berikutnya yang akan saya gali kemudian.

Tapi, jika ternyata keduanya dimiliki oleh manajemen AREMA Cronus secara langsung, maka bisa kita simpulkan bahwa keinginan manajemen AREMA Cronus telah terwujud. Keinginan untuk memiliki media sendiri dalam bentuk TV dan radio bisa dicapai dalam waktu satu tahun saja. Malahan, mungkin saja AREMA Cronus menjadi tim sepakbola pertama di Indonesia yang memiliki stasiun TV dan radio sendiri yang secara bebas mengudara di terestrial.

Untuk mencari siaran uji coba AREMA TV, pembaca di wilayah Malang bisa mencari dengan sistem manual search di antara DHAMMA TV dan GAJAYANA TV. Disarankan mencari pada siang hari karena uji coba sepertinya tidak dilakukan di malam hari. Sedangkan untuk Radio Citra Malang, bisa langsung dicari pada frekwensi 105.7 MHz dengan kualitas audio yang nampaknya masih dalam tahap penyesuaian. Untuk kualitas sinyal, masih belum benar-benar kuat dan juga belum merata. Menurut informasi, studio radio ini kini berada di daerah Kebon Agung, sebuah daerah yang berada di selatan Kota Malang, masuk wilayah Kec. Pakisaji, Kab. Malang. Untuk lokasi pemancar radio kemungkinan juga berada di studio radio tersebut.

KOMPAS TV, ktv, dan tvPlus!

Judulnya seperti cinta segitiga ya? Tapi baiklah, sepertinya, ini memang cinta segitiga yang menarik untuk dibahas.

Bagi yang ada di Jabodetabek, ramai dibicarakan “perpindahan” KOMPAS TV dari ktv 28 UHF ke tvPlus! 25 UHF. Kabar ini sempat saya dengar beberapa bulan lalu, setidaknya ketika mendadak tvPlus! beberapa kali menayangkan program KOMPAS TV langsung dari feed, bukan relay satelit umum. Artinya, di layar hanya ada logo tvPlus! tanpa logo KOMPAS TV. Sebatas ini saja sudah menjadi tanda bahwa tvPlus! yang menurut informasi pernah bernama MGS TV sudah berada di tangan Kelompok Kompas Gramedia.

Belakangan, tvPlus! lebih sering menayangkan “produk lama” KOMPAS TV. Ini kembali menjadi tanda, sampai pada akhirnya terungkap sudah: KOMPAS TV pindah ke 25 UHF di ulang tahun ke-4nya. Artinya, jika sebelumnya KOMPAS TV disiarkan melalui ktv yang sempat “digeser” ke Serang, kini berpindah ke tvPlus! yang berasal dari Bogor itu. Tidak sekedar pindah, tapi diubah pula namanya menjadi KOMPAS TV. Hal ini yang unik, karena KOMPAS TV yang sebelumnya dideklarasikan sebagai “content provider”, kini telah resmi menjadi TV berjaringan dengan stasiun TV induk yang “baru”.

Melihat ini, rasanya seperti melihat KOMPAS TV punya “cinta baru” dalam hidupnya. Lantas, bagaimana dengan ktv?

Stasiun TV 28 UHF itu ternyata tidak ditinggalkan oleh KOMPAS TV. Bahkan, ktv disiapkan menjadi “Televisi Referensi” oleh KOMPAS TV. Sekilas pandang melihat promonya di KOMPAS TV, ternyata ktv disiapkan menjadi sebuah TV gaya hidup. Ini mengingatkan saya pada O CHANNEL yang dimiliki oleh EMTEK. Zaman 2006, siapa masyarakat kelas atas Jakarta yang tidak mengenal O CHANNEL sebagai TV yang mengusung konsep “City Centric” itu? Sekarang, tetap City Centric sih, tapi sayangnya cenderung jadi TV konsumtif juga, dengan tayangan O Shop yang bisa dibilang “over duration” itu.

Inilah yang menurut saya unik. KKG berhasil memecah saluran terestrialnya menjadi dua: yang satu adalah TV berita (KOMPAS TV); yang lain lagi adalah saluran gaya hidup (ktv). Dua konsep ini sempat menyatu, setidaknya di tahun-tahun awal KOMPAS TV mengudara. Tentu ini menjadi kado yang sangat manis bagi kelompok usaha yang bisnis intinya, koran KOMPAS, memasuki usia 50 tahun. Sebuah kado yang sungguh sempurna dan mungkin juga mengobati “luka” atas kegagalan TV7 dulu. KKG kembali ke industri pertelevisian, dan dalam waktu singkat bisa memiliki dua saluran terestrial di Jakarta, yaitu KOMPAS TV dan ktv.

Selamat ulang tahun ke-50 untuk Koran KOMPAS, dan ke-4 untuk KOMPAS TV, serta selamat juga atas re-concepting ktv. Semoga menjadi sebuah tanda bahwa KOMPAS terus berjaya di cetak maupun di layar kaca. Tapi satu PR besar menanti KKG: kelompok Tribun yang kini dinilai “turun kasta” karena kontennya. Semoga ini segera diperbaiki dan menjadikan KKG kembali baik di mata masyarakat pecinta KKG. Satu lagi, semoga ktv tidak “over duration” ketika bisnis retailnya dinaikkan ke layar kaca, dalam artian, jangan sampai home shopping merajai konten siaran ktv nantinya.

Stasiun TV Analog Baru di Malang, Sudah Siapkah?

19 Juni 2015, Ongky Denny mengirim tulisan ke wall facebook dan mention ke twitter saya. Ia mengabarkan bahwa terdeteksi siaran analog pada kanal 27 UHF. Saat itu ia melihat ada color bar dengan musik atau lagu Jawa. Karena posisi saya masih di kantor TV saat itu, saya hanya membaca saja. Baru kemudian setelah saya kembali ke kantor radio di Malang (karena saya menginap di kantor radio beberapa hari, menyiapkan segala kebutuhan on-air radio untuk Ramadan ini), saya coba cari siaran yang dimaksud. Ternyata benar, ada color bar di analog 27 UHF malam itu, tapi sudah tanpa suara.

Saya segera membalas tweet Denny. Saya juga belum dapat memastikan transmitter stasiun televisi apa yang menyala di 27 UHF analog itu ketika ditanya. Saya penasaran, apakah ini hasil dari EDP yang baru saja lalu atau yang lainnya.

Menurut informasi yang saya terima, KPID Jawa Timur baru saja menyerahkan IPP kepada empat lembaga penyiaran. Sayang, tidak disebutkan dengan jelas lembaga mana saja yang menerima IPP tersebut, walaupun yang saya dengar akhir-akhir ini banyak sekali radio komunitas di Jawa Timur yang “bergembira” karena izinnya akhirnya turun.

Kalau memang IPP yang keluar dari KPID Jawa Timur itu adalah untuk radio komunitas, maka bisa dipastikan pengguna 27 UHF analog di Malang belum legal. Tapi, kalau memang KPID Jawa Timur sudah menyerahkan IPP kepada pemenang peluang izin siar TV analog baru, maka bisa jadi 27 UHF analog itu adalah salah satu TV analog yang mendapat “restu” dari KPID Jawa TImur.

Sekedar mengingatkan, pemerintah akhir tahun lalu mengumumkan terbukanya peluang penyiaran TV analog baru di Indonesia. Jawa Timur juga menjadi salah satu provinsi yang izinnya dibuka, dengan Malang menjadi wilayah yang izinnya turut diberikan peluangnya. Walaupun tidak disebutkan dengan jelas ada berapa TV baru yang akan diizinkan untuk mengudara di Malang, tapi setidaknya bisa dipastikan warga Malang akan mendapat satu lagi alternatif tayangan, tidak seperti Surabaya yang peluang izinnya tidak dibuka. Padahal, jumlah siaran di Malang lebih banyak daripada Surabaya.

Salah satu televisi dari Jakarta pernah menghubungi saya terkait kondisi geografis untuk lokasi pemancar di Malang Raya. Namun, kabar terakhir mereka mengurungkan niatnya karena kondisi persaingan perizinan yang luar biasa. Dari situ, nampaknya sudah ada pemegang IPP untuk siaran TV analog baru di Malang. Tapi, TV yang mana?

Dulu, ada juga TV lain dari Jakarta yang juga sempat terdengar akan ekspansi ke Malang. Beredar juga isu tentang masuknya TV dari Surabaya yang saat ini sudah mengudara di beberapa kota di Jawa Timur. Sementara itu di facebook, saya baru saja menemukan sebuah akun TV lokal yang secara faktual belum ada di Malang, tapi menyatakan diri siap untuk mengudara dalam waktu dekat. Sebelumnya, beberapa pekan lalu, ada siaran analog terdeteksi di 62 UHF, tapi saya yakini bukan CRTV, karena setting warna siaran analog itu dan setting warna CRTV jauh berbeda. Hanya mengudara 30 menit sekitar jam 11 malam, kemudian menghilang.

TV manakah yang akan mengudara di Malang? Sampai artikel ini saya terbitkan, masih menjadi misteri. Namun, sebagai informasi, ketika saya menulis artikel ini, kanal 27 UHF analog di Malang kembali kosong.