Ada Apa dengan NET.?

Dini hari saya berkeliling, melihat-lihat apa saja yang muncul di layar TV lewat tengah malam. Lewat satelit, terpantaulah NET. HD yang sedang tayangkan program Breakout, program musik yang memang lebih fokus ke video clip daripada penampilan langsung. Ada video clip yang cukup menarik, tayang full screen. Apakah video ini memenuhi kaidah “safe area” yang dianut NET. SD?

Maka saya alihkan input TV saya ke antena analog. Tekan tombol 58 di RCU TV set saya, menggeser RCU TV berbayar saya tadi. Akhirnya, layar analog 58 UHF saya menampilkan gambar yang dipancarkan dari kampung satelit di Batu. Tadaaa!

“Tanah airku tidak ku lupakan… Kan terkenang selama hidupku…”

Lho kok?

Hehe, iya, saya sebenarnya ingat kalau NET. di analog terestrial kini tidak mengudara penuh. Cuma saya penasaran saja, apakah NET. analog di rumah masih “bocor” seperti beberapa hari lalu, yang masih siaran sampai jam 1.30 pagi. Tapi ternyata, dini hari ini siaran NET. tidak “kebablasan”, closing di sekitar jam 1 pagi.

Sebenarnya saya belum dapat jawaban pasti kenapa NET. analog di berbagai wilayah di Indonesia mengakhiri siaran pada pukul 1 pagi WIB. Pertanyaan ini sudah diajukan teman di grup fb beberapa bulan lalu, tapi tidak menemukan jawaban sampai hari ini. Jadi, buat yang pingin cari kenapa NET. tidak siaran penuh, saya belum ketemu jawabannya. Mungkin juga sebenarnya sudah ada jawaban di grup tapi saya lupa melakukan cek ulang kiriman itu. Satu hal yang pasti, tidak ada lagi video clip yang menemani para nokturnal untuk sekedar beristirahat atau mungkin kerjakan tugas di dini hari, terutama untuk yang pakai antena analog.

Maka, tulisan ini saya akhiri dengan judul artikel ini: Ada Apa dengan NET.?

TV Lokal di Malang Raya–Updated Januari 2016

Siaran digital di Malang kembali “mati suri” setelah kemarin TRANS Corp sempat mengudarakan CNN Indonesia via DVB-T2. Matinya multiplekser TRANS Corp menjadikan STB DVB-T2 penonton siaran digital di Malang jadi tak berfungsi dan mungkin bisa dikandangkan kembali. Tapi, di analog, dua stasiun televisi baru sudah siap mengudara, yang satu malah sudah mengudara yaitu itv Malang milik STT RRI Malang. Satu stasiun lainnya rupanya sedang menunggu momen yang tepat untuk mulai mengudara, yaitu AREMA TV. Kedua stasiun televisi ini sudah dipastikan ada dalam status ujicoba untuk beberapa waktu ke depan seperti yang disyaratkan pemerintah kepada stasiun televisi baru. Belum ada kabar lagi mengenai tambahan stasiun TV baru atau isu lain berkaitan dengan stasiun TV lainnya.

Untuk meng-update tentang pertelevisian di Malang Raya, saya sampaikan daftar siaran TV di Malang Raya sampai 6 Januari 2016. Update sebelumnya bisa dibaca di sini. Dalam daftar terbaru ini daftar siaran digital kembali dihapus. Artikel ini juga memuat beberapa koreksi atas kesalahan lokasi pemancar di artikel sebelumnya.

Ini adalah pembagian terbaru versi saya yang berlaku hanya di wilayah Malang saja. Di wilayah lain isi pembagian tentu menjadi berbeda

Alamat: gedung/kompleks (jika ada), jalan (jika ada), dusun/perumahan (jika ada), desa/kelurahan, kecamatan, kota/kabupaten

TV Murni Lokal

atv (Agropolitan Televisi) – Lembaga Penyiaran Publik Lokal Agropolitan Televisi
Channel: analog SD 32 UHF
Kantor: Lembaga Penyiaran Publik Lokal Agropolitan Televisi, Kompleks Dinas Informasi, Komunikasi, dan Perpustakaan (Infokompust) Kota Batu, Jl. TVRI 1000, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu
Lokasi pemancar: Lembaga Penyiaran Publik Lokal Agropolitan Televisi, Kompleks Dinas Informasi, Komunikasi, dan Perpustakaan (Infokompust) Kota Batu, Jl. TVRI 1000, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

AREMA TV – PT Arema Televisi Malang
Channel: analog SD 27 UHF
Kantor: (dugaan sementara) , Pakisaji, Kabupaten Malang
Lokasi pemancar: (dugaan sementara) Griya Coban Rais, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

Batu tv – PT Batu tv
Channel: analog SD 48 UHF
Kantor: Griya Coban Rais, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu
Lokasi pemancar: Griya Coban Rais, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

CRTV (Citra Raya Televisi) – PT Syiar Media
Channel: analog SD 62 UHF
Kantor: Ruko Soekarno Hatta Indah E9, Jl. Soekarno Hatta, Mojolangu, Lowokwaru, Kota Malang
Lokasi pemancar: , Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

GAJAYANA TV – PT Gajayana Media Karya
Channel: analog SD 28 UHF
Kantor: Ruko Dinoyo, Jl. MT. Haryono No. 167 Kav 11, Dinoyo, Lowokwaru, Kota Malang
Lokasi pemancar: , Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

Malang TV – PT Malteve
Channel: analog SD 50 UHF
Kantor: Malang TV, Jl. Puncak Joyo Agung, Genting, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang
Lokasi pemancar: Malang TV, Jl. Puncak Joyo Agung, Genting, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang

MHTV Malang – PT Media Hutama Televisi
Channel: analog SD 52 UHF
Kantor: Ruko De Panorama Square, Jl. A. Yani, Polowijen, Blimbing, Kota Malang
Lokasi pemancar: Pemancar MHTV Malang, Jl. Anggrek 45, Dresel, Oro-Oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

 

TV SSJ (Stasiun Sistem Jaringan)

DHAMMA TV – PT Dhamma Joti
Asal: Malang
Stasiun Induk SSJ
Konten lokal: Induk
Durasi lokal: Induk
Channel: analog SD 26 UHF
Kantor: Ruko Ciliwung, Jl. Ciliwung 57 E, Purwantoro, Blimbing, Kota Malang
Lokasi pemancar: Gedung Transmisi DHAMMA TV Malang, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

jtv (Jawa Pos Media Televisi) – PT Jawa Pos Media Televisi / jawapostv – ?
Asal: Surabaya / Jakarta
Nama lokal di Malang: jtv malang – PT Jannah Batu Televisi (Malang)
Konten lokal: Malang (produksi lokal) + JPMC (suplai)
Durasi lokal: hingga 180 menit (3 jam)/hari, Sn-Mg
Channel: analog SD 34 UHF
Kantor konten lokal: Ruko Tlogomas Square, Jl. Raya Tlogomas, Tlogomas, Lowokwaru, Kota Malang
Lokasi pemancar: Gedung Transmisi jtv Malang, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo,Kota Batu

TVRI Nasional (nama tidak resmi: TVRI 1) (Televisi Republik Indonesia) – Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia
Asal: Jakarta
Nama lokal di Malang: TVRI JAWA TIMUR – Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (Nasional)
Konten lokal: Surabaya (relay)
Durasi lokal: hingga 420 menit (7 jam)/hari, Sn-Mg
Channel: analog VHF-L, analog SD 42 UHF dan analog SD 36 UHF (36 UHF tidak aktif lagi)
Kantor konten lokal: TVRI Surabaya, Jl. Mayjen Sungkono 124, Dukuh Pakis, Dukuh Pakis, Kota Surabaya
Lokasi pemancar: Transmisi TVRI Oro-oro Ombo Kota Batu, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu; TVRI Lawang, Lawang, Kab. Malang (pemancar Lawang (36 UHF) tidak aktif lagi)

RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) – PT Rajawali Citra Televisi Indonesia
Asal: Jakarta
Nama lokal di Malang: RCTI JAWA TIMUR – PT RCTI Tiga (Surabaya)
Konten lokal: Surabaya (relay)
Durasi lokal: hingga 35 menit/hari, Sn-Jm; hingga 5 menit/hari, Sb-Mg
Channel: analog SD 40 UHF
Kantor konten lokal: Biro MNC Group Jawa Timur, Jalan Sambisari IIIA No. 9, Lontar, Sambikerep, Kota Surabaya
Lokasi pemancar: Stasiun Transmisi SCTV-RCTI Oro-oro Ombo Kota Batu, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

Global TV – PT Global Informasi Bermutu
Asal: Jakarta
Nama lokal di Malang: Global TV Malang – PT GTV Tiga (Surabaya)
Konten lokal: Jakarta (suplai)
Durasi lokal: hingga 5 menit/hari, Sn-Mg
Channel: analog SD 30 UHF
Kantor konten lokal: Gedung Ario Bimo Sentral, Jalan HR Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, DKI Jakarta
Lokasi pemancar: Stasiun Relay MNC TV Malang*, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo,Kota Batu

MNC TV (Media Nusantara Citra Televisi) – PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia
Asal: Jakarta
Nama lokal di Malang: MNC TV Malang – PT TPI Tiga (Surabaya)
Konten lokal: Jakarta (suplai)
Durasi lokal: hingga 5 menit/hari, Sn-Mg
Channel: analog SD 36 UHF
Kantor konten lokal: Jl. Pintu 2 Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur
Lokasi pemancar: Stasiun Relay MNC TV Malang*, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo,Kota Batu

TRANS TV HD – PT Televisi Transformasi Indonesia
Asal: Jakarta
Nama lokal di Malang: TRANS TV MALANG/TRANS TV SURABAYA – PT Trans TV Jayapura Surabaya (Surabaya)
Konten lokal: Surabaya (suplai)
Durasi lokal: hingga 60 menit/hari, Sn-Jm; hingga 10 menit, Sb-Mg
Channel: analog SD 22 UHF
Kantor konten lokal: Jalan Jimerto 17 A, Kota Surabaya
Lokasi pemancar: Gedung Transmisi TRANS TV-TRANS 7, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

TRANS 7 HD – PT Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh
Asal: Jakarta
Nama lokal di Malang: TRANS 7 MALANG/TRANS 7 SURABAYA – PT Trans 7 Surabaya Manado (Surabaya)
Konten lokal: Surabaya (suplai)
Durasi lokal: hingga 90 menit/hari, Sn-Jm; hingga 10 menit, Sb-Mg
Channel: analog SD 60 UHF
Kantor konten lokal: Jalan Jimerto 17 A, Kota Surabaya
Lokasi pemancar: Gedung Transmisi TRANS TV-TRANS 7, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

METRO TV – PT Media Televisi Indonesia
Asal: Jakarta
Nama lokal di Malang: METRO TV JAWA TIMUR – PT Media Televisi Lestari Satu (Surabaya)
Konten lokal: Surabaya (relay)
Durasi lokal: higga 120 menit (2 jam)/hari, Sn-Jm
Channel: analog SD 55 UHF
Kantor konten lokal: Ruko Permata Bintoro, Jl. Ketampon Kav. 118 – 123, Dr. Soetomo, Tegalsari, Kota Surabaya
Lokasi pemancar: rtv Malang, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

rtv (Rajawali Televisi) – PT Metropolitan Televisindo
Asal: Jakarta
Nama lokal di Malang: rtv – PT Nusantara Damai (Malang)
Konten lokal: rtv (Suplai)
Durasi lokal: hingga 60 menit (1 jam)/hari, Sn-Jm
Channel: analog SD 24 UHF
Kantor konten lokal: rtv, Jakarta
Lokasi pemancar: rtv Malang, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

NET. HD (News and Entertainment Television) – PT Net Mediatama Indonesia
Asal: Jakarta
Nama lokal di Malang: NET. MALANG – PT Televisi Anak Kota Malang
Konten lokal: NET. SURABAYA (Suplai) – PT Televisi Anak Surabaya
Durasi lokal: hingga 60 menit (1 jam)/hari, Sn-Jm
Channel: analog SD 58 UHF
Lokasi pemancar: TV ANAK Spacetoon Malang, Jl. Kebon Apel 16, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

 

TV Nasional

SCTV (Surya Citra Televisi) – PT Surya Citra Televisi (Jakarta)/PT Elang Citra Perkasa (Surabaya)
Channel: analog SD 46 UHF
Lokasi pemancar: Stasiun Transmisi SCTV-RCTI Oro-oro Ombo Kota Batu, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

INDOSIAR – PT Indosiar Visual Mandiri (Jakarta)/PT Indosiar Surabaya Televisi (Surabaya)
Channel: analog SD 38 UHF
Lokasi pemancar: Stasiun Pemancar Televisi INDOSIAR Kota Batu, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

antv (Andalas Televisi) – PT Cakrawala Andalas Televisi (Jakarta)
Channel: analog SD 44 UHF
Lokasi pemancar: Gedung Transmisi jtv Malang, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo,Kota Batu

tvOne – PT Lativi Media Karya (Jakarta)/PT Lativi Mediakarya Surabaya dan Jambi (Surabaya)
Channel: analog SD 54 UHF
Lokasi pemancar: Transmisi TVRI Oro-oro Ombo Kota Batu, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

 

TV Komunitas (LPK)

UBTV (Universitas Brawijaya Televisi)
Channel: analog SD 57 UHF
Kantor: Lantai 3 Gedung Rektorat Universitas Brawijaya, Jl. Veteran, Ketawanggede, Lowokwaru, Kota Malang
Lokasi pemancar: Lantai 9 Gedung Rektorat Universitas Brawijaya, Jl. Veteran, Ketawanggede, Lowokwaru, Kota Malang

tvEdukasi SMKN 2 Singosari (tidak terafiliasi dengan tvEdukasi milik Kemdikbud di Jakarta)
Channel: analog SD __ VHF-H (belum saya teliti lebih lanjut, tidak ada keterangan di internet)
Kantor: SMKN 2 Singosari, Jl. Perusahaan No. 20, Karanglo, Kec. Singosari, Kab. Malang
Lokasi Pemancar: SMKN 2 Singosari, Jl. Perusahaan No. 20, Karanglo, Kec. Singosari, Kab. Malang

itv (Indonesia Televisi)
Channel: analog SD 29 UHF
Kantor: Kampus STT RRI Malang, Jl. Soekarno Hatta 94, Lowokwaru, Kota Malang
Lokasi pemancar: Kampus STT RRI Malang, Jl. Soekarno Hatta 94, Lowokwaru, Kota Malang

 

Malang Raya Channel Line-Up sampai 6 Januari 2016.
Keterangan:
1. Warna oranye lokasi pemindaian di kawasan Kel. Mergosono, Kec. Kedung Kandang, Kota Malang (+ 426 mdpl, + 16 Km ke arah tenggara dari kawasan pemancar Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu). Saluran dengan warna oranye bisa ditangkap di seluruh wilayah Malang.
2. Warna biru lokasi pemindaian di sekitar kawasan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso, Kec. Karangploso, Kab. Malang (+ 660 mdpl, + 8 Km ke arah timur dari kawasan pemancar Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu). Saluran berwarna biru dalam daftar ini tidak dapat ditangkap di kawasan Mergosono dan Soekarno-Hatta.
3. Warna hijau lokasi pemindaian (fiktif) di kawasan Jl. Soekarno-Hatta, Kec. Lowokwaru, Kota Malang (+ 500 mdpl, + 11 Km ke arah timur-tenggara dari kawasan pemancar Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu).  Saluran berwarna biru dalam daftar ini tidak dapat ditangkap di kawasan Mergosono dan Karangploso.
4. Kawasan pemancar Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu, + 925 mdpl.

channel table 2016 January

*Ditulis sebagai stasiun Relay MNC TV Malang karena tanah yang dipergunakan sekarang dulunya (tahun 2006an) diberi plang “di sini akan segera dibangun Stasiun Pemancar TPI Malang” lengkap dengan logo TPI, tapi saat ini di lokasi gedung transmisi itu papan yang dipasang justru adalah “Stasiun Transmisi Global TV MALANG” lengkap dengan logo Global TV MALANG

Persaingan Unik

Dua hari terakhir (Kamis dan Jumat, 15—16 Oktober 2015), sesuatu yang unik terjadi di Jakarta. Jika persaingan antar televisi yang biasanya terjadi adalah persaingan program demi kue iklan, maka yang terjadi di 37 UHF Jakarta adalah persaingan sinyal!

Mungkin pembaca bisa menganggap hal itu biasa saja, karena banyak daerah mengalami hal yang sama. Tapi lihat konteksnya dulu. Biasanya, persaingan sinyal pada frekuensi yang sama terjadi karena perbedaan wilayah layanan dan si penerima sinyal ada di perbatasan dua wilayah layanan itu. Tapi yang di Jakarta ini beda, keduanya berasal dari satu wilayah layanan yang sama.

Adalah MNC TV Hary Tanoe dan TPI Mbak Tutut yang bersaing sinyal itu. Hal ini terjadi di sore hingga malam hari. MNC TV yang selama ini dengan leluasa mengudara dengan frekuensi 37 UHF, ditabrak oleh siaran TPI. Bertanya-tanya kenapa hal itu bisa terjadi?

Hal ini masih berkaitan dengan rebutan kepemilikan PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia yang sebenarnya sudah diputus pengadilan tertinggi negara ini. Keputusannya jelas: PT CTPI adalah milik Mbak Tutut. Keputusan ini keluar setelah serangkaian proses hukum yang panjang, mulai dari keputusan Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, hingga Mahkamah Agung, termasuk sebuah lembaga bernama BANI. Dengan keputusan MA, maka jelaslah bahwa PT CTPI adalah milik Mbak Tutut. Otomatis, dengan keputusan ini, MNC TV menjadi pihak yang menggunakan frekuensi secara ilegal.

Walaupun demikian, empunya MNC TV ini seolah gerah dengan keputusan ini. MNC TV tetap menjalankan operasionalnya seperti biasa (atau mungkin ada gaduh riuh rendah yang tidak biasa, karena posisi mereka sebenarnya ilegal sekarang). Malahan, sempat muncul kabar empunya MNC TV ingin membeli 25% saham Mbak Tutut di PT CTPI. Pertanyaannya: 25% dari mana? Kan pemiliknya sudah jelas Mbak Tutut, jadi sahamnya Mbak Tutut di PT CTPI itu sebenarnya ya 100%, bukan 25%.

Tidak ada respon, MNC TV terus menjalankan siarannya, sambil dengan kekeuh menyebut PT CTPI dengan nama udara MNC TV adalah pihak yang resmi. Di sisi lain, PT CTPI dengan nama udara TPI berancang-ancang untuk mengudara. Kurang lebih setahun sejak keputusan MA itu, akhirnya frekuensi 37 UHF mulai digunakan oleh PT CTPI dengan nama udara TPI. Hebohlah Jakarta dengan kejadian ini.

MNC TV yang akan merayakan ulang tahun ke-24nya (angka 24 berarti MNC TV “lahir” tahun 1991, padahal yang lahir pada tahun 1991 adalah TPI, sementara MNC TV “lahir” tahun 2010) seperti kebakaran jenggot. Buru-buru mereka keluarkan pernyataan bahwa siaran MNC TV diganggu oleh pihak ilegal. Tidak berhenti di situ, sang saudara tua, RCTI, juga mengeluarkan pernyataan yang sama, bahwa MNC TV diganggu pihak ilegal. Di jagad dalam jaringan alias online, portal berita milik MNC juga mengunggah berita yang sama, MNC TV diganggu pihak ilegal. Tidak main-main, MNC Group mencatut nama Kemkominfo dalam pernyataannya, bahwa MNC TV melaporkan kejadian “pengrusakan sinyal” itu kepada Kemkominfo.

Lebih jauh lagi, portal berita milik MNC Group mengeluarkan berita tentang menara televisi yang (katanya) digunakan si pihak ilegal. Beberapa teman di grup facebook davenirvana1 World kemudian menelusuri alamat tower itu, dan menurut teman-teman di sana, alamat tower itu adalah tower bersama Jaktv dan O CHANNEL, dua TV lokal di Jakarta; sedangkan menurut informasi yang beredar di antara pengamat televisi menyebut siaran TPI dipancarkan dari kawasan Joglo, bukan Tangerang, seperti alamat yang disebutkan portal berita MNC Group.

Kecurigaan “asal tuduh” ini menguat karena foto tower yang diambil pewarta mereka diambil dari sisi belakang tower, bukan dari depan. Foto juga diambil pada malam hari, sehingga membuat sebagian besar pengamat TV ragu, apakah tower itu memang betul punya TPI, karena panel antena transmitter TV yang biasanya dipasang di puncak tower, tidak terlihat.

Terkini, MNC Group menuding pihak Menkominfo tidak mengambil tindakan atas laporan mereka mengenai pengrusakan sinyal. Menurut saya, wajar Menkominfo tidak mengambil tindakan, karena justru sang pelaporlah yang ilegal. Malahan bukan tidak mungkin nantinya laporan ini akan jadi bumerang bagi mereka, jika Kemkominfo mempertegas kepemilikan frekuensi 37 UHF itu atas nama PT CTPI dengan nama udara TPI, bukan PT CTPI dengan nama udara MNC TV.

Sementara itu, Komisi Penyiaran Indonesia di Jakarta memilih berhati-hati dalam menanggapi masuknya dua permohonan perpanjangan izin untuk PT CTPI. KPI mengundang Kemkominfo dan Kemkumham untuk menentukan permohonan izin mana yang harus diproses: yang nama udaranya TPI atau MNC TV. Menurut KPI, izin siaran PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia akan berakhir 16 Oktober 2016, dan kedua pihak memasukkan permohonan perpanjangan izin sesuai prosedur, setahun sebelum masa berlaku izin sekarang berakhir. Kita nantikan izin mana yang akan diproses KPI, karena dari izin yang diproses KPI akan nampak, siapa yang legal dan siapa yang ilegal, walaupun sebenarnya keputusan hukum MA sudah cukup jelas. Keputusan KPI nanti juga akan mempertegas opini Kemkominfo mengenai siapa yang ilegal, mengingat MNC Group melaporkan siarannya yang diganggu pihak ilegal kepada Kemkominfo.

Dulu memang saya sempat mengatakan bahwa TPI yang diubah menjadi MNC TV memiliki banyak kemajuan bersama MNC. Tapi, dengan statusnya saat ini, maka harusnya kita tahu bagaimana status PT CTPI di mata hukum, dan kalau bicara performa dalam konteks rating, posisi MNC TV sudah tidak semenanjak dulu.

Mengenai TPI yang baru, saya sempat melihat logo baru TPI yang bisa dibilang cukup modern. Mbak Tutut sendiri menyatakan bahwa ia akan mengembalikan TPI seperti nama aslinya, menjadi Televisi Pendidikan Indonesia, mungkin maksudnya adalah tidak dengan benar-benar menjadi TV pendidikan (apa lagi kita sudah punya tvEdukasi sekarang), tapi TPI akan hadir dengan konten yang lebih mendidik. Selain itu, TPI memiliki color bar yang cukup unik, dengan rangkaian gambar, bukan color bar konvensional. Menurut laporan teman-teman di Jakarta, color bar “TPI 37 UHF” itu dilengkapi dengan musik yang berisi lagu-lagu yang sekarang ini populer di kalangan anak muda.

Untuk saat ini, mari kita ucapkan “selamat datang kembali TPI, dan selamat bersaing frekuensi dengan MNC TV”.

TV Lokal di Malang Raya–Updated September 2015

AREMA TV yang sempat mengudara beberapa waktu lalu menghilang, sehingga channel 27 UHF di Malang Raya kembali kosong. Sementara itu bergeser 1 frekwensi ke 28 UHF, TV9 terlihat berpisah dari GAJAYANA TV yang juga baru saja berganti logo. Batu tv nampaknya juga sudah tidak menayangkan lagi produk dari Tempo TV. Perkembangan menarik ada di kanal digital, karena MUX TRANS Corp kembali beroperasi dengan membawa kanal baru, CNN INDONESIA. Ini dikabarkan oleh teman-teman di grup davenirvana1 World di facebook.

Untuk meng-update tentang pertelevisian di Malang Raya, saya sampaikan daftar siaran TV di Malang Raya sampai 16 September 2015. Update sebelumnya bisa dibaca di sini. Dalam daftar terbaru ini daftar siaran digital kembali ditulis, sesuai dengan kondisi udara di Malang. Artikel ini juga memuat beberapa koreksi atas kesalahan lokasi pemancar di artikel sebelumnya.

Ini adalah pembagian terbaru versi saya yang berlaku hanya di wilayah Malang saja. Di wilayah lain isi pembagian tentu menjadi berbeda

Alamat: gedung/kompleks (jika ada), jalan (jika ada), dusun/perumahan (jika ada), desa/kelurahan, kecamatan, kota/kabupaten

TV Murni Lokal

atv (Agropolitan Televisi) – Lembaga Penyiaran Publik Lokal Agropolitan Televisi
Channel: analog 32 UHF
Kantor: Lembaga Penyiaran Publik Lokal Agropolitan Televisi, Kompleks Dinas Informasi, Komunikasi, dan Perpustakaan (Infokompust) Kota Batu, Jl. TVRI 1000, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu
Lokasi pemancar: Lembaga Penyiaran Publik Lokal Agropolitan Televisi, Kompleks Dinas Informasi, Komunikasi, dan Perpustakaan (Infokompust) Kota Batu, Jl. TVRI 1000, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

Malang TV – PT Malteve
Channel: analog 50 UHF
Kantor: Malang TV, Jl. Puncak Joyo Agung, Genting, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang
Lokasi pemancar: Malang TV, Jl. Puncak Joyo Agung, Genting, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang

CRTV (Citra Raya Televisi) – PT Syiar Media
Channel: analog 62 UHF
Kantor: Ruko Soekarno Hatta Indah E9, Jl. Soekarno Hatta, Mojolangu, Lowokwaru, Kota Malang
Lokasi pemancar: , Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

GAJAYANA TV – PT Gajayana Media Karya
Channel: analog 28 UHF
Kantor: Ruko Dinoyo, Jl. MT. Haryono No. 167 Kav 11, Dinoyo, Lowokwaru, Kota Malang
Lokasi pemancar: , Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

Batu tv – PT Batu tv
Channel: analog 48 UHF
Kantor: Griya Coban Rais, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu
Lokasi pemancar: Griya Coban Rais, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

TV SSJ (Stasiun Sistem Jaringan)

DHAMMA TV – PT Dhamma Joti
Asal: Malang
Stasiun Induk SSJ
Konten lokal: Induk
Durasi lokal: Induk
Channel: analog 26 UHF
Kantor: Ruko Ciliwung, Jl. Ciliwung 57 E, Purwantoro, Blimbing, Kota Malang
Lokasi pemancar: Gedung Transmisi DHAMMA TV Malang, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

jtv (Jawa Pos Media Televisi) – PT Jawa Pos Media Televisi
Asal: Surabaya
Nama lokal di Malang: jtv malang – PT Jannah Batu Televisi (Malang)
Konten lokal: Malang (produksi lokal) + JPMC (suplai)
Durasi lokal: hingga 180 menit (3 jam)/hari, Sn-Mg
Channel: analog 34 UHF
Kantor konten lokal: Ruko Tlogomas Square, Jl. Raya Tlogomas, Tlogomas, Lowokwaru, Kota Malang
Lokasi pemancar: Gedung Transmisi jtv Malang, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo,Kota Batu

TVRI Nasional (nama tidak resmi: TVRI 1) (Televisi Republik Indonesia) – Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia
Asal: Jakarta
Nama lokal di Malang: TVRI JAWA TIMUR – Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (Nasional)
Konten lokal: Surabaya (relay)
Durasi lokal: hingga 420 menit (7 jam)/hari, Sn-Mg
Channel: analog VHF-L, analog 42 UHF dan analog 36 UHF (36 UHF tidak aktif lagi)
Kantor konten lokal: TVRI Surabaya, Jl. Mayjen Sungkono 124, Dukuh Pakis, Dukuh Pakis, Kota Surabaya
Lokasi pemancar: Transmisi TVRI Oro-oro Ombo Kota Batu, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu; TVRI Lawang, Lawang, Kab. Malang (pemancar Lawang (36 UHF) tidak aktif lagi)

RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) – PT Rajawali Citra Televisi Indonesia
Asal: Jakarta
Nama lokal di Malang: RCTI JAWA TIMUR – PT RCTI Tiga (Surabaya)
Konten lokal: Surabaya (relay)
Durasi lokal: hingga 35 menit/hari, Sn-Jm; hingga 5 menit/hari, Sb-Mg
Channel: analog 40 UHF
Kantor konten lokal: Biro MNC Group Jawa Timur, Jalan Sambisari IIIA No. 9, Lontar, Sambikerep, Kota Surabaya
Lokasi pemancar: Stasiun Transmisi SCTV-RCTI Oro-oro Ombo Kota Batu, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

Global TV – PT Global Informasi Bermutu
Asal: Jakarta
Nama lokal di Malang: Global TV Malang – PT GTV Tiga (Surabaya)
Konten lokal: Jakarta (suplai)
Durasi lokal: hingga 5 menit/hari, Sn-Mg
Channel: analog 30 UHF
Kantor konten lokal: Gedung Ario Bimo Sentral, Jalan HR Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, DKI Jakarta
Lokasi pemancar: Stasiun Relay MNC TV Malang, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo,Kota Batu

MNC TV (Media Nusantara Citra Televisi) – PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia
Asal: Jakarta
Nama lokal di Malang: MNC TV Malang – PT TPI Tiga (Surabaya)
Konten lokal: Jakarta (suplai)
Durasi lokal: hingga 5 menit/hari, Sn-Mg
Channel: analog 36 UHF
Kantor konten lokal: Jl. Pintu 2 Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur
Lokasi pemancar: Stasiun Relay MNC TV Malang, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo,Kota Batu

TRANS TV – PT Televisi Transformasi Indonesia
Asal: Jakarta
Nama lokal di Malang: TRANS TV MALANG/TRANS TV SURABAYA – PT Trans TV Jayapura Surabaya (Surabaya)
Konten lokal: Surabaya (suplai)
Durasi lokal: hingga 60 menit/hari, Sn-Jm; hingga 10 menit, Sb-Mg
Channel: analog 22 UHF/digital 47 UHF
Kantor konten lokal: Jalan Jimerto 17 A, Kota Surabaya
Lokasi pemancar: Gedung Transmisi TRANS TV-TRANS 7, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

TRANS 7 – PT Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh
Asal: Jakarta
Nama lokal di Malang: TRANS 7 MALANG/TRANS 7 SURABAYA – PT Trans 7 Surabaya Manado (Surabaya)
Konten lokal: Surabaya (suplai)
Durasi lokal: hingga 90 menit/hari, Sn-Jm; hingga 10 menit, Sb-Mg
Channel: analog 60 UHF/digital 47 UHF
Kantor konten lokal: Jalan Jimerto 17 A, Kota Surabaya
Lokasi pemancar: Gedung Transmisi TRANS TV-TRANS 7, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

METRO TV – PT Media Televisi Indonesia
Asal: Jakarta
Nama lokal di Malang: METRO TV JAWA TIMUR – PT Media Televisi Lestari Satu (Surabaya)
Konten lokal: Surabaya (relay)
Durasi lokal: higga 120 menit (2 jam)/hari, Sn-Jm
Channel: analog 55 UHF
Kantor konten lokal: Ruko Permata Bintoro, Jl. Ketampon Kav. 118 – 123, Dr. Soetomo, Tegalsari, Kota Surabaya
Lokasi pemancar: rtv Malang, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

rtv (Rajawali Televisi) – PT Metropolitan Televisindo
Asal: Jakarta
Nama lokal di Malang: rtv – PT Nusantara Damai (Malang)
Konten lokal: rtv (Suplai)
Durasi lokal: hingga 60 menit (1 jam)/hari, Sn-Jm
Channel: analog 24 UHF
Kantor konten lokal: rtv, Jakarta
Lokasi pemancar: rtv Malang, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

iNewsTV – PT Sun Televisi Network
Asal: Jakarta
Nama lokal di Malang: MHTV Malang – PT Media Hutama Televisi (Malang)
Konten lokal: Malang (produksi lokal)
Durasi lokal: hingga 540 menit (9 jam)/hari, Sn-Mg (saat ini masih 100% lokal)
Channel: analog 52 UHF
Kantor: Ruko De Panorama Square, Jl. A. Yani, Polowijen, Blimbing, Kota Malang
Lokasi pemancar: Pemancar MHTV Malang, Jl. Anggrek 45, Dresel, Oro-Oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

TV Nasional

SCTV (Surya Citra Televisi) – PT Surya Citra Televisi (Jakarta)/PT Elang Citra Perkasa (Surabaya)
Channel: analog 46 UHF
Lokasi pemancar: Stasiun Transmisi SCTV-RCTI Oro-oro Ombo Kota Batu, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

INDOSIAR – PT Indosiar Visual Mandiri (Jakarta)/PT Indosiar Surabaya Televisi (Surabaya)
Channel: analog 38 UHF
Lokasi pemancar: Stasiun Pemancar Televisi INDOSIAR Kota Batu, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

antv (Andalas Televisi) – PT Cakrawala Andalas Televisi (Jakarta)
Channel: analog 44 UHF
Lokasi pemancar: Gedung Transmisi jtv Malang, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo,Kota Batu

tvOne – PT Lativi Media Karya (Jakarta)/PT Lativi Mediakarya Surabaya dan Jambi (Surabaya)
Channel: analog 54 UHF
Lokasi pemancar: Transmisi TVRI Oro-oro Ombo Kota Batu, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

NET. – PT Net Mediatama Indonesia (Jakarta)/PT Televisi Anak Kota Malang (Malang)
Channel: analog 58 UHF
Lokasi pemancar: NET./TV ANAK Spacetoon Malang, Jl. Kebon Apel 16, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

CNN INDONESIA – PT Detik TV Indonesia (Jakarta)
Channel: digital 47 UHF
Lokasi pemancar: Gedung Transmisi TRANS TV-TRANS 7, Dresel, Oro-oro Ombo, Junrejo, Kota Batu

TV Komunitas (LPK)

UBTV (Universitas Brawijaya Televisi)
Channel: analog 56 UHF
Kantor: Lantai 3 Gedung Rektorat Universitas Brawijaya, Jl. Veteran, Ketawanggede, Lowokwaru, Kota Malang
Lokasi pemancar: Lantai 9 Gedung Rektorat Universitas Brawijaya, Jl. Veteran, Ketawanggede, Lowokwaru, Kota Malang

tvEdukasi SMKN 2 Singosari (tidak terafiliasi dengan tvEdukasi milik Kemdikbud di Jakarta)
Channel: analog __ VHF-H (belum saya teliti lebih lanjut, tidak ada keterangan di internet)
Kantor: SMKN 2 Singosari, Jl. Perusahaan No. 20, Karanglo, Kec. Singosari, Kab. Malang
Lokasi Pemancar: SMKN 2 Singosari, Jl. Perusahaan No. 20, Karanglo, Kec. Singosari, Kab. Malang

Malang Raya Channel Line-Up sampai 14 Mei 2015.
Keterangan:
1. Warna oranye lokasi pemindaian di kawasan Kel. Mergosono, Kec. Kedung Kandang, Kota Malang (+ 426 mdpl, + 16 Km ke arah tenggara dari kawasan pemancar Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu)
2. Warna biru lokasi pemindaian di sekitar kawasan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso, Kec. Karangploso, Kab. Malang (+ 660 mdpl, + 8 Km ke arah timur dari kawasan pemancar Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu). Saluran berwarna biru dalam daftar ini tidak dapat ditangkap di kawasan Mergosono.
3. Kawasan pemancar Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu, + 925 mdpl.

channel table 2015 September

Tak Ada Salam Perpisahan, Bloomberg TV Indonesia Dililit Krisis Finansial

Di YouTube kita bisa temukan banyak video ketika sebuah stasiun televisi akan berakhir siarannya. Bukan berakhir untuk berjumpa lagi esoknya, tapi berhenti beroperasi secara keseluruhan. Tapi, kita tidak akan menemukannya ketika mencari video perpisahan dari Bloomberg TV Indonesia.

Perbincangan soal bubarnya Bloomberg TV Indonesia masih cukup hangat bagi sebagian orang, terutama pemirsa setianya. Sebagian orang mempertanyakan berakhirnya siaran dari Bloomberg TV Indonesia, malahan banyak yang belum tahu bahwa Bloomberg TV Indonesia yang sering disingkat BTVID di kalangan penghuni davenirvana1 World itu sudah tidak lagi beroperasi. Isunya, krisis finansial mendera perusahaan. Kalau Anda salah satu yang mendengar isu tersebut, bolehlah kita duga bahwa isu itu bukan sekedar isapan jempol belaka.

Penelusuran saya di sosial media menemukan bahwa Menteri Ketenagakerjaan menemui karyawan ex-BTVID. Rupanya, sebagian besar dari mereka tidak mendapatkan gaji dan pesangon. Dari sini, bisa kita simpulkan bahwa memang BTVID mengalami kesulitan pendanaan.

Kalangan pengamat amatiran untuk urusan media, khususnya televisi, seperti saya ini, sudah sering mendengar bahwa BTVID adalah salah satu televisi dengan gaji terbesar di negeri ini. Dengan gaji yang besar, iklan yang masuk ternyata masih sedikit, bahkan cenderung tidak ada. Secara sederhana, kita bisa mengingat kembali bahwa ada sebuah peribahasa “besar pasak daripada tiang”. Mungkin, mungkin lho ya, ini yang terjadi pada BTVID.

Staf khusus Menteri Ketenagakerjaan berencana menemui pemegang saham terbesar di BTVID, menagih janji agar gaji karyawan serta pesangonnya segera dibayarkan. Mungkin ini akan menjadi kesulitan tersendiri bagi si pemilik saham itu. Tapi, apapun, semoga segera terealisasi, sehingga permasalahan ini cepat selesai.

Masih menjadi misteri bagi saya mengenai rencana akuisisi BTVID oleh Bosowa Group dari Makassar yang ingin punya 55% saham stasiun pemegang lisensi Bloomberg Television itu. Apa sesungguhnya yang membuat kabar akuisisi ini menguap begitu saja? Katanya akuisisi ini akan selesai dalam 2 bulan sejak Desember 2014 lalu. Kalau ada yang tahu jawabannya, boleh berbagi kabarnya di sini.

BREAK!NG NEWS: Bloomberg TV Indonesia Berakhir

Boleh disebut berlebihan, tapi saya harus sampaikan bahwa ini adalah tulisan dengan perasaan terberat yang pernah saya tulis sepanjang saya menulis di blog ini, tapi memang inilah kenyataannya, sebuah kenyataan yang masih sulit untuk saya percaya walaupun memang sudah terprediksi beberapa waktu terakhir.

Indonesia baru saja kehilangan salah satu TV franchise terbaiknya. Saya akan jelaskan kata “terbaik” dari sudut pandang saya ini nanti, tapi, sebelum lebih jauh, saya tulis inti dari artikel ini: Bloomberg TV INDONESIA tidak lagi beroperasi.

Selasa, 25 Agustus 2015 malam, perbincangan atau spekulasi mengenai nasib keberlanjutan stasiun yang biasa disebut BTVID ini mulai menghangat di grup davenirvana1 World. Sebenarnya, tema dari perbincangan adalah masalah hilangnya rtv dari line up channel BiG TV, yang kemudian diikuti oleh hilangnya Bloomberg TV Indonesia. “curhatan” ini kemudian saya tanggapi dengan “apakah kontraknya yang habis atau siarannya yang bubar”. Spekulasi ini saya lontarkan lantaran BTVID makin sering menayangkan siaran Bloomberg International. Selain itu, eksodus dalam jumlah besar (sebenarnya jumlahnya tidak besar tapi secara persentase menjadi besar) para presenternya memperkuat spekulasi saya.

Analisa lain dari saya adalah, belajar dari “kesalahan” MTV Indonesia yang sempat ramai dibahas di twitter, yaitu menjadikan MTV Indonesia sebagai TV FTA di Indonesia, sedangkan MTV Indonesia memiliki pasar yang terlalu spesifik, sekalipun kontennya sangat populer. Nah, hal yang sama terjadi di Bloomberg TV Indonesia, tapi kondisinya lebih parah, karena pasar yang terlalu spesifik (bahkan cenderung tidak jelas) dan kontennya kurang populer, atau mungkin lebih tepatnya sulit untuk menjadi populer di Indonesia. BTVID mengikuti jalur yang digariskan Bloomberg Internasional, menjadi televisi berita bisnis terutama bisnis makro, sedangkan masyarakat di Indonesia secara umum tidak terlalu tertarik dengan hal-hal macam bisnis makro karena pemerintah sendiri juga lebih mengarahkan masyarakat ke bisnis UMKM ketika ingin menjadi wirausahawan. Akhirnya, program “Start Up” menjadi program yang paling tepat dan bisa merebut hati sebagian pemirsa, selain tentunya berita tentang teknologi dalam “TechNow”.

Sorotan lain dari teman-teman di grup adalah pilihan Bloomberg TV Indonesia untuk terjun ke siaran berbasis FTA terestrial dengan merangkul jaringan TV lokal yang secara merek belum kuat, yaitu jaringan Ctv Network, yang induknya adalah Ctv Banten. Dari saya, keputusan untuk menjadikan BTVID sebagai TV yang juga disiarkan FTA terestrial adalah hal yang berat, karena secara tidak langsung BTVID masuk dalam alam persaingan yang sangat keras. Seharusnya, BTVID dirancang untuk jadi TV yang idealis, dalam artian, tidak perlu FTA, tapi cukup terbatas. Dengan mengudara di TV berbayar saja (walaupun BTVID tidak mungkin menarik biaya lisensi dari operator TV berbayar), setidaknya BTVID tidak perlu bersaing dengan sekian TV FTA dari Jakarta yang bersiaran nasional, dan bahkan bersaing dengan TV lokal yang lebih memahami kebutuhan pemirsa lokal suatu daerah, kalau memang kita mau menyebut TV-TV Jakarta yang bersaing rating itu hanya menjual mimpi dengan sinetron-sinetron yang ceritanya sebenarnya cenderung tidak masuk akal itu. Dengan membatasi diri, BTVID akan memiliki pasar yang lebih jelas: pemirsa kelas atas yang rela keluar duit tiap bulan demi prpgram yang tidak ada di FTA. Mungkin juga bukan kelas atas, tetapi pemirsa ekonomi menengah yang memahami kebutuhannya sendiri sehingga menggunakan TV berbayar. Dengan demikian, walaupun secara kepemirsaan kuantitasnya tidak besar, tapi kualitas penontonnya lebih jelas, sehingga pemasang iklan untuk brand kelas atas bisa saja bayar mahal agar iklannya dipasang di BTVID.

Bicara tentang idealis dan tidak, setidaknya harus kita akui, MNC BUSINESS yang secara konten berada di jalur yang sama (berita bisnis) lebih baik, karena masih bertahan sampai saat ini. Sekalipun kelasnya hanya in-house, tapi idealisme inilah yang justru membuat MNC BUSINESS masih bertahan, tetap mengudara walaupun secara terbatas saja, malahan berhasil dikerjasamakan dengan Bursa Efek Jakarta dan diubah namanya menjadi iBCM CHANNEL.

Tanggal 25 Agustus 2015 malam itu, saya masih merasa yakin Bloomberg TV Indonesia masih mampu untuk bertahan dan tidak akan tutup.

Keesokan harinya, 26 Agustus 2015, walaupun belum saya pastikan, tapi beredar kabar bahwa BTVID telah berhenti siaran. Pembicaraan mengenai hal ini makin ramai, walaupun hanya riuh rendah saja, tapi setidaknya tidak serendah hari sebelumnya.

Kamis malam 27 Agustus 2015, saya mulai penelusuran di internet untuk mencari kabar seputar berakhirnya siaran BTVID. Tidak banyak, bahkan cenderung tidak ada kabar mengenai berakhirnya operasional BTVID. Satu-satunya berita yang mengarah kepada apa yang saya cari adalah, berita mengenai Managing Director BTVID yang seorang pekerja asing, resign dari BTVID per 1 Juli 2015, dan bergabung dengan perusahaan lain di Hongkong, kalau saya tidak salah menerjemahkan artikel tersebut. Tapi, satu berita ini bisa menjadi alasan kuat mengapa BTVID berakhir. Bisa dibilang Managing Director adalah “posisi vital” dalam sebuah perusahaan. Saya agak bingung apakah harus menganalogikan “posisi vital” ini dengan “otak” atau “jantung”. Tapi, intinya, ketika terjadi goncangan pada posisi ini, bisa dipastikan perusahaan akan kolaps. Berkaitan dengan resign-nya, artikel ini juga menyoroti mengenai singkatnya masa kerja individu ini yang hanya 2 tahun bertahan di sebuah perusahaan sekelas Bloomberg, walaupun secara individu tidak bisa disalahkan juga mengenai singkatnya masa kerja seseorang, karena bisa saja memang perusahaannya yang “sulit untuk maju”.

(((UPDATE))) Paul O’Brien, mantan Managing Director BTVID mengonfirmasi bahwa ia resign dari BTVID pada November 2014, bukan 1 Juli 2015 seperti pada artikel yang saya baca dan terjemahkan di atas. Konfirmasinya bisa dibaca di bagian komentar artikel ini. Penulis memohon maaf atas kesalahan informasi dan dengan adanya paragraf update ini menjadi ralat atas informasi sebelumnya.

Hingga akhirnya penelusuran saya berakhir di sosial media. Dari penelusuran saya inilah, akhirnya, saya bisa meyakinkan diri untuk menulis artikel ini, bahwa Bloomberg TV Indonesia alias BTVID sudah benar-benar berakhir.

Sekarang, kita beralih ke alasan mengapa Bloomberg TV Indonesia saya sebut sebagai yang “terbaik”.

Pertama, saya sebut Bloomberg TV Indonesia adalah TV franchise terbaik, karena kontennya yang ditawarkan kepada pemirsa Indonesia. Jarang sekali ada TV yang menawarkan edukasi bisnis secara mendalam. Ini adalah sesuatu yang beda sekaligus menarik, karena ke depan masyarakat Indonesia diprediksi akan meningkat kepeduliannya terhadap dunia bisnis.

Kedua, BTVID adalah TV franchise terbaik karena standardnya yang tinggi. Standard ini patut dicontoh oleh TV lain di Indonesia, terutama TV berita, dalam hal keterbaharuan informasi. Bisnis dan pasar saham adalah dua hal yang perkembangannya cepat, tidak bisa diprediksi, tapi harus terus diikuti selama kita berkecimpung di dalamnya. Posisi BTVID yang menempatkan diri sebagai TV berita bisnis mengharuskannya untuk terus update real-time. Standard lainnya adalah masalah penayangan yang selalu tepat waktu, tidak terlambat walaupun 1 menit.

Terakhir, salah satu poin terpenting mengapa saya menyebut BTVID sebagai TV franchise terbaik: Bloomberg TV Indonesia menjadi pemicu berdatangannya TV franchise lain. Memang, BTVID bukan yang pertama. Ada viacom dengan MTV Indonesia yang diikuti dengan VH1 Indonesia nya, tapi kedua brand ini kemudian “ditenggelamkan” oleh MNC, dan disisakan nickelodeon saja, itupun sebenarnya hanya impor program, bukan buka cabang. Tapi, walaupun MTV Indonesia sempat hilang dari udara Indonesia, akhirnya MTV Indonesia kembali hadir di layar kaca nusantara dengan joint venture company yang baru, walaupun sekarang ini masih terbatas di beberapa kota besar di Indonesia melalui beberapa TV lokal. MTV Indonesia kembali hadir setahun setelah BTVID mengudara. Terkini, CNN Indonesia menyusul. CNNID memang sudah dirancang dari beberapa waktu sebelumnya, tapi baru berani melangkah di bulan Agustus 2015 ini, bulan yang sama dengan berakhirnya perjalanan BTVID. Sehingga, saya bisa menyebut Bloomberg TV Indonesia adalah, sekali lagi, trigger atau pemicu munculnya kembali TV franchise di Indonesia dengan kualitas konten yang tidak perlu diragukan lagi.

Kesedihan mendalam saya untuk Bloomberg TV Indonesia. Semoga suatu saat nanti Bloomberg TV Indonesia bisa kembali mengudara dengan joint venture company yang baru, karena saya mencatat adanya review postif untuk stasiun televisi ini walaupun dalam jumlah yang sangat sedikit. Artinya, “konten yang mengedukasi itu tidak menarik” sudah harus kita hilangkan dari daftar “mitos yang menyeramkan”, karena Bloomberg TV Indonesia berhasil membuktikannya, walaupun hanya dalam waktu yang sangat singkat, hanya 2 tahun, dan masih dalam skala yang kecil.

So long, Bloomberg TV Indonesia…

Untuk mengenang the first steps atau langkah-langkah awal Bloomberg TV Indonesia, sila klik tautan ini.

Pertanyaan terakhir: adakah pembicaraan mengenai akuisisi BTVID oleh Bosowa Group gagal?


17 Agustus 2015, Dua Embrio TV FTA Terestrial Skala Nasional Lahir

Kenapa saya tulis skala nasional pada judul artikel ini? Sederhana, karena kita tidak lagi boleh menyebut kata TV Nasional, melainkan TV Berjaringan.

Oke, dua embrio. Jadi begini, ada dua TV yang meresmikan diri. Keduanya disiarkan dari Jakarta, tapi punya cara masing-masing dalam memperkenalkan diri kepada masyarakat Indonesia. Asalnya pun berbeda: yang pertama dari Surabaya, Jawa Timur, Indonesia; yang kedua dari Atlanta, Georgia, Amerika Serikat.

Mari kita bahas produk lokal dulu. Stasiun TV asal Surabaya yang disiarkan dari Jakarta itu bernama jawapos tv. Dari namanya sudah cukup jelas kan? Jadi, kita tidak perlu gali lebih dalam tentang siapa pemiliknya. Hal yang perlu digali sekarang adalah apa rencana ke depannya.

Televisi ini memulai siarannya di pukul 06.00 WIB, siaran perdana dengan program Nusantara Kini. Ini adalah program pagi yang jamak kita ketahui akhir-akhir ini. Belakangan, saya dapat informasi bahwa Nusantara Kini juga disiarkan di malam hari.

Di Jawa Timur, jawapos tv disiarkan melalui jtv. Di Surabaya, mungkin SBO TV juga ikut menyiarkan. Di jtv, ketika Nusantara Kini disiarkan, logonya berpindah ke kanan, ditampilkan bergantian dengan logo jawapos tv, sedangkan ketika iklan, logo jtv kembali ke kiri, tanpa bergantian dengan logo jawapos tv. Menariknya, ternyata di luar Jawa Timur, televisi lokal di bawah jaringan Jawa Pos juga me-relay jtv, walaupun laporan di grup facebook davenirvana1 World menyebutkan beberapa TV lokal lainnya masih ada yang belum bergabung dengan jtv ketika program Nusantara Kini. Inilah alasan mengapa logo jtv berpindah ke kanan ketika ada siaran Nusantara Kini, karena sebagian besar TV lokal di bawah Jawa Pos logonya ada di sebelah kiri, dan harus me-relay jtv ketika Nusantara Kini.

Bicara tentang laporan, sebenarnya sedikit sekali informasi yang terkumpul mengenai jawapos tv. Informasi keberadaan stasiun TV ini baru terdeteksi pada 16 Agustus 2015, ketika anggota davenirvana1 World mulai berbagi file gambar logo jawapos tv. Banyak yang belum berani mengonfirmasi keberadaan stasiun TV ini karena sedikitnya informasi.

Logo jawapos tv sendiri secara filosofis tidak beda jauh dari jtv, dan langsung bisa saya baca ketika kali pertama saya lihat logo jawapos tv. Ada peta dan ada identitas. Jika logo jtv berbentuk Provinsi Jawa Timur, maka sebaran kecil yang kita lihat di logo jawapos tv adalah negara Indonesia, yang diwakili oleh pulau-pulau besar Indonesia. Bedanya: jika jtv menggunakan kombinasi warna gelap-terang (biru tua dan oranye); jawapos tv menggunakan kombinasi warna yang segar (biru langit dan hijau muda). Sayangnya, ketika muncul di layar, logo jawapos tv tidak nampak dengan jernih.

Secara tampilan, jawapos tv mengidentikkan diri sebagai stasiun TV modern, jika melihat set studio Nusantara Kini. Begitu juga rasio layarnya, yang sudah menggunakan 16:9 dan ditampilkan letter box pada stasiun TV 4:3 seperti jtv.

Menurut @jtv_rek ketika saya konfirmasi, jawapos tv adalah brand nasional yang sedang diuji coba. Jika melihat kata “uji coba”, maka bisa kita pastikan bahwa stasiun TV ini memang belum akan beroperasi sepenuhnya. Pertanyannya sekarang: kapan jawapos tv akan resmi mengudara secara penuh? Apakah izin siarnya sudah turun? Apakah JPTV yang sering disebut-sebut di kalangan pengguna TV digital di Jakarta adalah jawapos tv? Apakah jtv masih jadi induk jaringan atau akan dialihkan ke jawapos tv? Kenapa masih harus relay jtv kalau sudah ada jawapos tv? Ada di satelit mana feed jawapos tv? Kita tunggu dalam beberapa waktu ke depan. By the way, pertanyaan terakhir harusnya jadi hal yang bikin penasaran para pengguna satelit, hehehe.

Embrio lainnya tumbuh di Tendean, markas TRANS Corp. Namanya adalah CNN Indonesia. Seperti yang saya bilang, yang satu ini berasal dari Atlanta, Georgia, AS. CNN Indonesia adalah hasil kerjasama TRANSMEDIA dan Turner. CNN Indonesia menjadi brand ketiga setelah MTV dan Bloomberg yang merupakan brand impor dan “buka cabang” di negara ini.

CNN Indonesia menjadi TV berita yang saat ini mengudara secara terbatas. Mengudara dengan rasio 16:9, CNN Indonesia mulai dinikmati pengguna TRANSVISION sejak 3 Agustus 2015. Namun, CNN Indonesia menyebut Siaran Perdana berlangsung pada program Indonesia Bisa, 17 Agustus 2015. Program ini disiarkan simulcast (lebih tepatnya sebenarnya adalah relay), selain di CNN Indonesia sendiri, juga disiarkan di TRANS TV dan TRANS 7.

Sebagai TV berita impor, CNN Indonesia nampaknya masih belum dapat mengadopsi satu hal dari CNN di Amerika: waktu. Saya rasa akan cukup adil ketika saya membandingkan CNN Indonesia dan Bloomberg TV Indonesia untuk urusan waktu ini. Bloomberg TV Indonesia bisa menyiarkan program tepat pada waktunya, jika dibandingkan dengan EPG TV berbayar; sedangkan CNN Indonesia punya “penyakit” yang sama dengan TRANS TV dan TRANS 7, yaitu program yang disiarkan lebih awal beberapa menit atau justru berakhir terlambat. Contoh sederhananya, Indonesia Bisa berakhir di jam 12:09, sedangkan EPG di TV berbayar menuliskan bahwa siaran berakhir tepat pukul 11.59 WIB. Dalam beberapa kesempatan, saya amati dari TV berbayar di kantor radio yang operatornya berbeda dari TV berbayar yang ada di rumah (harusnya pembaca bisa tebak apa kira-kira operator TV berbayar di kantor saya. Kalau perlu clue: TV kabel berbayar, bukan TV satelit berbayar, bisa di-rewind :p), CNN Indonesia mengawali program lebih awal beberapa menit, misalnya program yang dijadwalkan pukul __.00 WIB, dimulai pada __.58 WIB, atau 2 menit lebih awal.

Sedangkan untuk tampilan on-screen graphic lainnya, secara umum hampir sama, hanya saja logo CNN Indonesia sedikit lebih kecil dari logo CNN International maupun CNN Amerika. Font yang digunakan di newsticker juga berbeda.

Sejauh yang saya ketahui, CNN Indonesia baru tersedia melalui streaming di website CNN Indonesia, serta TV berbayar TRANSVISION dan UseeTV saja, belum ke operator TV berbayar lain apa lagi ke terestrial.

Selamat memulai kehidupan di Indonesia, jawapos tv dan CNN Indonesia. Semoga segera menyentuh masyarakat yang lebih luas🙂