BREAK!NG NEWS: Bloomberg TV Indonesia Berakhir

Boleh disebut berlebihan, tapi saya harus sampaikan bahwa ini adalah tulisan dengan perasaan terberat yang pernah saya tulis sepanjang saya menulis di blog ini, tapi memang inilah kenyataannya, sebuah kenyataan yang masih sulit untuk saya percaya walaupun memang sudah terprediksi beberapa waktu terakhir.

Indonesia baru saja kehilangan salah satu TV franchise terbaiknya. Saya akan jelaskan kata “terbaik” dari sudut pandang saya ini nanti, tapi, sebelum lebih jauh, saya tulis inti dari artikel ini: Bloomberg TV INDONESIA tidak lagi beroperasi.

Selasa, 25 Agustus 2015 malam, perbincangan atau spekulasi mengenai nasib keberlanjutan stasiun yang biasa disebut BTVID ini mulai menghangat di grup davenirvana1 World. Sebenarnya, tema dari perbincangan adalah masalah hilangnya rtv dari line up channel BiG TV, yang kemudian diikuti oleh hilangnya Bloomberg TV Indonesia. “curhatan” ini kemudian saya tanggapi dengan “apakah kontraknya yang habis atau siarannya yang bubar”. Spekulasi ini saya lontarkan lantaran BTVID makin sering menayangkan siaran Bloomberg International. Selain itu, eksodus dalam jumlah besar (sebenarnya jumlahnya tidak besar tapi secara persentase menjadi besar) para presenternya memperkuat spekulasi saya.

Analisa lain dari saya adalah, belajar dari “kesalahan” MTV Indonesia yang sempat ramai dibahas di twitter, yaitu menjadikan MTV Indonesia sebagai TV FTA di Indonesia, sedangkan MTV Indonesia memiliki pasar yang terlalu spesifik, sekalipun kontennya sangat populer. Nah, hal yang sama terjadi di Bloomberg TV Indonesia, tapi kondisinya lebih parah, karena pasar yang terlalu spesifik (bahkan cenderung tidak jelas) dan kontennya kurang populer, atau mungkin lebih tepatnya sulit untuk menjadi populer di Indonesia. BTVID mengikuti jalur yang digariskan Bloomberg Internasional, menjadi televisi berita bisnis terutama bisnis makro, sedangkan masyarakat di Indonesia secara umum tidak terlalu tertarik dengan hal-hal macam bisnis makro karena pemerintah sendiri juga lebih mengarahkan masyarakat ke bisnis UMKM ketika ingin menjadi wirausahawan. Akhirnya, program “Start Up” menjadi program yang paling tepat dan bisa merebut hati sebagian pemirsa, selain tentunya berita tentang teknologi dalam “TechNow”.

Sorotan lain dari teman-teman di grup adalah pilihan Bloomberg TV Indonesia untuk terjun ke siaran berbasis FTA terestrial dengan merangkul jaringan TV lokal yang secara merek belum kuat, yaitu jaringan Ctv Network, yang induknya adalah Ctv Banten. Dari saya, keputusan untuk menjadikan BTVID sebagai TV yang juga disiarkan FTA terestrial adalah hal yang berat, karena secara tidak langsung BTVID masuk dalam alam persaingan yang sangat keras. Seharusnya, BTVID dirancang untuk jadi TV yang idealis, dalam artian, tidak perlu FTA, tapi cukup terbatas. Dengan mengudara di TV berbayar saja (walaupun BTVID tidak mungkin menarik biaya lisensi dari operator TV berbayar), setidaknya BTVID tidak perlu bersaing dengan sekian TV FTA dari Jakarta yang bersiaran nasional, dan bahkan bersaing dengan TV lokal yang lebih memahami kebutuhan pemirsa lokal suatu daerah, kalau memang kita mau menyebut TV-TV Jakarta yang bersaing rating itu hanya menjual mimpi dengan sinetron-sinetron yang ceritanya sebenarnya cenderung tidak masuk akal itu. Dengan membatasi diri, BTVID akan memiliki pasar yang lebih jelas: pemirsa kelas atas yang rela keluar duit tiap bulan demi prpgram yang tidak ada di FTA. Mungkin juga bukan kelas atas, tetapi pemirsa ekonomi menengah yang memahami kebutuhannya sendiri sehingga menggunakan TV berbayar. Dengan demikian, walaupun secara kepemirsaan kuantitasnya tidak besar, tapi kualitas penontonnya lebih jelas, sehingga pemasang iklan untuk brand kelas atas bisa saja bayar mahal agar iklannya dipasang di BTVID.

Bicara tentang idealis dan tidak, setidaknya harus kita akui, MNC BUSINESS yang secara konten berada di jalur yang sama (berita bisnis) lebih baik, karena masih bertahan sampai saat ini. Sekalipun kelasnya hanya in-house, tapi idealisme inilah yang justru membuat MNC BUSINESS masih bertahan, tetap mengudara walaupun secara terbatas saja.

Tanggal 25 Agustus 2015 malam itu, saya masih merasa yakin Bloomberg TV Indonesia masih mampu untuk bertahan dan tidak akan tutup.

Keesokan harinya, 26 Agustus 2015, walaupun belum saya pastikan, tapi beredar kabar bahwa BTVID telah berhenti siaran. Pembicaraan mengenai hal ini makin ramai, walaupun hanya riuh rendah saja, tapi setidaknya tidak serendah hari sebelumnya.

Kamis malam 27 Agustus 2015, saya mulai penelusuran di internet untuk mencari kabar seputar berakhirnya siaran BTVID. Tidak banyak, bahkan cenderung tidak ada kabar mengenai berakhirnya operasional BTVID. Satu-satunya berita yang mengarah kepada apa yang saya cari adalah, berita mengenai Managing Director BTVID yang seorang pekerja asing, resign dari BTVID per 1 Juli 2015, dan bergabung dengan perusahaan lain di Hongkong, kalau saya tidak salah menerjemahkan artikel tersebut. Tapi, satu berita ini bisa menjadi alasan kuat mengapa BTVID berakhir. Bisa dibilang Managing Director adalah “posisi vital” dalam sebuah perusahaan. Saya agak bingung apakah harus menganalogikan “posisi vital” ini dengan “otak” atau “jantung”. Tapi, intinya, ketika terjadi goncangan pada posisi ini, bisa dipastikan perusahaan akan kolaps. Berkaitan dengan resign-nya, artikel ini juga menyoroti mengenai singkatnya masa kerja individu ini yang hanya 2 tahun bertahan di sebuah perusahaan sekelas Bloomberg, walaupun secara individu tidak bisa disalahkan juga mengenai singkatnya masa kerja seseorang, karena bisa saja memang perusahaannya yang “sulit untuk maju”.

Hingga akhirnya penelusuran saya berakhir di sosial media. Dari penelusuran saya inilah, akhirnya, saya bisa meyakinkan diri untuk menulis artikel ini, bahwa Bloomberg TV Indonesia alias BTVID sudah benar-benar berakhir.

Sekarang, kita beralih ke alasan mengapa Bloomberg TV Indonesia saya sebut sebagai yang “terbaik”.

Pertama, saya sebut Bloomberg TV Indonesia adalah TV franchise terbaik, karena kontennya yang ditawarkan kepada pemirsa Indonesia. Jarang sekali ada TV yang menawarkan edukasi bisnis secara mendalam. Ini adalah sesuatu yang beda sekaligus menarik, karena ke depan masyarakat Indonesia diprediksi akan meningkat kepeduliannya terhadap dunia bisnis.

Kedua, BTVID adalah TV franchise terbaik karena standardnya yang tinggi. Standard ini patut dicontoh oleh TV lain di Indonesia, terutama TV berita, dalam hal keterbaharuan informasi. Bisnis dan pasar saham adalah dua hal yang perkembangannya cepat, tidak bisa diprediksi, tapi harus terus diikuti selama kita berkecimpung di dalamnya. Posisi BTVID yang menempatkan diri sebagai TV berita bisnis mengharuskannya untuk terus update real-time. Standard lainnya adalah masalah penayangan yang selalu tepat waktu, tidak terlambat walaupun 1 menit.

Terakhir, salah satu poin terpenting mengapa saya menyebut BTVID sebagai TV franchise terbaik: Bloomberg TV Indonesia menjadi pemicu berdatangannya TV franchise lain. Memang, BTVID bukan yang pertama. Ada viacom dengan MTV Indonesia yang diikuti dengan VH1 Indonesia nya, tapi kedua brand ini kemudian “ditenggelamkan” oleh MNC, dan disisakan nickelodeon saja, itupun sebenarnya hanya impor program, bukan buka cabang. Tapi, walaupun MTV Indonesia sempat hilang dari udara Indonesia, akhirnya MTV Indonesia kembali hadir di layar kaca nusantara dengan joint venture company yang baru, walaupun sekarang ini masih terbatas di beberapa kota besar di Indonesia melalui beberapa TV lokal. MTV Indonesia kembali hadir setahun setelah BTVID mengudara. Terkini, CNN Indonesia menyusul. CNNID memang sudah dirancang dari beberapa waktu sebelumnya, tapi baru berani melangkah di bulan Agustus 2015 ini, bulan yang sama dengan berakhirnya perjalanan BTVID. Sehingga, saya bisa menyebut Bloomberg TV Indonesia adalah, sekali lagi, trigger atau pemicu munculnya kembali TV franchise di Indonesia dengan kualitas konten yang tidak perlu diragukan lagi.

Kesedihan mendalam saya untuk Bloomberg TV Indonesia. Semoga suatu saat nanti Bloomberg TV Indonesia bisa kembali mengudara dengan joint venture company yang baru, karena saya mencatat adanya review postif untuk stasiun televisi ini walaupun dalam jumlah yang sangat sedikit. Artinya, “konten yang mengedukasi itu tidak menarik” sudah harus kita hilangkan dari daftar “mitos yang menyeramkan”, karena Bloomberg TV Indonesia berhasil membuktikannya, walaupun hanya dalam waktu yang sangat singkat, hanya 2 tahun, dan masih dalam skala yang kecil.

So long, Bloomberg TV Indonesia…

Untuk mengenang the first steps atau langkah-langkah awal Bloomberg TV Indonesia, sila klik tautan ini.

Pertanyaan terakhir: adakah pembicaraan mengenai akuisisi BTVID oleh Bosowa Group gagal?


17 Agustus 2015, Dua Embrio TV FTA Terestrial Skala Nasional Lahir

Kenapa saya tulis skala nasional pada judul artikel ini? Sederhana, karena kita tidak lagi boleh menyebut kata TV Nasional, melainkan TV Berjaringan.

Oke, dua embrio. Jadi begini, ada dua TV yang meresmikan diri. Keduanya disiarkan dari Jakarta, tapi punya cara masing-masing dalam memperkenalkan diri kepada masyarakat Indonesia. Asalnya pun berbeda: yang pertama dari Surabaya, Jawa Timur, Indonesia; yang kedua dari Atlanta, Georgia, Amerika Serikat.

Mari kita bahas produk lokal dulu. Stasiun TV asal Surabaya yang disiarkan dari Jakarta itu bernama jawapos tv. Dari namanya sudah cukup jelas kan? Jadi, kita tidak perlu gali lebih dalam tentang siapa pemiliknya. Hal yang perlu digali sekarang adalah apa rencana ke depannya.

Televisi ini memulai siarannya di pukul 06.00 WIB, siaran perdana dengan program Nusantara Kini. Ini adalah program pagi yang jamak kita ketahui akhir-akhir ini. Belakangan, saya dapat informasi bahwa Nusantara Kini juga disiarkan di malam hari.

Di Jawa Timur, jawapos tv disiarkan melalui jtv. Di Surabaya, mungkin SBO TV juga ikut menyiarkan. Di jtv, ketika Nusantara Kini disiarkan, logonya berpindah ke kanan, ditampilkan bergantian dengan logo jawapos tv, sedangkan ketika iklan, logo jtv kembali ke kiri, tanpa bergantian dengan logo jawapos tv. Menariknya, ternyata di luar Jawa Timur, televisi lokal di bawah jaringan Jawa Pos juga me-relay jtv, walaupun laporan di grup facebook davenirvana1 World menyebutkan beberapa TV lokal lainnya masih ada yang belum bergabung dengan jtv ketika program Nusantara Kini. Inilah alasan mengapa logo jtv berpindah ke kanan ketika ada siaran Nusantara Kini, karena sebagian besar TV lokal di bawah Jawa Pos logonya ada di sebelah kiri, dan harus me-relay jtv ketika Nusantara Kini.

Bicara tentang laporan, sebenarnya sedikit sekali informasi yang terkumpul mengenai jawapos tv. Informasi keberadaan stasiun TV ini baru terdeteksi pada 16 Agustus 2015, ketika anggota davenirvana1 World mulai berbagi file gambar logo jawapos tv. Banyak yang belum berani mengonfirmasi keberadaan stasiun TV ini karena sedikitnya informasi.

Logo jawapos tv sendiri secara filosofis tidak beda jauh dari jtv, dan langsung bisa saya baca ketika kali pertama saya lihat logo jawapos tv. Ada peta dan ada identitas. Jika logo jtv berbentuk Provinsi Jawa Timur, maka sebaran kecil yang kita lihat di logo jawapos tv adalah negara Indonesia, yang diwakili oleh pulau-pulau besar Indonesia. Bedanya: jika jtv menggunakan kombinasi warna gelap-terang (biru tua dan oranye); jawapos tv menggunakan kombinasi warna yang segar (biru langit dan hijau muda). Sayangnya, ketika muncul di layar, logo jawapos tv tidak nampak dengan jernih.

Secara tampilan, jawapos tv mengidentikkan diri sebagai stasiun TV modern, jika melihat set studio Nusantara Kini. Begitu juga rasio layarnya, yang sudah menggunakan 16:9 dan ditampilkan letter box pada stasiun TV 4:3 seperti jtv.

Menurut @jtv_rek ketika saya konfirmasi, jawapos tv adalah brand nasional yang sedang diuji coba. Jika melihat kata “uji coba”, maka bisa kita pastikan bahwa stasiun TV ini memang belum akan beroperasi sepenuhnya. Pertanyannya sekarang: kapan jawapos tv akan resmi mengudara secara penuh? Apakah izin siarnya sudah turun? Apakah JPTV yang sering disebut-sebut di kalangan pengguna TV digital di Jakarta adalah jawapos tv? Apakah jtv masih jadi induk jaringan atau akan dialihkan ke jawapos tv? Kenapa masih harus relay jtv kalau sudah ada jawapos tv? Ada di satelit mana feed jawapos tv? Kita tunggu dalam beberapa waktu ke depan. By the way, pertanyaan terakhir harusnya jadi hal yang bikin penasaran para pengguna satelit, hehehe.

Embrio lainnya tumbuh di Tendean, markas TRANS Corp. Namanya adalah CNN Indonesia. Seperti yang saya bilang, yang satu ini berasal dari Atlanta, Georgia, AS. CNN Indonesia adalah hasil kerjasama TRANSMEDIA dan Turner. CNN Indonesia menjadi brand ketiga setelah MTV dan Bloomberg yang merupakan brand impor dan “buka cabang” di negara ini.

CNN Indonesia menjadi TV berita yang saat ini mengudara secara terbatas. Mengudara dengan rasio 16:9, CNN Indonesia mulai dinikmati pengguna TRANSVISION sejak 3 Agustus 2015. Namun, CNN Indonesia menyebut Siaran Perdana berlangsung pada program Indonesia Bisa, 17 Agustus 2015. Program ini disiarkan simulcast (lebih tepatnya sebenarnya adalah relay), selain di CNN Indonesia sendiri, juga disiarkan di TRANS TV dan TRANS 7.

Sebagai TV berita impor, CNN Indonesia nampaknya masih belum dapat mengadopsi satu hal dari CNN di Amerika: waktu. Saya rasa akan cukup adil ketika saya membandingkan CNN Indonesia dan Bloomberg TV Indonesia untuk urusan waktu ini. Bloomberg TV Indonesia bisa menyiarkan program tepat pada waktunya, jika dibandingkan dengan EPG TV berbayar; sedangkan CNN Indonesia punya “penyakit” yang sama dengan TRANS TV dan TRANS 7, yaitu program yang disiarkan lebih awal beberapa menit atau justru berakhir terlambat. Contoh sederhananya, Indonesia Bisa berakhir di jam 12:09, sedangkan EPG di TV berbayar menuliskan bahwa siaran berakhir tepat pukul 11.59 WIB. Dalam beberapa kesempatan, saya amati dari TV berbayar di kantor radio yang operatornya berbeda dari TV berbayar yang ada di rumah (harusnya pembaca bisa tebak apa kira-kira operator TV berbayar di kantor saya. Kalau perlu clue: TV kabel berbayar, bukan TV satelit berbayar, bisa di-rewind :p), CNN Indonesia mengawali program lebih awal beberapa menit, misalnya program yang dijadwalkan pukul __.00 WIB, dimulai pada __.58 WIB, atau 2 menit lebih awal.

Sedangkan untuk tampilan on-screen graphic lainnya, secara umum hampir sama, hanya saja logo CNN Indonesia sedikit lebih kecil dari logo CNN International maupun CNN Amerika. Font yang digunakan di newsticker juga berbeda.

Sejauh yang saya ketahui, CNN Indonesia baru tersedia melalui streaming di website CNN Indonesia, serta TV berbayar TRANSVISION dan UseeTV saja, belum ke operator TV berbayar lain apa lagi ke terestrial.

Selamat memulai kehidupan di Indonesia, jawapos tv dan CNN Indonesia. Semoga segera menyentuh masyarakat yang lebih luas :)

UBTV Malang Resmi Pindah ke 57 UHF

Setelah sebelumnya sempat menginformasikan via running text, mulai 28 Juli 2015 stasiun televisi milik Universitas Brawijaya, UBTV, resmi berpindah ke 57 UHF analog.

Pantauan melalui antena di Kota Malang mendapati siaran UBTV yang terus dipancarkan selama 24 jam (walaupun tidak ada program alias color bar saja, karena program hanya disiarkan beberapa jam dari sore ke malam hari) sudah tidak lagi terdeteksi di 56 UHF analog. Siaran UBTV kini bersebelahan persis dengan NET. di 58 UHF analog setelah sebelumnya bersebelahan persis dengan METRO TV di 55 UHF analog.

Perpindahan ini merupakan perpindahan kali kedua bagi UBTV. Sebelumnya, UBTV sempat mengudara di 51 UHF analog, dan kemudian berpindah ke 56 UHF. Tidak lama berselang dari kepindahan pertama tersebut, MHTV Malang mulai mengudarakan siarannya di 52 UHF analog.

Akankah perpindahan kali ini mengisyaratkan hal yang sama: “adanya stasiun televisi baru di Malang Raya?” Hal ini belum dapat saya pastikan hingga saat ini.

Sementara itu di kawasan Oro-Oro Ombo, Kota Batu, belum ada perkembangan mengenai bangunan transmisi baru. Pun demikian dengan pembongkaran, juga tidak terjadi. Padahal, ada beberapa stasiun televisi yang defunct alias tidak lagi beroperasi di Malang Raya, sebut saja NAA TV, mahameru tv, FTV, dan sejumlah nama lainnya. Dari pantauan saat ini ada salah satu tower yang “rumah”nya (karena tidak dalam bentuk gedung transmisi) memiliki tanda berupa stiker NAA TV, dengan beberapa panel box masih menempel di towernya.

Adapun “rumah” lainnya yang dulu dipergunakan mahameru tv dan dulu sempat ditulis “dalam sengketa” hingga kini nampak kosong dengan tower yang tetap berdiri tinggi menjulang bersama beberapa panel box di ujungnya. Ketika beroperasi dulu, mahameru tv mengudara di 52 UHF analog, dan saat ini frekwensinya digunakan oleh MHTV Malang yang transmisinya berada di “rumah” yang lain, dekat gedung transmisi rtv-METRO TV dan NET.

Sementara itu di Griya Coban Rais milik Batu tv sempat tampak ada pengerjaan pemasangan panel box di towernya bulan puasa lalu, sehingga kini kedua tower Batu tv telah terpasang panel box berwarna merah, setelah sebelumnya hanya satu tower yang ada panel boxnya. Setelah pengerjaan tersebut nampak ada perbaikan kualitas sinyal di 48 UHF analog. Belum saya ketahui apakah kedua tower itu memang difungsikan untuk aktivitas siaran Batu tv atau ada penyewa baru di sana. Kalaupun memang ada penyewa baru, perkiraan saya penyewa tersebut adalah AREMA TV yang mungkin masih melakukan konfigurasi pada perangkat transmisinya, karena saat ini hanya AREMA TV yang terdeteksi sebagai siaran baru di Malang Raya.

Perkembangan lainnya, GAJAYANA TV di 28 UHF analog baru saja melakukan penguatan daya untuk siarannya sehingga sempat menghentikan program dan hanya menyiarkan color bar dan logo serta running text beberapa hari lalu. Sementara itu “tetangga terdekat”nya, AREMA TV, justru kembali menghilang setelah lebaran lalu. Hingga kini siaran AREMA TV yang menggunakan 27 UHF analog belum kembali terdeteksi.

India, Turki, dan Sekitarnya

Begitulah yang saya tangkap di televisi Jakarta akhir-akhir ini. Sejak antv menayangkan serial-serial India, dilanjutkan dengan beberapa tayangan impor dari Turki, stasiun TV tetangga mencoba “mencari kue” di sektor yang sama. Hasilnya, beberapa stasiun TV layarnya terasa mirip.

Tapi akhir-akhir ini saya memang mencoba kembali memerhatikan antv. Stasiun TV yang satu ini dari dulu membuat saya penasaran, entah apanya. Sejak mengudara kembali di Malang (sempat menghilang beberapa tahun, antv di Malang muncul lagi tahun 2003), stasiun TV ini dari masa ke masa memang mencuri perhatian saya, walaupun tidak untuk menjadikannya tontonan sehari-hari seperti ketika masih SD dulu. Dulu, waktu SD, saya suka menonton film kartun yang tayang pas di jam belajar juga (ketahuan deh waktu kecil ngga niat belajar). Sebut saja Scooby Doo, anime Webdiver, mmm, sudahlah, nanti kelihatan tua hehehe.

antv kembali mencuri perhatian saya ketika ada jalinan kerjasama dengan STAR TV. Jadilah saya suka nonton antv lagi, waktu itu ada Om Farhan, Taksi Selebriti, Super Deal 2 Miliar, TOPIK sebagai pengganti Cakrawala, dan banyak lagi yang lain. Logonya? Wah, jangan ditanya, saya suka sekali logo kombinasi antv dengan STAR TV itu.

Hal lain yang membuat saya dekat dengan antv adalah sepakbola. Almh nenek saya yang di Malang adalah penyuka sepakbola. Kalau ditanya sepakbola, pasti punya jawabannya, terutama sepakbola dalam negeri. Kalau sudah ada sepakbola Indonesia atau yang kemudian disebut ISL tayang di antv, wah, nenek saya tidak akan melewatkannya.

Tahun demi tahun berlalu, cukup lama saya tidak menonton antv. Tiba-tiba saja, perhatian saya dicuri lagi oleh antv ketika bersama tvOne menayangkan Piala Dunia 2014. Memang sudah cukup lama sejak antv tidak lagi menayangkan sepakbola gara-gara kisruh PSSI yang membuat antv kehilangan hak siar sepakbola yang dulu pernah saya dengar eksklusif untuk 10 tahun sejak 2009. Sajian sepakbola antv memang selalu berbeda, karena tampilannya jauh lebih modern ketimbang TV lain kalau menyiarkan sepakbola. Pilihan warna yang dipakai sebagai set studionya, baik yang augmented reality maupun yang hardstudio, selalu sama kerennya.

Akhir-akhir ini, antv mencuri perhatian publik lewat tayangan India. Menelusuri banyak tulisan di internet, ternyata awalnya antv ini “iseng” menayangkan serial India, sekedar pengisi jam tayang. Ternyata, respon baik bermunculan dan membuat antv yang selama ini stagnan di papan tengah, sesekali menyundul papan atas, kini jadi stabil, minimal di 4 besar, dengan rata-rata ada di posisi 3, terutama setelah “kejatuhan TRANS Corp” dari posisi atas rating sejak ditinggal direkturnya untuk membuat stasiun TV baru.

Mumpung libur lebaran, saya coba telusuri tayangan apa yang ditonton saudara saya. Benar saja, macam gayung bersambut, ternyata beberapa saudara, seperti budhe dan tetangga sekitar saudara saya itu, suka nonton serial-serial India dan/atau Turki itu. Alasannya ternyata sederhana. Tidak akan saya sampaikan secara riil tapi kira-kira akan saya ceritakan ulang dalam bentuk poin-poin seperti ini:

Pertama: kedekatan. Cerita-cerita India itu sebenarnya adalah cikal bakal cerita tradisional Jawa yang berkembang dalam bentuk pewayangan, sehingga cerita-cerita India itu terasa dekat bagi mereka.
Kedua: alur cerita dan pengemasan. Benang merah cerita itu kebanyakan orang juga sudah mengerti, tapi yang membuat ketertarikan untuk mengikuti serial India ini adalah pengemasannya, mulai dari teknik pengambilan gambar, editing (termasuk backsound-backsound), sampai ke masalah “siapa pemeran yang ganteng/cantik itu”.
Ketiga: ini berlaku untuk yang Turki atau serial fantasi India: alur ceritanya menarik. Cara menampilkan konflik cerita, nampaknya berhasil mencuri perhatian sebagian besar rakyat Indonesia.
Keempat: bosen lihat sinetron. Kalau yang ini mungkin secara pribadi saja, tapi rata-rata orang-orang di sekitar saya ini ternyata punya alasan yang sama kenapa kami jadi malas nonton sinetron buatan Indonesia: ceritanya banyak yang ngga masuk akal, apa lagi tentang “manusia binatang” yang entah sebenarnya terlalu niat berfantasi atau memang ngga punya ide saja sampai akhirnya membuat film barat menjadi cerita bersambung di TV dengan mengandalkan pemain yang (katanya) ganteng dan cantik. Tentang “manusia binatang” ini, mungkin pembaca mengerti sekarang masih ada dua sinetron yang menyatukan “manusia” dan “binatang” menjadi satu makhluk hidup, hehehe.

Masih ada beberapa hal lain, tapi empat itu sajalah yang kira-kira jadi alasan yang paling banyak disebut.

Serial India dan Turki kini seakan menguasai layar, apa lagi antv yang sempat dikritik karena porsi tayangan impornya melebihi yang ditentukan undang-undang. Tapi, selama masih disukai masyarakat, pasti stasiun TV tidak akan berhenti menayangkan cerita India dan Turki, dan sekitarnya mungkin, kalau ada negara lain yang juga punya serial yang laku kalau ditayangkan di sini, ya kan?

Intinya, dari tulisan saya yang berbelit-belit ini: kini antv berhasil mencuri perhatian saya, lagi. Bukan untuk menonton tentunya, tapi untuk mencari tahu kenapa kemudian tayangan India, Turki, dan sekitarnya yang tayang di antv itu berhasil, bahkan diikuti oleh TV lainnya macam SCTV, TRANS 7 yang sempat mencoba peruntungan tapi kurang beruntung, dan sekarang RCTI yang mau coba-coba. Entah dapat masukan dari mana juga tiba-tiba antv bisa menayangkan serial-serial India yang sekarang bisa sukses membawa antv naik dalam beberapa laporan rating dan share.

Saya sendiri beberapa hari terakhir tercuri perhatiannya oleh sebuah serial India yang tayang di antv. Ceritanya sih tujuannya untuk anak kecil, tapi saya sendiri tertarik mengikuti ceritanya beberapa hari terakhir ini. Tapi ya sudah lah, kalau saya mengikuti ceritanya, bisa-bisa ngga konsen kerja juga, masalahnya cerita fiksi anak-anak itu tayang di siang hari, dan belum tentu juga tayang pas saya istirahat. Iya kalau saya bisa istirahatnya on-time. Kalau tidak? Masa mau meninggalkan pekerjaan demi nonton TV?

Selamat antv, sudah berhasil mencuri perhatian saya lagi dengan strategi programming yang ternyata memang pas untuk diterapkan di masyarakat Indonesia pada umumnya sekarang ini ~

KOMPAS TV Perkuat Identitas sebagai TV Berita

Memasuki bulan Juli 2015, KOMPAS TV menunjukkan keseriusannya dalam memosisikan diri sebagai TV berita. Program-program yang berada di ranah hiburan mulai dikurangi porsinya. Bahkan, program sepakbola yang sebelumnya selalu diudarakan mulai pukul 00.30 WIB, kini sudah digusur.

Sejak Juni 2015, KOMPAS TV memperbaharui “on-air look” dengan launching tampilan baru Kompas News. Tidak sekedar tampilan baru, tapi juga studio baru, yang saya sebut sebagai “all-in-one studio”, karena semua program bisa disiarkan dari satu studio yang sama. Program-program di KOMPAS TV pada hari kerja kini sangat kuat porsi beritanya. Saya mengambil secara acak saja jadwal program di KOMPAS TV pada satu hari, dan kira-kira beginilah hasilnya:

00.00 Kilas Kompas (news)
00.30 Kompas Sport (news)
01.00 Kompas Malam (news)
02.00 … (entertainment)
03.00 Kilas Kompas (news)
03.30 Sebelas Duabelas (entertainment)
04.30 Kompas Pagi (news)
06.30 Kompas Sport (news)
07.00 Sapa Indonesia Pagi (news/information)
09.30 Ensikla (information/advertorial)
10.00 Cerita Hati (religi)
11.00 Kompas Siang (news)
13.00 Sapa Indonesia Siang (news/information)
15.00 … (entertainment/current affairs)
15.30 Megapolitan (local news)
16.00 … (current affairs)
16.30 Kompas Petang (news)
18.30 Kompas Sport (news)
19.00 … (entertainment/current affairs)
20.00 Kompasiana TV (current affairs)
21.00 Kompas Malam (news)
22.00 … (entertainment/current affairs)
22.30 … (entertainment/current affairs)
23.00 Sebelas Duabelas (entertainment)

Program pemberitaan di KOMPAS TV kini memiliki porsi yang sangat besar, setelah perpindahan dari 28 UHF ke 25 UHF di Jakarta. Kalaupun bukan berita, setidaknya masih ada current affairs, sedangkan program dari genre entertainment kini memiliki porsi yang bisa dibilang sangat kecil. KKG benar-benar memecah salurannya ke dua genre, dengan memfungsikan ktv di Jakarta sebagai “Televisi Referensi”, yang, walaupun saya belum pernah menyaksikan secara langsung, tapi saya rasa basis entertainmentnya cukup kuat, walaupun tetap pada benang merah Kelompok Kompas Gramedia sebagai penyedia informasi.

Di waktu lain, dalam hal ini akhir pekan alias Sabtu dan Minggu, KOMPAS TV tetap menayangkan program-program entertainment, sebagian lagi adalah science/documentary, dan ada juga slot untuk olahraga terutama dari sepakbola di bawah bendera “Soccer Zone”.

Cita-cita untuk membuat KOMPAS TV sebagai TV berita nampaknya benar-benar serius untuk diwujudkan. Saya teringat 4 tahun lalu ketika membaca koran Surya di awal September 2011, dituliskan (kurang lebih) bahwa “pendirian KOMPAS TV adalah untuk menjadi TV berita” yang kemudian setelah launching ternyata masih banyak program-program bersifat science/documentary, baik produksi sendiri maupun impor. Saat itu, sebagian orang menyebut KOMPAS TV adalah “Discovery Channel atau National Geographic” a la Indonesia, karena kualitas produksinya yang benar-benar berkelas internasional. Sekarang, cita-cita menjadi TV berita sudah mulai tercapai. Semoga bisa terus konsisten, dan salut dari saya untuk KOMPAS TV :)

Perkembangan Televisi Lokal di Malang Juli 2015

Belakangan, muncul stasiun TV baru yang berasal dari Malang, alias TV lokal. Namanya adalah AREMA TV. Stasiun televisi baru ini menempati frekwensi 27 UHF analog. Saat ini AREMA TV sedang dalam masa uji coba dalam jam siar yang terbatas.

Perkembangan lainnya, 50 UHF analog atau Malang TV memangkas jam siarannya. Stasiun TV pertama dari Kota Malang ini (walaupun ada Batu tv dan GNTV yang lebih awal, tapi perlu diingat bahwa kedua TV itu embrionya ada di Kota Batu) kini mengudara hanya 16 jam, dari jam 6 pagi sampai 10 malam. Hal ini membuat Malang TV kini memiliki jam mengudara yang sama dengan Batu tv. Sebelumnya, TV yang satu kelompok dengan Radio KDS 8 FM Malang ini mengudara 18 jam. Pemangkasan jam siar ini nampaknya sudah berlangsung sejak lama, tapi baru saya ketahui di bulan puasa lalu.

Informasi lainnya, UBTV, stasiun televisi milik Universitas Brawijaya, melalui running text, mengumumkan bahwa stasiun TV berstatus LPK itu akan kembali berubah frekwensi. Setelah di awal peluncurannya menempati 51 UHF analog dan kini menempati 56 UHF analog, ke depan stasiun TV ini akan bergeser ke 57 UHF analog. Belum diketahui pasti apakah yang membuat stasiun TV LPK ini kembali harus berpindah frekwensi. Namun, kalau saya ingin menduga-duga saja, boleh kan?

Dulu, jelang mengudaranya MHTV Malang di 52 UHF analog, UBTV berpindah frekwensi dari 51 ke 56. Kini, UBTV kembali harus bergeser dari 56 ke 57. Akankah ini menjadi pertanda bahwa akan kembali muncul satu pendatang baru setelah AREMA TV? Kita nantikan saja perkembangan di waktu-waktu mendatang. Mungkin akan butuh waktu yang cukup lama, melihat perkembangan di Semarang, Jawa Tengah pun butuh waktu lama sampai bisa menyaksikan stasiun TV baru, padahal izinnya sudah keluar beberapa bulan lalu.

Perkembangan lainnya akan ditulis segera ketika ada informasi baru yang saya terima. Untuk saat ini, Selamat Idul Fitri 1436 H, mohon maaf lahir dan batin :)

Selamat Datang, AREMA TV

Sebenarnya soal laporan ini sudah saya terima dari lama, tapi baru saya tulis sekarang, setelah saya memastikan sendiri. Terkuak sudah siapa pemilik color bar di channel 27 UHF analog Malang. Seperti yang saya tulis di judul, AREMA TV.

Menurut saya, yang paling urgent untuk dibahas di awal tulisan ini adalah: siapa pemilik stasiun TV ini? Sejak setahun lalu, mencuat kabar bahwa manajemen AREMA Cronus, tim sepakbola swasta di Malang, ingin memiliki media. Maksudnya tentu adalah media massa, tapi dalam konteks ini, televisi dan radio. Keinginan itu sempat pula didiskusikan dengan K-visiON, televisi berbayar satelit milik Kelompok Kompas Gramedia, tapi sepertinya tidak ditemukan titik temu dalam pembahasan itu.

Setahun berlalu, beredar informasi akan segera hadirnya stasiun TV baru di Malang. Bukan isu, karena memang pemerintah membuka jalur untuk siapapun memperebutkan IPP analog terakhir (katanya) yang dikeluarkan di berbagai daerah di Indonesia. Malang menjadi salah satu wilayah yang mendapat tambahan frekwensi, walaupun entah berapa jumlah frekwensi yang diberikan. Satu hal yang pasti, kini sudah dipakai satu frekwensi yang dulu pernah dipakai oleh STV alias Singosari TV. Channel itu adalah 27 UHF, dengan pemilik saat ini adalah AREMA TV.

Kembali soal pemilik, saya belum tahu pasti siapa sebenarnya pemilik stasiun TV ini, apakah AREMA Cronus yang tim sepakbola itu atau orang lain yang memakai nama AREMA untuk stasiun TV miliknya. Masalah nama perusahaan, yang saya tahu namanya adalah PT Arema Televisi Malang. Menurut penelusuran saya di internet, stasiun TV ini menjadi salah satu peserta EDP di KPID Jawa Timur. Sekedar info, EDP adalah salah satu tahapan untuk bisa mendapat izin siar dari pemerintah melalui KPI(D).

Stasiun TV ini memakai kepala singa sebagai logonya, yang menurut saya, kepala singa ini seperti mencium huruf A. Kepala singa ada di sebelah kanan, dengan ukuran yang lebih besar dari huruf A tersebut. Di bawahnya, ada tulisan AREMA TV. Peletakan logo sendiri ada di pojok kanan atas.

Video di YouTube menunjukkan bahwa AREMA TV sudah mampu memproduksi tayangan dengan rasio 16:9. Sayangnya, peletakan logo terlalu memojok, sehingga jelas logonya akan terpotong di layar televisi. Tapi, tampilan di layar kaca ternyata berbeda. AREMA TV masih bersiaran dengan format 4:3 seperti kebanyakan TV di Indonesia. Dalam siaran uji coba beberapa hari terakhir, logo AREMA TV belum terpasang, sehingga logo AREMA TV hanya tampil di ucapan selamat, seperti yang ada di YouTube.

Keberadaan AREMA TV sendiri sudah saya ketahui sejak pertengahan Mei 2015. Namun demikian, saya belum berani memastikan keberadaannya di layar kaca, sampai pada akhirnya saya menulis tulisan ini. Untuk lokasi kantor dan pemancar, masih saya telusuri lebih lanjut. Siaran uji coba AREMA TV, sejauh pengamatan saya, hanya memutar video clip classic rock dan beberapa video musik lainnya, dengan diselingi ucapan selamat dan Station ID AREMA TV. Kualitas suara masih belum stabil, dan kualitas gambar masih belum bersih seutuhnya. Untuk kualitas sinyal sudah cukup baik.

Tantangan bagi AREMA TV ke depannya, menurut saya, adalah, karena namanya yang mengandung unsur AREMA itu, maka tantangan terbesarnya adalah memenuhi keinginan masyarakat Malang untuk mendapat informasi sedetail-detailnya mengenai AREMA yang tim sepakbola itu. Bukan hal yang sulit jika memang TV ini dimiliki oleh AREMA, tapi jika ternyata TV ini dimiliki oleh swasta, maka si empunya TV haruslah menjaga hubungan baik dengan tim sepakbola itu.

Tantangan lainnya adalah, bagaimana posisi TV ini jika terjadi dualisme? Masalahnya, sepakbola Indonesia sedang kacau, dan bahkan AREMA sendiri sempat pecah jadi dua kubu, sederhananya dulu ada AREMA IPL dan AREMA ISL, bahkan kalau saya tidak salah ingat, AREMA sempat memasuki fase yang lebih parah dengan terpecah menjadi 3 kubu. Jika hal seperti ini terjadi di kemudian hari, posisi AREMA TV akan sangat krusial.

Hal lainnya yang perlu jadi perhatian adalah masalah standard, seperti masalah teknis, tampilan layar, dan lain sebagainya. AREMA TV harus mampu untuk menyaingi banyak TV lain yang sudah mengudara di Malang. Hal lain yang juga menarik perhatian saya adalah hadirnya kembali Citra Malang di frekwensi 105.7 MHz. Melalui twitter, radio ini menyatakan akan kembali dengan format baru. Sebelumnya, radio ini mengudara dengan format radio berita, dan banyak yang menyebut radio ini sebagai SS (Suara Surabaya)-nya Malang. Radio yang bermula sebagai programma 3 RRI Malang dengan nama Citra Pro-3 itu kini akan mengusung format yang lebih “Malangan”. Citra Malang juga menyebutkan bahwa radio ini juga akan banyak mengabarkan perkembangan seputar AREMA Cronus. Menariknya, twitter AREMA TV dan Citra Malang saling terhubung, setidaknya saling mengikuti. Sampai titik ini, saya memiliki asumsi bahwa keduanya (AREMA TV dan Citra Malang) dimiliki oleh seorang pengusaha besar di Malang yang memiliki Radio Citra Malang yang pernah berkantor di sebuah kompleks kantor pengembang PT Anugerah Citra Abadi (ACA) di Jalan Hasanudin 1A. Apakah hal ini benar (keduanya dalam satu pemilikan yang sama), saya belum dapat pastikan lebih lanjut, dan saya hanya bisa menunggu informasi berikutnya yang akan saya gali kemudian.

Tapi, jika ternyata keduanya dimiliki oleh manajemen AREMA Cronus secara langsung, maka bisa kita simpulkan bahwa keinginan manajemen AREMA Cronus telah terwujud. Keinginan untuk memiliki media sendiri dalam bentuk TV dan radio bisa dicapai dalam waktu satu tahun saja. Malahan, mungkin saja AREMA Cronus menjadi tim sepakbola pertama di Indonesia yang memiliki stasiun TV dan radio sendiri yang secara bebas mengudara di terestrial.

Untuk mencari siaran uji coba AREMA TV, pembaca di wilayah Malang bisa mencari dengan sistem manual search di antara DHAMMA TV dan GAJAYANA TV. Disarankan mencari pada siang hari karena uji coba sepertinya tidak dilakukan di malam hari. Sedangkan untuk Radio Citra Malang, bisa langsung dicari pada frekwensi 105.7 MHz dengan kualitas audio yang nampaknya masih dalam tahap penyesuaian. Untuk kualitas sinyal, masih belum benar-benar kuat dan juga belum merata. Menurut informasi, studio radio ini kini berada di daerah Kebon Agung, sebuah daerah yang berada di selatan Kota Malang, masuk wilayah Kec. Pakisaji, Kab. Malang. Untuk lokasi pemancar radio kemungkinan juga berada di studio radio tersebut.