B Channel: Memendek dan Nasional?

B Channel, salah satu TV berjaringan yang berkembang dengan cukup pesat di Indonesia. Apa perkembangannya kini?

B Channel baru-baru ini masuk ke TV berbayar lain, yaitu aora. Dengan itu B Channel menambah daftar ketersediannya di TV berbayar setelah hadir di TelkomVision. Selain itu, program di salah satu TV jaringan B Channel juga berubah, yaitu di Nusantara Damai (NDTV) Malang.

Di awal kelahirannya, NDTV belum berhasil mengembangkan konten lokal hingga beberapa bulan kemudian membuat satu program lokal “Kabare Kota Malang” dan memperpanjang jam tayang NDTV dari 16:00-22:00 WIB menjadi 16:00-23:00 WIB. Dan setelahnya secara nasional terus bertambah dan akhirnya secara resmi menjadi 06:00-00:00 WIB.

Di sekitar bulan Agustus, program lokal NDTV berganti dari “Kabare Kota Malang” menjadi “Panorama”. Secara umum tidak ada yang signifikan di perubahan program ini.

Di akhir November 2011 ini, siaran NDTV memendek dari 06:00-00:00 WIB menjadi 06:00-23:00 WIB. Selain itu, program lokal “Panorama” kini tidak lagi disiarkan sendiri oleh NDTV, namun merelay program serupa yaitu “Panorama” yang ada di feed satelit, yang juga disiarkan di B Channel.

Selain jam tayangnya memendek, apakah B Channel juga “berkeinginan” untuk berganti jenis dari TV berjaringan menjadi TV nasional beda nama?

Sebenarnya indikasi B Channel “ingin” menjadi TV nasional sudah ada sejak awal. Ini karena program lokal di jaringan B Channel (Kabare Kota Malang, City Info Jakarta, City Info Surabaya, City Info Bandung, Kabar Kota Pekanbaru, Kabar Kito Palembang, Kabar Kota Kupang, Sekitar Torang, dsb) sebenarnya tidak ada yang diproduksi di wilayah siar masing-masing TV. Semuanya diproduksi di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, kantor TVN. Hal ini bisa dilihat di salah satu episode “Sekarang Aku Tahu” B Channel. Ketika itu episode ini menceritakan proses pembuatan program “Kabar Kota Balikpapan” yang diproduksi di studio TVN.

Ketika memasuki Agustus, semua program lokal berganti menjadi “Panorama”. Akhirnya tidak ada lagi bedanya program lokal di semua daerah layanan siar jaringan B Channel. Walaupun masing-masing mungkin memutar episode yang berbeda, tapi semuanya tetap hasil produksi TVN di Bekasi. Itulah kenapa saya sebut tidak ada perubahan signifikan antara “Kabar Kota” dan “Panorama”.

Apalagi sekarang, NDTV sudah tidak memutar sendiri program “Panorama” tapi merelay dari satelit. Saya jadi mendapat kesan B Channel telah berubah menjadi TV Nasional yang beda daerah beda nama saja. Selain itu, baru-baru ini ketika pemancar MNTV di Surabaya mengalami gangguan dan tidak menyelenggarakan siaran sementara waktu, melalui twitter B Channel memohon maaf dengan menyebut pemancar itu sebagai “pemancar B Channel di wilayah Surabaya”, bukan “pemancar MNTV Surabaya”.

Ini dugaan saya saja. Kalau di daerah di luar Malang tetap seperti biasa mungkin NDTV sedang mengalami gangguan teknis. Tapi jika di luar Malang juga terjadi hal yang sama, boleh kita berbagi informasi.

Advertisements

B Channel di Satelit

Sebagai TV berjaringan, B Channel harus menyiarkan siarannya di satelit. Nah, bagaimana “penampakan” B Channel di satelit?

Awalnya B Channel disiarkan melalui Apstar 6 (kalau tidak salah) dengan nama TVN~1 (TV Nusantara, pusat teknis B Channel). Beberapa waktu kemudian B Channel memulai siarannya di satelit Palapa D. Saya lupa namanya, tapi kalau tidak salah masih pakai nama TVN juga. Di kedua satelit ini ternyata B Channel tidak memasang logonya. Bisa dibilang wajar kalau B Channel tidak memasang logo di satelit FTA karena dari satelit FTA inilah siaran TV lokal di jaringan B Channel ini berlangsung. Jika ada logo B Channel di sana, maka antara logo TV lokal dengan logo B Channel akan bertumpukan. Dan B Channel tidak menggunakan teknik seperti SINDO TV yang logonya ditutupi dengan kotak oleh TV lokalnya.

Itu “penampakan” B Channel di satelit FTA. Nah, bagaimana tampilan yang kita lihat ketika kita menonton B Channel di TV berbayar?

Ternyata, tidak ada bedanya. Awalnya saya berfikir bahwa tampilan B Channel di TV berbayar (TelkomVision dan sekarang juga di aora) akan berbeda dengan satelit FTA karena ini adalah TV berbayar, sehingga B Channel bisa “dijual” dengan optimal. Selain nama channel yang tidak menggunakan TVN, B Channel juga bisa memasang logo karena tidak mungkin rasanya TV lokal akan menggunakan TV berbayar untuk merelay siaran sentral. Jadi, mestinya ada logo B Channel di situ.

Jadi, di FTA, B Channel tidak ada logonya dengan nama TVN. Sedangkan di TV berbayar, B Channel juga tidak ada logonya dengan nama B Channel.

Ketika saya menonton B Channel dari Palapa awal tahun ini, akhirnya saya menyimpulkan bahwa B Channel adalah “ibukota” bisnis, sedangkan “ibukota” teknis adalah TVN. Dengan kata lain, B Channel bukan sentral dari siaran, karena B Channel merelay siaran TVN dari Cikarang, Bekasi. B Channel adalah sentral kegiatan bisnis jaringan ini. Maka, induk dari jaringan ini adalah TVN di Bekasi.

Kasta

Sekedar pendapat saja. Ini urutan yang saya buat dari melihat hasil akhir yang diinginkan pemerintah.

Untuk saya, kasta tertinggi TV kita ada di TV lokal, karena menyentuh langsung masyarakat di daerah. TV-TV ini lebih banyak punya semangat kelokalan yang tinggi.
Kasta selanjutnya adalah TV berjaringan, karena TV jenis ini tidak sepenuhnya menyentuh masyarakat suatu daerah, tapi kumpulan beberapa daerah. Walaupun demikian, tetap menyentuh masyarakat di daerah dan masih punya semangat kelokalan.
Kasta terendah adalah TV nasional. Kalau yang ini alasan saya adalah karena mereka tidak mau menuruti pemerintah. Padahal kalau TV-TV ini mau mengikuti peraturan pemerintah TV-TV ini pasti bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, TV-TV ini membuat masyarakat “penasaran” dengan wajah Jakarta, dan akhirnya datang ke Jakarta dengan “nekat” dan ujung-ujungnya hanya membuat Jakarta makin penuh sesak. Mereka ke Jakarta karena melihat “keindahan” Jakarta yang akhirnya melunturkan kebanggaan mereka terhadap daerah asalnya.

Tapi secara umum, kasta yang saya buat ini justru kebalikan dari kasta yang ada di masyarakat.
Masyarakat Indonesia kebanyakan menganggap kasta tertinggi TV di Indonesia adalah TV nasional karena dianggap memiliki kualitas yang lebih baik. Acara-acaranya punya kualitas yang jauh lebih unggul dan menarik dibanding TV lain. Kebanyakan masyarakat juga lebih bangga dengan TV nasional ketika ditanya orang “suka nonton apa?” karena dianggap telah memilih TV yang bagus.
Kasta kedua adalah TV berjaringan karena menyiarkan konten dari Jakarta dan lokalnya sedikit sehingga dianggap tidak “menurunkan” kualitas siaran dari pusat.
Kasta terakhir ada di TV lokal karena dianggap kualitasnya belum mampu bersaing dengan TV dari Jakarta. Padahal TV-TV lokal ini lebih banyak bersentuhan langsung dengan masyarakat. Hanya memang kelemahan TV-TV ini adalah modal yang kurang dan berujung pada kualitas program yang kurang bisa bersaing

Begitulah sekadar pendapat dari saya.

Ulang Tahun METRO TV 2011

Televisi berita pertama di Indonesia, METRO TV, berulang tahun ke-11 pada 25 November 2011 ini. METRO TV mengambil tema bahari dengan mengusung tagline “Menuju Indonesia Gemilang”

METRO TV melangsungkan acara puncak ulang tahunnya di Djakarta Theatre. Di sana, METRO TV menyajikan konsep yang lumayan berbeda karena bisa menggabungkan tradisi Indonesia dan budaya modern. Selain itu, materi yang diberikan juga memberikan kebangaan dan optimisme kita sebagai orang Indonesia. Walaupun ada juga TV lain yang melakukan hal yang sama, tapi hal itu tidak terlalu nampak dan tidak terlalu kuat.

Sayangnya, penyajian acara ini kurang menarik bagi anak muda. Ya mungkin memang tujuan utama acara ini adalah untuk mereka yang lebih dewasa. Tapi tetap saja kurang greget dan kurang “wah”. Selain itu, panggungnya juga berukuran kecil. Tapi ukuran panggung ini memang sesuai dengan materi yang dibawa METRO TV. Lainnya, pengarahan jelek. Ada banyak pengambilan gambar yang tidak sesuai dan tidak pas. Hasilnya, kadang yang menyanyi juga tidak terambil gambarnya. Terakhir, jadwalnya tidak sesuai. Di website, jadwal yang ditulis menginformasikan bahwa acara dimulai 19:05. Tapi acara dimulai 19:04. Selain itu, acara baru berakhir di jam 22:00. Tapi di jadwal acara ini sebenarnya hanya diberi jatah 1 jam sampai 20:00. Setelahnya, ada Suara Anda, Top Nine News, dan seterusnya.

Untuk ulang tahun METRO TV ini, dari 0 – 10, saya beri 7.

Apakah acara ulang tahun METRO TV ini bisa masuk nominasi kategori panggung besar ATVDN 2011? Kita lihat saja nanti Desember, ketika semua TV sudah berulang tahun hehehe

Closing Ceremony of The 26th SEA Games, Jakarta-Palembang, Indonesia

Setelah 11 hari (atau lebih, karena sepakbola sudah dimulai sebelum upacara pembukaan), akhirnya South East Asian Games (SEA Games) ke-26 berakhir. Berakhirnya pesta olahraga terbesar se-Asia Tenggara ini ditandai dengan sebuah upacara penutupan yang besar.

Kali ini KOMPAS lebih menekankan sebuah perayaan, sehingga acaranya tidak dibuat se-“wah” pembukaan. Tapi harus saya akui bahwa acara ini benar-benar luar biasa, dengan catatan.

Secara alur cerita acara ini sangat luar biasa, seakan benar-benar menggambarkan sebuah perpisahan yang berat dilakukan, namun harus dilakukan karena kita harus melaksanakan SEA Games berikutnya di Myanmar. Tata urutan acara ini sangat bagus, terbukti dari banyaknya apresiasi yang ditulis di berbagai sosial media. Sepertinya tidak perlu diragukan lagi, untuk urusan seperti ini, KOMPAS bisa diandalkan.

Secara teknis, semua boleh dibilang berjalan lancar, dan sangat pantas untuk mendapat gelar “acara besar”. Sayangnya ternyata tetap saja hujan (walaupun tidak deras karena katanya pawang hujan sudah ditambah 2 lagi). Tapi ini tidak menghalangi jalannya upacara penutupan ini. Hanya saja, saya agak sedikit menyesal melihat artis-artis yang tampil menyanyi di sana di bagian akhir kebanyakan lipsync. Penyanyi yang bernyanyi langsung hanya penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu yang berkaitan dengan skenario dari cerita yang ingin dibuat oleh KOMPAS. Setelah lepas dari skenario, bermunculanlah penyanyi dan band lipsync. Andaikan ini bukan acara yang disiarkan ke 11 negara tentu tidak menjadi masalah. Tapi, itulah masalahnya.

Namun sekali lagi acara ini sangat-sangat luar biasa. Tampilan grafis acara ini benar-benar berteknologi tinggi. Akhirnya mikrofon yang digunakan untuk pidato bisa lancar. Kembang apinya? Jangan ditanya, luar biasa juga. Jadi, kesimpulannya, 2 acara ini (opening dan closing SEA Games) memang luar biasa, tidak ada duanya untuk tahun ini. Andaikan KOMPAS ini bukan content provider, saya bisa ikutkan acara ini di ATVDN tahun ini.

Lanjut ke broadcaster acara ini. Kita mulai dari yang sudah berjuang memperoleh lisensinya, yaitu MNC dengan RCTInya. Sepertinya RCTI tetap dengan format yang kemarin, memasang iklan di tengah acara yang jarang mampir ke negara ini (karena harus digelar bergiliran di 11 negara). Jadi, tetap saja (untuk saya) tidak menyenangkan. Namun ada satu perbaikan yang cukup, yaitu RCTI tidak menunda bagian puncak dari acara ini. Sebelumnya pada upacara pembukaan RCTI sedikit menunda bagian puncak dari pembukaan itu (yang kebetulan adalah bagian akhir dari acara). Mungkin karena puncak dari acara ini bukan bagian akhir, tapi bagian tengah, jadi penyiarannya tidak bisa ditunda. Kesimpulannya, di tengah acara ini tidak ada yang berubah. Tapi dalam hal penyiaran bagian puncak acara, ada peningkatan (walaupun sedikit).

Berikutnya, TVRI. Sayangnya saya tidak bisa menonton acara ini sejelas ketika pembukaan karena operator TV berbayar yang saya gunakan, aora, “tidak diijinkan” menyiarkan acara penutupan ini oleh INDOVISION, si empunya lisensi. Alhasil, aora harus menutup sementara siaran TVRI dengan program pengganti. Mungkin itu juga yang terjadi di TelkomVision dan operator TV berbayar lain yang tidak berada di bawah naungan MNC. Tapi beruntunglah sinyal TVRI di wilayah Malang Raya cukup baik. Menurut saya, seharusnya TVRI “kebal” terhadap kejadian yang seperti ini karena TVRI adalah TV publik yang merupakan bagian dari negara, dan menjalankannya juga pakai uang rakyat (namanya juga TV publik), maka seharusnya masyarakat bisa mendapatkan siaran TVRI secara bebas di semua platform. Saya jadi sedikit heran, kenapa hanya closingnya saja yang tidak boleh, sementara semua pertandingan utama (termasuk sepakbola) dan pembukaannya tetap “diijinkan”. Kalau ada yang punya hipotesis atau jawabannya, boleh didiskusikan.

Kali ini TVRI dalam hal komentar acara menggunakan teknik yang sedikit berbeda. Teknik kali ini lebih mengarah ke dialog. Walaupun begitu, arah pembicaraan dialog kali ini tetap tidak melenceng jauh dari acara penutupan dan mengupas tentang SEA Games 27 di Myanmar nanti. Ini sebuah poin yang bisa dijadikan nilai tambah untuk TVRI. Selain itu, TVRI juga konsisten menyiarkan acara ini tanpa iklan. Inilah kelebihan TVRI dari TV lain. Jadi untuk saya, TVRI tetap menang kalau melawan RCTI. Apalagi di malam penutupan kemarin kejadian luar biasa (semua pemirsa TV di rumah menyaksikan TVRI) terjadi lagi. Jadi dugaan saya (sedikit yang menonton acara ini melalui RCTI) terjadi lagi di lingkungan sekitar saya.

Terima kasih untuk KOMPAS dan Kompas Gramedia Production yang sudah membuat acara pembukaan dan penutupan SEA Games, yang untuk saya telah menjadi acara terbaik di tahun ini, yang tidak ada duanya. Terima kasih juga untuk TVRI yang sudah menyiarkan acara pembukaan dan penutupan secara penuh tanpa iklan. Dan untuk RCTI, terima kasih juga sudah menyiarkan acara pembukaan dan penutupan. Dan untuk penyelenggara SEA Games 26 Jakarta-Palembang, terima kasih sudah melaksanakan pesta olahraga ini dengan baik (walaupun sempat terbayangi penundaan pelaksanaan, tapi ini semua sudah bagus). Terakhir, untuk atlit Indonesia, dan untuk masyarakat Indonesia, seperti kata Rita Subowo, “selamat! Kita juara umum!”

Ketika TV Menyiarkan “Opening Ceremony of The 26th SEA Games”, Palembang, Indonesia

Menyenangkan rasanya melihat Indonesia bisa menyelenggarakan acara yang luar biasa setelah perayaan 1 Abad Kebangkitan Nasional pada 2008 lalu, yang lisensinya didapatkan TRANS Corp. dan disiarkan di seluruh TV nasional. Tahun ini, Indonesia punya acara Upacara Pembukaan SEA Games ke-26 yang berlangsung di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang.

Saya harus sampaikan apresiasi tertinggi saya kepada Kompas Gramedia Production dan KOMPAS Content Provider yang telah membuat acara yang luar biasa megah itu. Konsep acara yang mereka desain sangat luar biasa dan saya yakin acara ini bisa mengangkat citra Indonesia di mata internasional, setidaknya di tingkat ASEAN. Katanya, acara ini disiarkan di 30 TV di 11 negara. Jadi, benar-benar berhasil mengangkat citra Indonesia di ASEAN.

Sayang saya belum bisa bilang acara ini sempurna. Saya tidak bisa menyalahkan cuaca untuk ketidak-sempurnaan itu. Tapi, yang bekerja di bagian switch kamera kurang “sensitif” dengan kondisi di lapangan. Sebenarnya api obor itu sudah mati di jalan. Ya setidaknya kamera yang bisa terbang bebas itu dikendalikanlah supaya tidak terlalu dekat dengan si pembawa obor, atau ganti saja ke kamera lain yang mengesankan obor itu menyala.
Yang kedua, masalah obor lagi. Ketika Susi Susanti terbang membawa obor itu, ternyata obor itu mati lagi. Herannya, bagian pengarah dan pengganti tetap menggunakan kamera yang sama. Andaikan obornya menyala dan semua berjalan lancar memang akan bagus. Tapi kan sudah kelihatan kalau obornya mati, mestinya diganti saja dengan kamera lain. Setidaknya tidak akan terlalu nampak kalau Susi Susanti tidak berhasil melempar obornya ke arah yang benar.

Tapi sekali lagi saya salut dengan apa yang sudah dilakukan oleh panitia. Di bagian pembuka sampai tengah acara boleh dibilang tidak ada gangguan. Acara, jangan tanya, banyak apresiasi yang mengalir (walaupun ada juga yang salah mengalamatkan apresiasi itu). Tapi, saya berharap nanti kalau ada pidato penutupan, mikrofon yang digunakan untuk pidato bisa menyala dengan benar, tidak seperti kemarin.

Sekarang, mari kita beralih ke TV yang menyiarkan Upacara Pembukaan SEA Games ke-26

Kita mulai dengan yang sudah “berjuang” memenangkan hak siar SEA Games, MNC Group dengan RCTInya. Saya berharap RCTI bisa menjaga kepercayaan pemirsanya dengan tidak menyiarkan iklan di tengah acara itu. Tapi ternyata tidak. Hanya beberapa saat setelah Indonesia Raya, muncullah iklan di layar si Rajawali. Kalau sudah canggih, pendeteksi jumlah penonton TV itu pasti akan menunjukkan grafik penurunan yang tajam segera setelah iklan dimulai. Benar-benar mengecewakan, seperti yang biasa saya rasakan kalau menonton acara seperti ini di RCTI.

Parahnya, ternyata RCTI menunda penayangan bagian akhir dari acara itu. Walaupun ditunda sekitar 3 atau 4 menit (atau mungkin lebih), tapi tetap diberi label “LANGSUNG”. Saya heran, bagaimana bisa ada TV yang siaran dengan cara yang seperti ini. Tapi itulah masalahnya, memang ada TV yang siaran dengan cara ini. Kekecewaan saya berganda lagi.

Tapi untunglah sejak awal saya merencanakan untuk menyaksikan acara ini di TVRI. Memang tidak salah kalau saya mencintai TVRI (untuk penyiaran acara seperti ini). Dengan parabola berbayar yang saya miliki, makin menyenangkan untuk menyaksikannya karena gambarnya cukup jelas karena sinyal yang baik (ya walaupun gambarnya pecah, piksel gambarnya tidak serapat di RCTI).

Seperti biasa, yang namanya TVRI, seperti “TV negara” yang ada di negara berkembang, akan ada banyak komentar yang disampaikan. Tapi komentar yang disajikan pada malam itu sangat sesuai dengan yang harus disampaikan. Tidak seperti komentar di RCTI yang berbentuk dialog dan sedikit “ke sana kemari”. Yang menyenangkan lagi, TVRI tidak menyiarkan iklan (seperti biasanya). Saya yakin sekali kalau alat pendeteksi penonton yang canggih itu ada, grafik penonton TVRI pada malam itu akan meningkat tajam sebagai imbas dari iklan yang ada di RCTI. Bahkan ketika saya harus keluar rumah sebentar dengan terpaksa karena sesuatu hal, saya melihat TV tetangga yang biasanya menayangkan sinetron itu berubah menjadi pembukaan SEA Games. Tidak ada yang menonton RCTI, semua menyaksikan melalui TVRI. Sebuah pemandangan yang luar biasa yang akan jarang sekali saya temukan pada malam lain ketika tidak ada acara besar seperti ini.

Jadi, bisa dibilang TVRI menang pada malam itu. Dan bagi pemasang iklan dan RCTI sendiri, sepertinya malam itu adalah malam yang terhamburkan, karena hampir tidak ada yang melihat RCTI. Kesimpulannya, RCTI hampir tidak dapat penonton, dan yang memasang iklan juga hampir tidak mendapat manfaat dari memasang iklan pada malam itu.

Demikian. Mari kita tunggu kejutan apa yang akan muncul di Upacara Penutupan SEA Games Ke-26 pada tanggal 22 November nanti.

KOMPAS HD

Dengan diluncurkannya aora HD, maka KOMPAS yang sejak awal ingin “bermain” di HD memulai siarannya.

Selamat untuk KOMPAS yang menjadi stasiun domestik pertama yang bersiaran dengan teknologi HD!

Ya… Sayangnya memang channel HD ini baru tersedia di Jabodetabek saja. Saya yang di Malang sini ya belum bisa ikutan nonton hehe. Menurut Pak Apni, Senior Production Manager KOMPAS, dengan dimulainya siaran HD di aora yang juga membawa KOMPAS sebagai salah satu channel, maka kualitas siaran KOMPAS akan setara dengan sistem blueray (1080p).

Dengan begini, lengkaplah sudah seluruh kualitas KOMPAS. Mulai dari kualitas program hingga sekarang kualitas teknis. Dengan HD, KOMPAS sekali lagi menjadi channel pertama dengan teknologi HD di Indonesia. Selamat untuk KOMPAS!

Refrensi:
Tweet Pak Apni Jaya Putra (@Apni), Senior Production Manager KOMPAS